Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 56


__ADS_3

Walter mengajak Rosita ke sebuah restoran yang letaknya di atas gedung. Suasana malam yang cerah membuat restoran itu ramai dikunungi. Rosita terlihat sangat bahagia ketika di ajak ke tempat romantis dan mewah seperti itu. Namun, karena letaknya di lantai 20. Angin di sana bertiup dengan sangat kencang dan dingin. Malam ini Rosita memilih gaun yang bagian punggungnya terbuka. Wanita itu harus berulang kali mengusap lengannya sendiri karena kedinginan ketika Walter tidak memandangnya. Rosita tidak mau membuat Walter kecewa dan menggagalkan makan malam mereka kali ini.


“Silahkan, Nona.” Seorang pelayan pria menarik kursi untuk Rosita. Pelayan lainnya juga melakukan hal yang sama terhadap Walter. Mereka berdua duduk saling berhadapan. Pelayan itu memberikan buku menu sebelum berdiri dan menunggu pesanan Walter dan Rosita.


Pertama kali membuka buku menu itu, Rosita sudah dibuat tercengang melihat harganya. Dia tahu, Walter pasti tidak akan keberatan jika dia memesan makanan yang mahal sekalipun. Tetapi, entah kenapa masih ada rasa segan di hatinya walau sebentar lagi Walter akan menjadi suaminya. Rosita juga tidak mau terkesan memanfaatkan situasi karena dia akan menjadi istri Walter.


“Aku pesan ini dan minumannya ini,” tunjuk Walter pada makanan dan minuman yang sudah menjadi favoritnya. Pria itu memandang Rosita yang masih bergelut dengan pikirannya sendiri. Dia membuka buku menu ketika sampai halaman terakhir, dia membuka di awal lagi. Begitu seterusnya sampai akhirnya Walter tertawa melihat tingkah laku calon istrinya.


“Kau bingung? Mau aku bantu?”


Rosita meletakkan buku menu kembali ke meja. Sebenarnya semua menu yang ada di buku itu semua enak dan Rosita sangat menyukainya. Yang paling penting, tidak ada yang mengandung seafood. Rosita bisa makan makanan apa aja yang di jual di restoran itu.


“Aku pesan makanan yang sama dengan Kak Walter saja,” ucap Rosita malu-malu.


Walter tertawa lagi. Bersama Rosita dia jadi pria yang begitu periang. Walter menunjuk beberapa menu yang cocok untuk Rosita. Jika Rosita memakan makanan yang sama seperti yang dia pesan, Rosita tidak akan kenyang. Walter juga tahu bagaimana selera wanita karena selama ini dia yang mengurus makan malam romantis Fabio dan Lara.


“Mohon di tunggu, Tuan,” ucap pelayan yang ada di sana. Seorang koki membawa makanan pembuka sembari menunggu makanan utamanya selesai di masak dan dihidangkan. Walter mengambil minuman yang disediakan. Dia mengambil gelas itu dan mengajak Rosita untuk bersulang. Dengan senang hati Rosita menerima tawaran Walter. Wanita itu mengangkat gelasnya dan bersulang.


“Ini seperti yang di film-film,” ujar Rosita sambil tertawa bahagia.

__ADS_1


“Film?” Walter meletakkan gelasnya kembali ke meja.


“Ya. Film romantis. Kak Walter pasti tidak tahu karena Kak Walter tidak suka menonton televisi. Apa lagi bioskop. Mana mungkin Kak Walter memiliki waktu untuk melakukan kegiatan tidak berguna seperti itu,” ledek Rosita.


“Ya. Kau benar. Aku tidak pernah bahkan tidak tahu bagaimana keadaan di dalam bioskop. Di mansion sudah ada bioskop mini. Tetapi, bioskop itu tidak terpakai sampai sekarang. Mungkin sebentar lagi akan di tutup karena ruangan itu tidak berguna.” jawab Walter.


“Kak, Bioskop di mansion sama bioskop di mall-mall beda.”Rosita meneguk minumannya lagi dengan sedotan.


“Dimana bedanya? Bukankah film yang diputar sama saja?”


“Kalau di mansion, jika filmnya sedih kita aka sedih sendirian. Filmnya lucu kita akan ketawa sendirian. Tidak ada orang iseng yang lempar popcorn.”


“Kak, berhentilah berpikiran negatif. Belum tentu musuh yang kita pikiran selalu mengikuti kita, kini ada di dekat Kak Walter. Bisa saja sebenarnya saat ini kita dalam keadaan aman. Tetapi, karena pikiran kita seperti itu. Maka kita selalu merasa di awasi oleh seseorang secara diam-diam.” Rosita memegang tangan Walter dan mengusapnya lembut. “Memberi ketenangan kepada diri sendiri juga penting, Kak. Kakak tidak harus memaksakan diri melakukan sesuatu yang membuat tubuh dan pikiran kak Walter selalu lelah. Bukankah sebentar lagi kita mau menikah? Sebelum kita menikah, aku ingin Kak Walter berdamai dengan diri kakak sendiri. Tidak lagi ada dendam kepada siapapun dan tidak ada niat untuk mengalahkan siapapun.”


Walter tersenyum mendengarnya. “Baiklah. Jika itu yang kau inginkan. Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan asal kau bisa tersenyum seperti ini, Pibi.”


“Pibi itu artinya berbakat, cerdas dan sangat kreatif. Apa dimata Kak Walter aku seperti itu sejak pertama kali kita bertemu?” tanya Rosita penasaran.


“Pink baby. Itu karena kau menyukai warna pink. Jadi aku menjulukimu dengan sebutan itu. Tidak ada kepikiran kalau aku memujimu sejak awal bertemu dulu. Kau wanita yang begitu menyebalkan Pibi. Apa kau ingat?” jawab Walter apa adanya.

__ADS_1


Rosita semakin terkekeh geli mendengarnya. Dia mengangguk mengakui kalau memang sebenarnya dia wanita yang sangat menyebalkan ketika mereka pertama kali bertemu waktu itu. Rosita yang memang niat awalnya menjebak Walter pada akhirnya justru terjebak dan terikat selamanya dengan Walter.


“Selain aku. Apa kau pernah menjalin hubungan dengan pria lain?” tanya Walter penasaran. Entah kenapa bibirnya menanyakan pertanyaan konyol seperti itu. Padahal setelah dia menyebutkan pertanyaan itu, ada rasa menyesal di dalam hatinya. Seharusnya Walter tidak perlu mengusik masa lalu Rosita karena itu hanya akan membuat Rosita kembali ingat dengan masa lalunya.


“Ada. Tapi, tidak sampai pacaran. Hanya dekat saat di bangku SMA. Setelah tamat sekolah, dia pergi ke luar negeri dan kami putus komunikasi.” Rosita menatap wajah Walter dengan mata menyipit. “Bagaimana dengan Kak Walter? Aku ini wanita ke berapa?” Tentu saja dia juga ingin mengajukan pertanyaan yang sama kepada Walter. Dia juga ingin tahu. Sebenarnya dia ini wanita keberapa yang dekat dan di cintai oleh Walter. Apa benar dia adalah wanita pertama di hati Walter?


“Sebenarnya aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu, Pibi. Kau pasti sudah tahu kalau kau adalah wanita yang pertama kali membuatku jatuh cinta,” jawab Walter dengan penuh percaya diri.


“Lalu, bagaimana dengan Greta?”


Walter membatu mendengar nama Greta. Dia tidak menyangka kalau Rosita bisa tahu soal Greta. Padahal Walter merasa yakin, kalau tidak ada petunjuk apapun yang membuat Rosita bisa tahu tentang Greta.


“Kau tahu darimana?”


Rosita berdehem pelan. Suasana menjadi aneh ketika dia menyebut nama Greta. “Dokter Alfred. Dia bilang kalau Greta satu-satunya wanita yang pernah dekat dengan Kak Lara dan juga Kak Walter.” Rosita menunduk merasa bersalah. “Aku tidak bermaksud membuat Kak Walter ingat dengannya. Aku hanya ingin tahu. Sespesial apa Greta di hati kak Walter.”


“Kami hanya berteman. Tidak lebih!” jawab Walter. Sebenarnya yang membuat Walter malas membahas masalah Greta bukan karena perasaan. Tetapi, karena dia kasihan dengan Greta. Wanita itu sudah mengorbankan nyawanya tetapi kakak kandungnya tidak juga berubah menjadi jauh lebih baik. Walter merasa kalau pengorbanan Greta sia-sia saja.


Beberapa koki datang membawa pesanan Walter. Mereka tersenyum ramah dan menata makanan yang mereka bawa di meja. Rosita memandang ke arah makanan itu lalu tersenyum manis. Dia juga tidak mau membahas soal Greta lagi. Ekspresi wajah Walter yang berubah membuatnya jadi merasa bersalah. “Benar kata Dokter Alfred. Jangan pernah membahas soal Greta di depan kak Walter. Kenapa aku tidak menuruti perkataan Dokter Alfred,” umpat Rosita di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2