Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 39


__ADS_3

Fabio membuka kedua matanya secara perlahan ketika ia merasakan pipinya basah. pria itu mengernyitkan dahinya ketika melihat Lara menangis sambil menggenggam tangan kanannya. Wanita itu seperti tidak terima melihat Fabio tidak sadarkan diri seperti sekarang. Dia terus saja mengoceh dan menyalahkan dirinya sendiri. Sampai-sampai tidak sadar kalau suaminya sudah membuka mata.


"Chubby...," lirik Fabio dengan nada yang begitu lembut. Pria itu juga tidak tega melihat istrinya menangis seperti itu.


Lara memandang Fabio. "Kak Bi sudah bangun." Lara segera memeluknya dengan erat. Wanita itu terlihat sedikit tenang ketika melihat suaminya sudah bisa membuka mata. Walter yang juga ada di dalam ruangan itu juga kini mulai bisa bernapas dengan lega. Begitu juga dengan dokter Alfred. Pria itu kini bertugas untuk merawat dan menyembuhkan Fabio sampai pria itu sadar kembali. Bagaimanapun juga, kesehatan keluarga Cassano sudah menjadi tanggung jawabnya. Seburuk apapun keadaannya, dia berperan penting dalam hal kesehatan keluarga Cassano.


Fabio memperhatikan kamar tidurnya. Dia memandang sekali lagi untuk menyakinkan dirinya sendiri kalau memang sekarang dia ada di dalam kamar pribadinya.


"Apa yang sudah terjadi? Kenapa kita bisa ada di mansion? Sejak kapan kita pulang ke mansion?" tanya Fabio bingung. Walau dia tidak tahu apa yang sudah terjadi selama dia tidak sadarkan diri, tetapi setidaknya Fabio ingat kalau terakhir kali dia berada di Belanda. bukan di mansion. Pertarungannya bersama Alex masih teringat jelas. Sulit sekali untuk dilupakan.


"Kak Bi keracunan. Syukurnya Walter berhasil mendapatkan penawarnya. Entah apa yang akan terjadi jika Walter sampai gagal menemukan penawarnya. Aku tidak pernah mempermasalahkan soal keturunan. Tetapi aku tidak yakin Kak Bi tidak akan siap menerimanya. Di dunia ini tidak akan ada yang siap jika di vonis tidak bisa mendapatkan keturunan!" sahut Lara. "Aneh memang. Kenapa racun seperti itu harus ada? Bukankah itu sangat berbahaya? Itu bukan racun yang bisa di buat bahan candaan. Resikonya sungguh besar dan berdampak jangka panjang." Lara masih tidak habis pikir dengan niat jahat Alex. Rasanya dia ingin memakai Alex jika pria itu ada di depannya saat ini.


"Apa maksudnya? Sebenarnya apa yang telah terjadi?" Fabio mengeryitkan dahi dengan wajah bingung.


"Alex Moritz memasukkan racun yang bisa membuat anda tidak bisa memberikan keturunan kepada Lara. Sebelum racunnya bekerja di dalam tubuh anda, kita lebih dulu memasukkan penawarnya. Saya harap penawarnya bekerja dengan baik. Dengan begitu tidak ada lagi sisa racun di dalam tubuh anda dan semua akan baik-baik saja," jelas Dokter Alfred.

__ADS_1


"Alex Moritz memang tidak bisa dibiarkan hidup. Pria itu tidak akan pernah berhenti untuk mengganggu Rumah tanggaku. Dia akan terus saja memikirkan cara agar bisa merusak pernikahanku dengan Lara," jawab Fabio dengan geram.


"Kak Bi nggak perlu marah-marah lagi. Dia sudah ditangkap polisi dan masuk ke dalam penjara. Walau aku sendiri tidak yakin berapa lama dia ada di dalam jeruji besi tersebut. Tetapi setidaknya untuk saat ini kita aman. Kita tidak perlu memikirkan dia lagi," jawab Lara. Wanita itu berharap suaminya bisa melupakan Alex Moritz dan tidak membahas nama pria itu lagi.


Walau saat ini Lara sudah berhasil melupakan kenangannya dengan Alex. Tetapi tetap saja setiap mendengar nama pria itu ada luka di dalam hatinya yang kembali terbuka dan membuatnya menjadi sakit hati.


"Apa dia di penjara di Belanda?" tanya Fabio ingin tahu.


"Benar Bos. Pria bernama Robert itu telah tewas. Saya menjadikan Alex sebagai tersangka. Bukankah pria itu sudah tidak bisa membela Alex lagi? Saya meletakkan semua bukti kejahatan di tangan Alex. Dengan begitu hukuman Alex dijamin sangat berat. Dia tidak mungkin akan bebas dalam waktu dekat ini sebesar apapun uang yang ia miliki. Keluarga Robert juga bukan orang biasa. Mereka pasti akan memberikan Alex hukuman yang seberat-beratnya."


Fabio terlihat bahagia mendengar kabar ini. "Kau memang selalu bisa diandalkan Walter." Fabio memandang ke arah dokter Alfred yang kini menunduk dengan wajah sedih. Pria itu benar-benar kehilangan semangat hidupnya. Padahal biasanya ketika suasana menjadi melow seperti ini, dokter Alfred selalu memiliki ide untuk mencairkan suasana agar bisa kembali hidup. Pria itu terlihat seperti orang mati walau raganya masih hidup. Kehilangan pasangan hidup memang begitu menyakitkan.


Dokter Albert menggeleng. Pria itu mengangkat tangannya dan menghapus air mata yang tiba-tiba saja memenuhi kelopak matanya. "Hanya kalian keluarga yang saya miliki sekarang. Jika anda mengusir saya dari tempat ini, kemana lagi saya harus pergi? Saya tidak memiliki siapa-siapa lagi saat ini."


Walter tersentuh mendengar jawaban Dokter Alfred. Pria itu mengangkat tangannya dan menepuk pundak dokter Alfred.

__ADS_1


"Bos Fabio tidak memiliki niat yang jelek. Dia hanya ingin anda istirahat di rumah. Tetapi jika anda tidak sanggup untuk pulang ke rumah, Anda bisa istirahat di mansion ini. Bahkan tinggal di mansion ini semau yang anda inginkan. Tidak akan ada yang melarang anda karena anda juga bagian dari keluarga Cassano," jawab Walter. Selama ini pria itu tidak ahli dalam membujuk. Entah kenapa melihat dokter Alfred sedih seperti itu tiba-tiba hatinya tergerak dan bisa mengeluarkan kata-kata bujukan seperti itu.


"Apa yang dikatakan Walter benar. Kami tidak memiliki niat jelek terhadap kau Alfred. Kami keluargamu. Sedihmu akan membuat kami sedih juga. Begitu sebaliknya. Jika kau bahagia kami juga akan ikut bahagia," sahut Lara.


"Aku ingin pergi ke kamar untuk istirahat. Habiskan obatnya. Besok kita akan ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Kita juga harus memastikan kalau racun itu memang benar-benar sudah tidak ada di dalam tubuhnya," jawab Dokter Alfred dengan wajah tidak bersemangat. Pria itu pergi dari kamar tersebut tanpa mau mengatakan apapun lagi.


"Saya permisi bos," pamit Walter. Pria itu juga ingin segera melihat keadaan Rosita di dalam kamarnya. Dia juga tidak mau berlama-lama ada di dalam kamar pribadi Fabio dan Lara.


Setelah kamar itu sunyi, Fabio menarik tangan Lara hingga wanita itu duduk di samping Fabio. "Ada apa Kak Bi? Kak Bi masih sakti," ucap Lara dengan pipi merona.


"Apa yang kau pikirkan sayang? Aku hanya ingin bertanya sesuatu. Saat di Belanda apa ada orang yang ingin mencelakaimu? Aku sempat mendapat kabar kalau seseorang telah memberimu racun."


"Aku baik-baik saja. Black Dragon menjagaku dengan begitu baik," jawab Lara.


"Baguslah." Fabio menarik tangan Lara agar wanita itu mendekat. "Apa kau bisa lebih dekat lagi? Aku ingin mencium istriku."

__ADS_1


Lara tersipu malu sebelum bergeser agar bisa dekat dengan wajah Fabio. Wanita itu juga sangat merindukan suaminya. Melihat Fabio bisa bertingkah seperti ini lagi membuat Lara memiliki semangat baru.


"Kak Bi, aku mencintaimu ...."


__ADS_2