Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 14


__ADS_3

"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud membuat anda marah." Rosita menunduk dengan tangan terkepal kuat. Rasanya dia sudah tidak berani memandang wajah Walter lagi. "Kenapa aku bertanya seperti itu? Kalau sudah seperti ini, sekarang aku harus bagaimana?"


Walter sendiri juga membisu. Pria itu tidak menyangka akan mengatakan kalimat seperti itu di depan Rosita. Belum pernah seumur hidupnya, Walter mengatakan kalimat seperti itu. Isi hatinya yang selama ini dia pendam dan dia kubur dalam-dalam. Bahkan di depan Fabio sekalipun, Walter selalu menyembunyikan kesedihannya. Tetapi kini, di depan wanita asing dia mengatakan semuanya tanpa pikir-pikir.


"Senjata yang mana tadi yang kau gunakan untuk menembak?"


"Senjata?" Kali ini Rosita kembali takut. Debaran jantung yang tadinya mulai tenang kini berubah menjadi tidak karuan. Padahal tadinya dia pikir masalah senjata sudah terselesaikan.


"Apa kau menembak dengan pisau? Aku tidak akan mungkin bangun seperti ini jika tidak ada suara tembakan! Apa kau pikir ruangan itu ruangan yang bebas dikunjungi? Ruangan itu bukan tempat wisata. Jadi, jangan pernah sembarangan masuk ke dalamnya jika kau tidak mau celaka! Sekarang, bawakan aku senjata yang tadi kau gunakan untuk menembak!"


"Baik, Tuan." Rosita memutar tubuhnya dan segera berlari menuju ke ruangan rahasia tersebut. "Apa dia akan menghukumku? Bagaimana kalau senjatanya rusak karena aku pakai?"


Rosita segera mengutip senjata yang tergeletak di lantai. Wanita itu memeriksa detail senjata tersebut sebelum menyerahkannya kepada Walter. Dia ingin memastikan kalau tidak ada bagian yang rusak.


Wajah Rosita berubah pucat ketika melihat ada lecet di bagian ujung senjata. "Bagaimana ini?" Rosita mulai bingung.


"PIBI!"


"Ya, Tuan." Rosita segera berlari keluar sambil membawa senjata tersebut. Ia memberikannya kepada Walter tanpa berani memandang wajah pria itu secara langsung. "Saya tidak sengaja membuatnya rusak. Maaf."


Walter menaikan satu alisnya. Sebenarnya senjata yang digunakan Rosita tidak terlalu penting. Harganya juga tidak terlalu mahal. Tetapi, entah kenapa ada niat di dalam hati Walter untuk mengerjai Rosita. Melihat Rosita ketakutan seperti itu membuatnya hiburan tersendiri bagi Walter.


"Kau tahu, ini senjata antik yang harganya sangat mahal!"

__ADS_1


"Mati aku!" umpat Rosita di dalam hati.


"Kau mau tahu berapa harganya?"


"Maafkan saya, Tuan." Rosita berlutut dengan tangan terkatup di depan. "Saya tidak sengaja. Saya rela melakukan apapun asal anda tidak menghukum saya. Apa lagi sampai mengganti senjata tersebut."


Walter tersenyum melihat ketakutan Rosita. Pria itu lagi-lagi memanfaatkan situasi. "Bahkan kau kerja di perusahaan seumur hidupmu, tidak akan bisa membeli senjata ini. Apa kau tahu?"


"Tuan, maafkan saya. Saya mohon."


Sebelum lanjut ke persoalan ganti rugi. Pandangan Walter beralih ke penampilannya Rosita. Ia tidak suka melihat Rosita mengenakan pakaian selain warna pink.


"Siapa yang menyiapkan baju jelek ini?"


"Warnanya! Apa kau lupa kalau kau harus memakai barang serba pink?"


"Bukankah peraturan itu hanya untuk di perusahaan saja?"


"Peraturan itu berlaku selama kau masih bekerja denganku!"


"Baiklah, Tuan. Kalau begitu saya akan mengganti semua barang yang saya kenakan dengan warna pink. Tetapi, anda harus mengizinkan saya pulang ke apartemen."


"Kau ingin bernegosiasi denganku?" Walter terlihat tidak setuju.

__ADS_1


"Tuan, apa yang anda takutkan? Saya tidak akan kabur. Saya tahu anda memiliki banyak anak buah di sini. Mereka pasti bisa menangkap saya jika saya kabur."


Walter terlihat menimang-nimang permintaan Rosita. Tetapi, akan sulit melihat Rosita berpenampilan serba pink jika mengandalkan bantuan bawahannya. Kini Walter tidak di perbolehkan banyak bergerak. Pria itu tidak mau memikirkan sendiri barang-barang warna pink yang akan dikenakan Rosita.


"Baiklah. Tapi, aku tidak mengizinkanmu pulang ke apartemen." Walter mengeluarkan sebuah kartu dan memberikannya kepada Rosita. "Pergi ke mall dan beli semua yang kau butuhkan. Ingat! Harus warna pink!"


Rosita memandang kartu itu sebenarnya menerimanya. "Baik, Tuan."


Walter meletakkan senjata api ke tempat tidur. "Masalah kita belum selesai soal senjata ini. Jadi, jangan pernah memiliki niat untuk kabur!"


"Baik, Tuan."


"Apa kau bisa nyetir mobil?"


"Saya pernah menyetir mobil tetapi -"


"Bawa mobil warna hitam yang ada di barisan nomor delapan. Walter kembali berbaring dan mencari posisi nyamannya. "Kau hanya memiliki waktu 30 menit dari sekarang!"


"Apa? Hanya 30 menit? Bahkan saya tidak tahu jalan keluar untuk meninggalkan mansion ini, Tuan. 30 menit hanya cukup untuk mencari jalan keluar."


"Ambil peta di laci sana." Walter menunjuk lemari yang tadi ingin di pegang Rosita. Pria itu malas menjelaskan. Lebih baik Rosita melihat dan memahaminya sendiri.


Rosita memutar tubuhnya dan melangkah kakinya dengan cepat. Ia membuka laci yang di tunjuk Walter sebelum mengambil peta yang ada di dalamnya. Tanpa mau menunggu, Rosita membuka peta itu untuk melihat isi di dalamnya. Kedua matanya melebar melihat peta mansion yang begitu rumit dan luas.

__ADS_1


"Apa ini?" pekiknya tidak percaya.


__ADS_2