
Ruangan serba putih itu terlihat sangat tenang. Hanya ada suara lirih dari monitor jantung yang terdengar. Suara jarum jam juga tidak terdengar lagi karena kini debaran jantung Walter jauh lebih kuat.
Pria itu merasa ketakutan. Padahal dia sendiri tidak tahu, kenapa bisa takut seperti ini. Apa dia takut kehilangan Rosita? Tapi, untuk apa dia takut? Mereka tidak memiliki hubungan apapun. Rosita hanya sekedar bawahan yang ia pekerjakan karena wanita itu menyukai warna pink. Kalau saja sejak awal Rosita tidak terlihat menyukai warna pink, mungkin detik ini mereka tidak akan bersama.
Samar-samar Walter kembali mengingat perjuangan Rosita untuk mendapatkan penawar racun yang membuatnya kembali bangkit. Apa memang semua sudah takdir? Pertemuannya dengan Rosita bukan sebuah hal yang sia-sia. Wanita itu membawa keberuntungan bagi Walter. Mungkin tanpa adanya Rosita, detik ini Walter tidak ada lagi di dunia ini.
Tadi Walter sempat meminta bawahannya untuk cerita apa yang terjadi setelah ia tidak sadarkan diri. Satu hal yang membuat Walter tersentuh. Rosita sempat menunggu di depan ruang operasi dan terlihat khawatir. Entah kenapa mendengar kabar seperti itu membuat Walter senang. Padahal hanya sekedar ditemani.
Walter juga sudah menerima informasi lengkap mengenai hubungan Alex dan Rosita. Semua hanya jebakan. Hal ini membuat Walter merasa menyesal karena sempat membentak Rosita dan memandang wanita itu sebagai pengkhianat. Dia tahu, pasti saat itu Rosita sangat sakit hati mendengar perkataannya yang begitu menyakitkan.
"Rosita ... jika kau bangun, aku akan membayar semua jasa yang sudah kau berikan padaku. Berapapun itu. Aku tidak akan memandang nominalnya. Berapapun jumlah yang kau minta, akan aku berikan," gumam Walter di dalam hati.
Sebenarnya uang tidak berarti bagi Walter. Selama dia bekerja dengan Fabio, Walter mendapat banyak uang dari berbagai bisnis yang ia kelolah. Pria itu tirai pernah menggunakan uangnya untuk memberi apapun. Uang itu tersimpan rapi di sebuah tempat dalam bentuk emas batangan. Hanya Fabio yang mengetahuinya. Walau mansion yang sekarang ia tempati juga bisa di bilang adalah mansion miliknya. Tapi, entah kenapa Walter ingin membangun istananya sendiri. Hal itu sudah kepikiran sejak Walter bekerja dengan Fabio.
"Tapi, bagaimana kalau dia menyesal sudah bertemu denganku?" Walter memandang ke arah Rosita lagi.
Sudah hampir 12 jam Rosita memejamkan mata. Rasanya sudah seperti bertahun-tahun bagi Walter. Ini sungguh membosankan. Seorang pria seperti Walter tidak suka menunggu. Ia ingin Rosita segera sadar apapun caranya. Sayangnya dokter tidak bisa melakukan apapun selain menunggu Rosita sadar dengan sendirinya.
Selama ini, apa yang dia inginkan selalu bisa ia dapatkan. Tetapi, untuk sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan pria itu tidak memiliki kuasa apapun. Detik ini Walter sadar, kalau di dunia ini ada saatnya kekuatan dan kekuasaan tidak berguna sama sekali.
"Pibi ...." Walter tersenyum simpul membayangkan nama Pibi yang tiba-tiba saja keluar dari bibirnya saat pertama kali dia dan Rosita bertemu.
__ADS_1
Pibi. Nama itu bukan sebuah singkatan. Tetapi memiliki arti yang artinya itu adalah berbakat dan sangat kreatif. Walter sendiri tidak tahu, kenapa dia kepikiran memberikan Rosita nama seperti itu. Entah karena dia terlalu senang melihat penampilan Rosita yang dipenuhi warna pink entah karena hal lain.
Ponsel Walter berdering. Pria itu segera mengambilnya dan menekan tombol hijau yang ada di layar ponsel tersebut. Dia memandang ke arah lain sebelum melekatkan ponselnya di telinga.
"Ada apa? Apa kau sudah berhasil melakukan tugas yang aku berikan?" tanya Walter tanpa mau basa-basi.
"Sudah, Bos. Kapan anda pulang ke mansion?"
Walter terdiam untuk beberapa saat. Memang seharusnya dia sudah pulang ke mansion. Karena terlalu panik, Walter membawa Rosita ke salah satu rumah sakit yang ada di Belanda. Pria itu belum bisa membawa Rosita ke mansion karena keadaannya kritis. Wanita itu membutuhkan penanganan medis secepatnya.
"Secepatnya!"
"Baik, bos." Panggilan telepon berakhir. Walter hanya bisa menghela napas sebelum memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.
Walter mengambil ponselnya untuk mencari informasi tentang keberadaan Dokter Alfred. Seharusnya pria itu sudah tiba. Tetapi entah kenapa sampai jam segini mereka belum sampai juga di rumah sakit.
Ekspresi wajah Walter terlihat khawatir ketika nomor telepon dokter Alfred tidak bisa dihubungi. Tidak biasanya pria itu seperti ini.
Suara pintu yang terbuka secara tiba-tiba membuat Walter kaget bukan main. Salah satu pasukan Black Dragon masuk ke dalam ruangan tersebut dengan wajah panik. Walter memasukkan ponselnya ke dalam saku lagi sebelum beranjak dari sofa.
"Ada apa? Apa kau tidak tahu cara mengetuk pintu!" protes Walter tidak suka.
__ADS_1
"Bos dokter Alphard Bos," ucapnya secara gagap.
"Dokter Alfred? Apa yang terjadi dengan dokter Alfred? Mereka sudah sampai di kota ini?" sahut Walter.
"Dokter Alfred di serang oleh orang yang tidak dikenali."
"Di serang? Dimana?" Walter sama sekali tidak menyangka kalau akan mendapat kabar buruk di waktu yang sama dengan kritisnya keadaan Rosita.
"Di bandara, Bos. Sekarang istrinya dilarikan ke rumah sakit yang ada di dekat bandara," jelas pria itu apa adanya.
"Bagaimana dengan Dokter Alfred?"
"Dokter Alfred baik-baik saja. Karena memang awalnya orang yang ingin di serang adalah Dokter Alfred."
Walter memandang ke arah Rosita. Dia tidak bisa pergi meninggalkan wanita itu sendiri di rumah sakit itu. Walau mungkin pasukan Black Dragon bisa menjaganya, tapi tetap saja Walter tidak tenang. Namun, tidak menemui Dokter Alfred juga bukan keputusan yang tepat. Walter harus memeriksa sendiri sebenarnya apa yang telah terjadi.
"Bos, apa anda ingin menemui Dokter Alfred?" tawar pria itu.
Walter memandang wajah Rosita sekali lagi. Dia terlihat keberatan mengatakan keputusannya. "Tidak! Saya tidak akan meninggalkan Rosita. Saya tidak akan membiarkan Rosita di culik lagi." Walter memandang wajah bawahannya. "Katakan kepada Dokter Alfred kalau aku akan datang menemuinya setelah Rosita sadar."
"Baik, Bos. Saya permisi dulu." Pria itu menunjukkan tubuhnya sebelum pergi meninggalkan Walter.
__ADS_1
Walter kembali duduk di sofa sambil memijat kepalanya. "Siapa yang sudah berani menyerang Dokter Alfred? Dendam apa yang sudah membuatnya berani mencelakai SEO dokter seperti Dokter Alfred? Aku harus tetap waspada. Bagaimanapun juga kini aku berada di negara orang. Wilayah kekuasaan seseorang yang aku sendiri tidak tahu siapa. Sepertinya kami sudah diawasi. Aku jadi semakin tertarik untuk bertemu dengannya secara langsung. Kira-kira sehebat apa dia? Berani sekali dia mengusik ketenangan keluargaku!"