
DUARRRR
Walter berdiri dengan senjata api di tangannya. Pria itu terpaksa menembak Felix dengan cara yang kejam seperti ini demi melindungi Mesy. Kakak iparnya. Mesy hanya diam saja melihat Walter dan Felix. Ada seulas senyum dibibirnya ketika melihat Felix terjatuh ke lantai. Tembakan Walter kali ini benar-benar mematikan karena peluru itu mendarat di kepala Felix.
Walter tidak bisa langsung menolong Mesy. Dia segera membantu pasukan Black Dragon untuk menghabisi anak buah Felix. Walter menembak satu persatu lawannya. Sesekali dia kembali memandang ke arah Felix untuk memastikan pria itu benar-benar sudah tewas. Bisa dibilang Felix adalah manusia yang memiliki banyak nyawa cadangan. Kali ini Walter tidak mau terjebak lagi.
"Pergi!" lirih Mesy. Suaranya sangat pelan hingga tidak ada satu orangpun yang mendengar teriakannya saat itu. "Pergi."
Walter mengernyitkan dahi melihat kakak iparnya seperti sedang mengatakan sesuatu. Pria itu berjalan untuk mendekat. Dia jongkok lalu memegang tangan Mesy.
"Apa yang kau katakan?"
"Pergilah. Felix sudah memasang jebakan. Aku yakin tempat ini akan segera meledak. Felix sempat menghubungi seseorang dan bilang, jika dalam waktu setengah jam dia tidak memberi kabar maka seseorang di dalam telepon itu harus meledakkan tempat ini."
"Apa?" Walter kaget bukan main. Dia menggeram ketika tahu rencana licik Felix. "Kalau begitu ayo kita pergi dari sini."
__ADS_1
"Tidak!" tolak Mesy. "Aku akan segera mati. Untuk apa aku merepotkan adik iparku."
"Darimana kau tahu kalau kau akan segera mati?"
"Felix memberiku racun. Aku yakin racun itu sedang bekerja."
Walter berdiri lalu memanggil satu pasukan Black Dragon dan memerintahkan agar mereka segera mundur. Sedangkan Walter sendiri kembali berjongkok lalu menggendong tubuh Mesy yang terasa begitu ringan.
"Turunkan aku!" berontak Mesy.
"Maaf, Nona. Tapi aku tidak akan membiarkan istriku menangis!" sahut Walter sebelum melangkah. Mesy terdiam mendengar jawaban Walter. Kedua mata wanita itu berkaca-kaca.
Sebenarnya di lubuk hati yang paling dalam, Walter sangat ingin tahu cerita jelasnya dari Mesy. Namun saat ini waktunya sangat tidak tepat. Mereka harus segera pergi meninggalkan tempat itu agar selamat.
"Bos, hanya sebagian saja yang berhasil keluar," ujar salah satu pasukan Black Dragon.
__ADS_1
Walter menahan langkah kakinya. "Kenapa tidak semua?"
Pria itu mengatur napasnya sebelum memandang ke arah gedung. "Mereka akan mengorbankan nyawa mereka untuk menahan pasukan Felix agar tidak mengejar anda."
Walter terdiam mendengarnya. Dia juga memandang ke arah gedung itu lagi sebelum meletakkan Mesy di bawah.
"Lindungi dia. Bawa dia ke rumah sakit. Aku akan masuk untuk membawa mereka keluar!"
Pria itu segera berlari dan memegang tangan Walter. "Jangan, Bos. Berbahaya!"
"Lalu kau akan tetap pergi ketika kau tahu saudaramu masih ada di dalam?" teriak Walter emosi.
DHOMMMM
Di saat perdebatan itu belum berakhir, mereka semua dikagetkan dengan suara ledakan yang begitu memekakan telinga. Walter mematung melihat api yang kini menyala-nyala dihadapannya. Bersamaan dengan itu pasukan Black Dragon yang berhasil selamat hanya bisa menunduk untuk memberi penghormatan terakhir kepada rekan mereka yang tidak berhasil keluar.
__ADS_1
Walter terduduk di tanah dengan mata berkaca-kaca. Dia merasa gagal. Sebagai seorang pemimpin dia tidak bisa melindungi pasukan Black Dragon. Padahal selama ini Fabio selalu berhasil melindungi mereka semua. Walter merasa gagal sebagai seorang pemimpin yang baru.
"Aku yang salah. Tidak seharusnya aku membawa mereka untuk mengalahkan Felix!"