
“Apa yang kau lakukan di sana? Cepat bereskan mayat wanita yang ada di penjara ujung sana!” teriak seorang pria berbadan gemuk dengan tato di sekujur tubuhnya. Pria itu berdiri dengan kedua tangan diletak di pegang. Tatapannya melihat Walter sangat sepele. Seolah-olah dia yang paling hebat di sana. Padahal mungkin, dengan satu tendangan Walter saja. Dia sudah bisa di buat terpental oleh Walter.
"Aku akan memberimu pelajaran," gumam Walter di dalam hati. "Siapa wanita di ujung sana? Kenapa semua wanita yang ada di dalam lorong ini rata-rata wajahnya mirip dan penampilannya juga sama. Pria mana yang sudah dengan tega melakukan semua hal ini?"
"Apa kau tuli?" ketus pria itu lagi ketika Walter tidak memberikan jawaban.
"Baik, Tuan," jawab Walter dengan suara disamarkan. Walau tidak banyak, tetapi Walter memiliki kemampuan meniru suara orang lain.
"Cepat menyingkirlah dari sana!"
Walter memandang ke depan. Dia sangat ingin memeriksa wanita yang kini sedang menunduk di hadapannya. Tetapi, penyamaran ini juga penting. Walter tidak mau sampai ketahuan. Ya, kalau memang benar wanita di depannya ini adalah Rosita. Kalau gak? Bagaimana caranya dia akan bertemu dengan Rosita lagi jika sampai ketahuan?
“Baik, Tuan,” jawab Walter. Ia memutar tubuhnya dan berjalan ke arah lorong yang di tunjuk. Pria itu memandang ke samping lagi tepat ke wanita yang ia pikir adalah Rosita. Sayangnya wanita itu tidak juga memandang wajah Walter hingga akhirnya Walter menjauh dari tempat tersebut.
Walter berhenti di depan penjara yang pintunya sudah terbuka. Pria itu menutup hidungnya dengan tangan karena bau busuk itu sungguh menyengat hidungnya. Sekejamnya Walter, dia tidak pernah mau melukai wanita. Di lorong bawah tanah ini, hampir rata-rata tawanannya perempuan. Pria seperti apa yang sudah tega melakukan semua ini? Seperti itu yang sekarang dipikirkan Walter.
Dia mengeryitkan dahi ketika melihat anak buahnya sudah berhasil masuk ke lorong dengan cara menyamar juga. Kali ini Walter merasa terbantu. Ia memberikan kode agar bawahannya yang mengurus mayat wanita itu sedangkan dia sendiri kembali ke tempat wanita yang ia anggap sebagai Rosita.
__ADS_1
Saat Walter sudah ada di depan wanita itu, posisi wanita itu sudah duduk tegak. Ternyata dia bukan Rosita. Kini Walter tidak tahu harus senang atau tidak. Setidaknya wanita yang begitu menyedihkan di hadapannya bukan Rosita. Tetapi, dimana Rosita? Seluruh lorong itu sudah ia telusuri dari ujung ke ujung. Namun, tidak ada kelihatan Rosita di sana.
“Apa mereka sudah membawa Rosita pergi dari tempat ini? Tapi, sejak kapan? Sudah berjam-jam kami mengamati pintu masuk lorong ini tetapi kami tidak ada melihat mereka membawa wanita keluar,” gumam Walter di dalam hati.
“Cepat jalan!” teriakan seseorang membuat Walter memutar tubuhnya ke belakang.
Kali ini, Walter baru di buat marah semarah-marahnya. Wanita yang ia cari kini di dorong seperti binatang dengan tangan diborgol. Rambutnya pendek dan penampilannya sangat menyedihkan. Awalnya Walter terlihat ragu kalau wanita itu Rosita. Ia takut salah orang. Walter memperhatikan wajah kotor wanita itu dengan saksama. Ketika wanita itu mengangkat kepalanya dan memandang Walter. Bibirnya seperti bergerak ingin mengatakan sesuatu. Walter kembali ingat tatapan mata Rosita. Bola mata wanita itu sungguh tidak pernah salah walau kini penampilannya acak-acakan.
“Rosita?” gumam Walter. Ia segera berjalan dengan tangan terkepal kuat. Rahangnya mengeras rasanya ingin sekali dia menghajar pria yang sudah berbuat kasar terhadap Rosita. Sambil berjalan menghampiri Rosita, Walter melayangkan pukulan yang begitu menyakitkan di rahang pria yang sudah menyeret Rosita. Setelah itu Walter menarik Rosita dan memeluknya. Di detik yang sama, Rosita ambruk karena sudah tidak sanggup berdiri. Ia sempat menatap wajah Walter sebelum memejamkan mata.
“Siapa kau?” Pria lain segera menekan tombol untuk memberi tahu tanda bahaya. Pasukan Walter yang sudah ada di dalam segera memberi kode juga kepada pasukan Black Dragon untuk membantu mereka.
Pasukan Black Dragon yang ada di luar berhasil mengalahkan pasukan musuh yang ingin masuk ke dalam. Walter menjadi mudah keluar dari lorong tersebut. Dia memandang ke belakang lagi untuk memastikan tidak ada yang musuh di sana.
“Selamatkan semua tawanan yang ada di dalam!” perintah Walter.
“Baik, Bos,” sahut salah satu bawahan. Ketika mereka ingin melangkah, tiba-tiba terdengar suara ledakan dari dalam. Pasukan itu menahan langkahnya sebelum berlari mundur. “Ada bom!” teriak mereka.
__ADS_1
Walter yang juga panik segera berlari sambil membawa Rosita di gendongannya. Pria itu seperti tidak sanggup berlari karena memang perutnya pernah mengalami operasi. Bukan hanya sekali bahkan berulang kali. Namun, Walter tetap berusaha kuat membawa Rosita ke tempat persembunyian agar tidak terkena bom.
DHOOMMM
Bom itu meledak meratakan lorong bawah tanah. Walter terduduk dengan posisi Rosita di atas pangkuannya. Ia menyingkirkan rambut di wajah Rosita sebelum mematung tanpa kata. Wanita itu kurus dan pucat. Sama sekali tidak terawat. Semua ini terjadi karena Rosita ingin menyelamatkan nyawa Walter.
“Maafkan aku,” ucap Walter.
Pasukan Black Dragon segera menghampiri Walter. Mereka juga ingin memastikan kalau pemimpin mereka baik-baik saja. Ada helaan napas lega ketika mereka melihat Walter baik-baik saja.
“Bos, maafkan kami karena tidak berhasil menjalankan perintah anda. Kita kehilangan dua anggota Black Dragon,” jelas pria itu apa adanya.
Walter hanya bisa memandang arah lorong bawah tanah itu dengan tatapan sedih. Walau Rosita sudah bersama dengannya, tetapi tetap saja Walter tidak akan melupakan masalah ini begitu saja. Dia akan balas dendam untuk membuat sosok yang sudah melakukan semua ini menanggung akibat dari perbuatannya sendiri. Ini semua dilakukan Walter bukan hanya untuk Rosita saja. Tetapi untuk semua wanita yang sudah terperangkap di tempat tersebut.
“Aku ingin bertemu dengan pemimpin mereka,” perintah Walter. “Setelah aku berhasil mengantarkan Rosita ke mansion, kita akan berangkat ke Belanda lagi.”
“Baik, bos.” Mereka semua pergi meninggalkan lokasi tersebut. Walau harus kehilangan anggota, tetapi setidaknya mereka pulang dengan membawa hasil. Seorang Rosita sudah ada di dekapan Walter. Tidak akan ada yang berani menyentuh apa lagi sampai mencelakai wanita itu.
__ADS_1
“Aku akan membayar pengorbananmu ini dengan nyawaku, Rosita ….”