
Felix segera mengambil senjata apinya. Dia ingin segera menghabisi nyawa Walter. Namun tidak semudah itu. Walter menarik tangan Felix yang kini sudah menggenggam sebuah pistol. Pria itu memelintir tangan kanan Felix hingga pistol yang ada di tangan Felix terlepas.
Saat terlepas, Walter berusaha untuk meraih senjata api itu. Tapi, usahanya sia-sia. Felix lebih dulu memberinya satu pukulan di bagian perutnya sebagai balasan atas perbuatan Walter tadi. Setelah puas dengan serangan balasannya, Felix mendorong pistol itu dengan sepatu yang ia kenakan agar menjauh dari posisi mereka berada.
“Walter, apa kau pikir aku masih sama dengan Felix yang dulu? Aku bukan Felix yang bisa dengan mudah kau tembak dan kau kalahkan. Aku adalah pria yang akan membuatmu pergi meninggalkan dunia ini.” Felix tertawa kecil. Pria itu mengeluarkan benda kecil seukuran korek api. Ada senyum puas di sudut bibirnya.
Walter melebarkan bola matanya saat melihat benda kecil berbahaya itu. Sebuah bom mini dengan daya ledakan yang tidak terlalu hebat. Namun, itu sudah cukup berhasil membuat tubuhnya dan Felix tercabik-cabik hingga tidak terbentuk jika sampai diaktifkan.
Satu tangan Walter menahan jemari Felix agar pria itu tidak berhasil meledakkan bom mini itu. Dua pria tangguh itu saling tarik-tarikkan hingga akhirnya keseimbangan yang mereka miliki tidak ada lagi. Tubuh Felix dan Walter sama-sama jatuh ke permukaan lantai dan saling bergulat untuk memperebutkan bom kecil itu.
“Kau memang gila, Felix,” ucap Walter di sela-sela pertahanannya. Ia tidak pernah berpikir akan bertemu dengan pria yang gila bunuh diri dan mengajak lawannya ikut mati seperti Felix.
__ADS_1
“Aku memang sudah gila, Walter. Tepat di saat kau membunuhku dan mengkhianatiku!” teriak Felix tidak terima dengan luapan amarah.
"Kau yang berkhianat Felix! Kau pengkhianat!" sahut Walter lagi. Pria itu berhasil merebut bom mini tersebut. Dia segera melemparkan bom tersebut kepada anak buahnya untuk di amankan.
Setelah itu Walter duduk di atas tubuh Felix dan memukul wajah pria itu dengan bebas. Rasanya tidak ada lagi maaf bagi Felix kali ini. Ketika sedang memukul, tiba-tiba Walter kembali ingat dengan remot yang sempat di genggam Felix. Dia mencari benda itu di sekujur tubuh Felix.
Namun kesempatan itu digunakan untuk menendang bagian vital Walter. Saat itu Walter merasa sakit bukan main. Dia sampai terjatuh dan duduk di lantai sembari menahan rasa sakit.
"Sudah saatnya kita mati bersama Walter. Ucapkan selamat tinggal kepada istrimu!"
Walter melebarkan kedua matanya. "JANGAN!"
__ADS_1
DUARRRR
Walter mematung melihat Mesy berdiri di sana dengan senjata api di tangannya. Remote yang ada di tangan Felix terlepas ketika sebuah peluru mendarat di punggungnya.
Keadaan semakin kacau karena anak buah Felix melakukan perlawanan meskipun Felix tidak memberi perintah. Black Dragon segera menghadapi pasukan Felix.
Walter memandang ke arah Mesy yang kini terjatuh karena tubuhnya lemas. Wanita itu merasa bahagia bisa menembak Felix.
Felix menunduk sejenak sebelum tertawa keras. Pria itu sudah terluka tapi seperti tidak terjadi sesuatu. Dia kembali berdiri dan bangkit. Tatapannya terlihat penuh kebencian ketika dia melihat wajah Mesy ada di sana.
"Wanita Jalan*g! Kau pantas mati!"
__ADS_1