
Rosita menggelengkan kepalanya dengan wajah tidak percaya. Ia bahkan menjauh dari Mesy dan memalingkan wajahnya. Rasanya dia tidak mau mempercayai apa yang baru saja dikatakan oleh kakak kandungnya. Berita ini sungguh mendadak. Belum siap Rosita menerimanya. Dia baru saja menciptakan sebuah kebahagiaan di dalam hidupnya. Sebuah kenyamanan.
"Aku tidak percaya!" ketus Rosita. Bahkan untuk memandang wajah Mesy saja rasanya dia sudah malas. Dia masih berharap kalau semua cerita ini hanya omong kosong semata.
"Kau harus percaya padaku, Rosi." Mesy berdiri di dekat Rosita. Wanita itu tidak akan menyerah untuk menyakinkan Rosita. "Kakak gak bohong."
__ADS_1
"Gak bohong?" Rosita menatap mata Mesy dengan amarah tertahan. "Kenapa kak? Kenapa baru sekarang kakak katakan semua ini? Kenapa gak sejak kemarin? Kenapa gak saat aku menceritakan hubunganku dengan Kak Walter. Kenapa kak? Kenapa semua ini harus aku dengar setelah aku dan Kak Walter menikah? Kakak tahu bagaimana perasaanku saat ini? Sakit kak! Sakit sekali!"
"Rosi, kakak punya alasan kenapa kakak baru cerita sekarang. Kau harus percaya sama kakak." Mesy memegang kedua bahu Rosita berharap wanita itu masih mau mendengarkan penjelasannya.
"Gak, Kak. Gak!" Rosita menyingkirkan tangan Mesy. "Aku gak mau mendengar apapun. Aku mau ini semua tidak terjadi! Hubunganku dan Kak Walter baik-baik saja!"
__ADS_1
"Kak, aku memang anak dari kedua orang tua kita. Tapi, kakak harus ingat satu hal. Setelah aku menikah, aku wajib patuh kepada suamiku. Aku tidak bisa melukai suamiku. Aku tahu apa yang ingin kakak lakukan kenapa kakak membiarkanku tetap menikah dengan kak Walter. Kakak mau aku menyakiti kak Walter kan? Kakak ingin aku membuat Kak Walter merasakan hal yang sama seperti yang pernah di rasakan kedua orang tua kita? Aku masih ingat bagaimana kedua orang tua kita meninggal. Aku juga tidak bisa menuduh Kak Walter sebagai dalang semuanya sebelum bukti-buktinya ada di genggaman tanganku." Rosita menghapus air mata yang mau menetes. "Sepertinya sudah tidak ada lagi yang bisa dibicarakan. Aku harus pergi kak. Aku tidak mau Kak Walter menunggu terlalu lama."
Rosita segera pergi setelah berpamitan. Wanita itu melangkah cepat karena tidak mau mendengar apapun yang keluar dari mulut Mesy. Dia terlalu bingung hingga tidak tahu harus bagaimana sekarang. Pikirannya tidak bisa berpikir dengan jernih. Rosita butuh seseorang untuk menenangkan pikirannya. Dan orang itu adalah suaminya sendiri. Hanya Walter yang bisa ia jadikan tempat mengadu saat ini.
Walau kedengarannya konyol. Tapi, Rosita berencana untuk menceritakan semua yang terjadi kepada Walter. Dia juga ingin tahu, bagaimana reaksi Walter mendengar ceritanya. Jika memang cerita Mesy sama dengan cerita Walter, maka Rosita akan pikirkan lagi nanti. Keputusan apa yang harus ia ambil.
__ADS_1
"Aku tidak boleh menangis. Aku tidak mau sampai Kak Walter curiga," gumam Rosita. Ia mengambil tisu dan berusaha mengeringkan air mata yang tersisa di bulu matanya. Wanita itu tidak fokus dengan apa yang ada di depan hingga akhirnya dia menabrak tubuh seseorang. Tubuh Rosita yang mungil harus hampir saja terjatuh jika tangan kekar itu tidak segera menahan pinggangnya.