
Hari terus berganti. Dokter Alfred sangat sabar merawat Rosita. Hingga suatu pagi, wanita itu mulai bisa memberikan respon yang positif. Rosita sudah bisa makan dan minum sendiri walau dia masih belum mau berbicara. Walter yang baru saja menyelesaikan tugasnya di luar kota segera mendatangi kamar Rosita. Pria itu ingin tahu bagaimana kabar Rosita hari ini.
Dokter Alfred mengambil potongan buah dan menyuapi Rosita. "Buah ini rasanya asam. Seharusnya Anda memejamkan mata Anda setelah memakannya, Nona. jangan menahan rasa asamnya di mulut, karena itu akan membuat wajah anda terlihat jelek sekali," ledek Dokter Alfred. dia sengaja berkata seperti itu agar Rosita mau meresponnya dengan tawa atau senyuman. Namun sayangnya, Rosita masih tidak menunjukkan tanda-tanda akan tertawa atau sedang menahan tawa.
"Apa buahnya tidak asam? Atau jangan-jangan lidah anda bermasalah?" tanya Dokter Alfred lagi. Pria itu masih tidak mau menyerah untuk membuat Rosita tertawa.
Hingga satu ide muncul di benak Dokter Alfred. Dia akan mendekati wajah Rosita karena ingin menguji wanita itu. Apa dia akan menolak jika Dokter Alfred ingin menciumnya. Entah kenapa ide konyol itu bisa muncul di dalam pikirannya. Tanpa pikir panjang, Dokter Alfred mendekati wajah Rosita. Di tengah gerakan dia berhenti sejenak. Ternyata Rosita cantik. Apa lagi jika dilihat dengan jarak yang dekat seperti ini. Dokter Alfred fokus ke bibir Rosita. Ide konyol yang tadinya hanya keisengan semata kini menjadi serius.
Rosita masih belum memberikan respon. Wanita itu diam saja memandang dengan tatapan kosong. Hingga ketika jarak bibir mereka beberapa centi lagi, dokter Alfred tertawa.
"Oke, baiklah. Ini juga tidak berhasil." Dokter Alfred menjauhkan wajahnya. Pria itu kaget ketika melihat Walter sudah berdiri di sana. Pria itu mengepal kesepuluh jarinya. Rahangnya mengeras. Wajahnya memerah. Dia sepertinya marah melihat perbuatan Dokter Alfred.
"Sejak kapan kau tiba, Walter?" tanya Dokter Alfred. Ia meletakkan piring buah yang sejak tadi ia genggam di atas nakas. "Kenapa tidak memberitahuku kalau kau pulang hari ini?"
"Apa seperti ini cara anda menjaga Rosita!" ketus Walter tanpa mau menjawab pertanyaan Dokter Alfred.
"Seperti ini?" Dokter Alfred beranjak dari tempat tidur. "Apa maksud Anda? Saya melakukan semuanya sesuai prosedur."
"Sesuai prosedur anda bilang? Apa mencium pasien termasuk salah satu prosedur?" teriak Walter hingga memenuhi seisi ruangan.
Dokter Alfred diam. Dia sendiri juga tidak tahu kenapa tadi hampir memiliki keinginan untuk mencium Rosita. Untungnya imannya kuat hingga hal buruk itu tidak sampai terjadi. Entah apa yang akan dilakukan Walter padanya jika sampai hal itu terjadi. Walau mereka belum memiliki hubungan spesial. Tetapi Dokter Alfred tahu kalau Rosita wanita yang spesial bagi Walter.
"Anda salah paham. Saya tidak benar-benar ingin menciumnya. Saya hanya ingin melihat responnya saja. Tidak lebih," sahut Dokter Alfred. Ia masih tetap membenarkan dirinya walau sudah jelas-salah. "Seperti ini. Kau bisa lihat sendiri. Dia bisa makan, minum, mandi bahkan ganti pakaian. Tetapi dia tidak mau bicara. Tidak mau merespon ucapan orang lain. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk membuat dia bicara. Maka dari itu aku melakukan hal seperti itu berharap dia marah. Bahkan mungkin menampar wajahku. Kau tidak perlu cemburu, Walter. Aku tidak akan mungkin merebutnya!"
__ADS_1
"Cemburu? Apa mungkin aku cemburu? Tapi kenapa aku merasa sakit hati melihat Dokter Alfred ingin mencium Rosita?" gumam Walter di dalam hati.
"Begini saja. Mulai sekarang kau saja yang merawatnya. Aku sudah tidak dipercaya lagi bukan? Sebaiknya aku mundur saja." Dokter Alfred mengambil tas miliknya yang tergeletak di atas meja.
Walter memalingkan wajahnya sambil mengatur napasnya agar kembali tenang. "Maafkan saya. Sepertinya ini hanya salah paham saja."
Dokter Alfred menahan langkah kakinya. Pria itu menepuk pundak Walter. "Aku tidak marah. Aku hanya tidak mau ada salah paham di antara kita. Aku tidak mau hubungan kekeluargaan kita hancur karena seorang wanita." Dokter Alfred pergi setelah mengatakan kalimat itu.
Walter memandang ke depan dan mendekati Rosita. Rosita hanya diam seperti orang koma. Bedanya Rosita bisa bergerak kalau orang koma tidak.
"Apa benar dia hanya bercanda?" tanya Walter. Pria itu menarik kursi dan duduk di dekat tempat tidur. "Kenapa kau tidak menampar wajahnya? Kau senang di cium olehnya?"
Rosita tiba-tiba mengepal kuat tangannya. Walter mengeryitkan dahinya melihat Rosita memberi respon. "Kau marah padaku? Eh?" Walter mendekati wajahnya. "Bagaimana kalau aku yang menciummu. Apa kau-"
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Walter. Walter panik bukan main. Bukannya dia bahagia justru dia semakin kecewa dan cemburu. Hanya saja dia tidak sadar kalau sebenarnya dia sudah sepenuhnya jatuh hati pada wanita itu.
"Kau menamparku dan tidak menampar Dokter Alfred! Apa kau benar-benar ingin di cium olehnya?" teriak Walter.
"Pergi dari sini! Anda sangat berisik!" ketus Rosita.
Walter sampai bersandar di kursi karena kaget. "Kau Kau .... kau bisa bicara?"
"Sejak kapan aku bisu?" ketus Rosita lagi.
__ADS_1
Walter diam sejenak. Ia harus memastikan kalau semua ini bukan mimpi seperti yang terjadi sebelumnya. "Rosita, kau sudah sadar? Kau tidak depresi lagi? Kau sudah sembuh?"
"Aku hanya malas bicara. Aku membenci dokter Alfred. Itu yang membuatku tidak mau bicara dengannya," jawab Rosita. Ia memandang ke arah Walter. "Lalu anda. Kemana saja anda selama ini? Kenapa anda tidak ada di sini? Kenapa anda meminta orang yang sangat saya benci untuk merawat saya?"
Walter tidak tahu harus senang atau tidak ketika Rosita bilang dia semangat membenci Dokter Alfred. Bagaimanapun juga, kalau dikaitkan. Masalah utamanya berasal dari Walter. Bukan kesalahan Dokter Alfred seutuhnya.
"Baguslah kalau kau sudah sadar. Aku kesulitan mencari sekretaris di perusahaan. Hanya kau yang memenuhi kriteria," jawab Walter asal saja.
Rosita diam dan melamun lagi. Walter lagi-lagi dibuat khawatir. Dia tidak mau Rosita kembali membisu lagi.
"Apa ada yang salah dari ucapanku?"
"Tuan, bisakah anda bebaskan saya? Saya ingin menjalani kehidupan saya yang dulu. Tidak lagi terikat pejabat dengan anda. Yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Saya lelah menjadi orang lain. Saya ingin menjadi diri saya sendiri. Ini bukan hidup saya. Jalan hidup dan jalan pikiran kita berbeda. Kita tidak bisa bersama walau hanya sebatas atasan dan bawahan."
Satu hal yang selama ini ditakuti oleh Walter akhirnya terjadi. Walter tidak mau Rosita pergi. Dia ingin wanita itu selalu ada di sampingnya. Bagaimanapun caranya. Tetapi, memaksa Rosita hanya akan membuat Rosita tertekan. Walter ingin Rosita mau ada di dekatnya karena suka rela. Bukan karena terpaksa apa lagi sampai tertekan.
"Kenapa? Apa tempat ini tidak nyaman?"
"Sangat sempurna. Sampai-sampai aku merasa tidak pantas ada di tempat ini," jawab Rosita. "Aku akan anggap semua masalah tidak pernah terjadi. Aku sudah bisa melupakan luka yang kemarin. Sepertinya aku akan naik saja nanti."
"Baiklah. Tapi, untuk beberapa hari ke depan. Kau harus tetap di sini. Aku akan membiarkanmu pergi ketika keadaanmu sudah benar-benar sehat. Bahkan baru hari ini kau mau bicara bukan? Aku ingin kau kembali menjadi Rosita yang pertama kali aku kenal."
"Baiklah," jawab Rosita. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Aku harus bisa. Aku tidak mau lebih lama lagi terjun ke dalam kehidupan mereka yang berada di dunia gelap," gumam Rosita di dalam hati.
__ADS_1
"Sebenarnya dia kenapa?" gumam Walter di dalam hati juga.