Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 23


__ADS_3

Belanda


Rasanya masih seperti mimpi jika hari ini Rosita sudah menginjakkan kakinya di Belanda. Negara kincir angin itu memang indah. Namun, keindahan yang tersaji tidak lagi terasa ketika Rosita datang ke sana untuk mencari penawar racun yang ada di tubuh Walter. Dia datang bukan untuk berlibur. Bersama dokter Alfred, mereka menuju ke sebuah hutan tempat sosok nenek itu tinggal. Lokasinya jauh dari keramaian.


Rosita merasa takut dan khawatir. Hanya mereka berdua yang berangkat. Dokter Alfred tidak mau mengajak pengawal untuk melindungi mereka berdua. Seolah-olah dokter itu sudah menjamin kalau lokasi yang mereka datangi benar-benar aman.


"Dok, apa yang harus saya katakan nanti? Saya tidak ahli dalam memanipulasi," tanya Rosita.


"Katakan kalau suamimu diracuni oleh teman kerjanya. Kau sedang hamil." Dokter Alfred terlihat sangat tenang dan santai. Berbeda jauh dengan ekspresi Rosita saat ini. Yang lebih terlihat tegang dan tidak tenang.


"Tunggu tunggu. Suami dan hamil? Apa maksud Anda, Dok? Anda meminta saya berbohong?" Rosita terlihat tidak terima dengan ide yang baru saja diucapkan dokter Alfred.


Rasanya sangat berat jika harus berbohong dan mengaku-ngaku sebagai istri Walter. Ya, walau ini memang untuk kebaikan Walter juga. Tetapi, bagaimana kalau Walter tahu? Pria itu pasti marah dan mengatakan kalau Rosita terlalu percaya diri. Seperti itu yang kini dipikirkan oleh Rosita.


Dokter Alfred menghela napas sebelum memandang Rosita yang kini terlihat kebingungan. "Ya. Karena jika kita katakan yang sejujurnya, nenek tua itu tidak akan mau memberikan penawarnya. Masalahnya penawar ini di buat, bukan di simpan. Dia tidak akan mau membuatkannya jika kita memintanya secara paksa."


"Tapi, perjanjian awal tidak seperti ini. Saya tidak bisa jika harus berbohong seperti ini. Maaf, Dok," tolak Rosita. "Ini termasuk harga diri saya. Bagaimana kalau nenek itu bisa tahu aku berbohong dan dia marah?"


"Kalau seperti itu yang terjadi, itu jadi urusan saya. Sekarang tugas anda hanya melakukan peran yang saya katakan tadi. Anda seorang istri yang merasa sedih ketika tahu suaminya di racuni oleh rekan kerjanya. Anda dalam keadaan hamil. Jika tidak di tolong, anak anda akan terlahir tanpa ayah," jelas Dokter Alfred lagi.

__ADS_1


"Lalu, jika nenek itu bertanya siapa anda. Anda akan jawab apa? Kenapa kita tidak ceritakan yang sebenarnya terjadi dok?" Rosita masih berjuang merayu Dokter Alfred agar tidak menggunakan ide konyol itu untuk mendapatkan penawarnya.


"Katakan saja kalau saya ini kakak kandung anda, Nona." Dokter Alfred menarik turunkan alisnya. "Bukankah ini sangat sempurna? Anda memiliki suami sekeren Walter dan memiliki kakak kandung setampan saya," ucap Dokter Alfred penuh percaya diri. "Nenek ini sangat sensitif. Dia menolak keras hubungan di luar nikah. Wanita dan laki-laki tidak boleh bersentuhan sebelum menikah!"


"Bukankah itu prinsip yang bagus dok?"


"Ehm, ya bagus. Tapi, jika dalam keadaan seperti ini sangat tidak bagus. Dia tidak akan memberikan penawarnya jika dia tahu kalau kau hanya seorang pelayan. Pelayan yang rela melakukan segala cara demi kesembuhan atasannya yang jelas-jelas tidak ada hubungan pernikahan."


Rosita menyipitkan kedua matanya sebelum memalingkan wajahnya. "Ternyata seperti ini sisi lain Dokter Alfred. Aku sungguh menyesal sudah memujinya kemarin," gumam Rosita di dalam hati. "Kenapa dia licik sekali? Sulit sekali menemukan orang yang benar-benar baik di jaman sekarang ini. Semua orang sangat pintar menjebak orang lain agar mau tidak mau mengikuti perintahnya. Seperti inikah kehidupan orang berduit?"


"Kenapa lokasinya tidak seperti di foto," ucap Dokter Alfred dengan nada rendah. Pria itu memperhatikan ke depan dengan alis saling bertaut.


Rosita juga ikut memandang ke depan. Wanita itu merasa ada yang aneh dengan tempat yang mereka kunjungi. "Hutan ini benar-benar menyeramkan," gumam Rosita di dalam hati.


"Tuan, saya tidak dapat melanjutkan perjalanan ini. Pohon ini tidak akan bisa dilewati. Sepertinya memang hanya sampai sini saja batas mobil melintas," jelas supir itu apa adanya.


Dokter Alfred melirik jam di pergelangan tangannya. "Apa alamat yang ingin saya kunjungi sudah dekat?"


"Sekitar 15 Menit lagi jika naik mobil, Tuan. Tetapi, ini juga pertama kalinya saya datang ke tempat ini. Masih ada atau tidaknya rumah yang anda maksud, saya tidak berani menjamin," jelas supir itu. "Saran saya sebaiknya anda kembali saja ke kota. Jika terjadi sesuatu pada anda, tidak akan ada yang bisa menolong anda. Lokasinya sangat jauh dari pemukiman warga."

__ADS_1


Supir itu berusaha memperingati Dokter Alfred agar berpikir dua kali jika ingin menemui nenek itu. Namun sepertinya Dokter Alfred tidak peduli dengan keselamatannya sendiri. Dia lebih memilih untuk menyelamatkan Walter yang tidak tahu akan bertahan sampai kapan.


"Oke, kalau begitu kami turun di sini saja," sahut dokter Alfred. Jelas saja hal itu membuat Rosita mengeryitkan dahinya. Terlihat jelas kalau dia tidak setuju dengan ide Dokter Alfred.


"Anda yakin, Dok? Bagaimana kalau di jalan nanti kita bertemu binatang buas?"


"Itu sudah pasti karena ini hutan," sahut dokter Alfred dengan santai. Ia segera turun dari taksi setelah membayar ongkos. Rosita terpaksa ikut turun juga. Karena dia datang bersama dokter Alfred, mau tidak mau ia harus mengikuti kemanapun dokter Alfred pergi.


Taksi yang membawa mereka segera memutar arah dan pergi. Rosita memandang taksi itu sebelum memandang Dokter Alfred yang kini sedang mengotak-atik ponselnya.


"Dok, anda yakin?" tanya Rosita lagi. "Anda masih ada waktu untuk berubah pikiran. Taksinya belum jauh," bujuk Rosita dengan lemah lembut.


"Ternyata di sini tidak ada signal!" Dokter Alfred memandang Rosita dan mengeryitkan dahinya. "Kita sudah sampai di sini. Tidak mungkin pulang tanpa hasil. Mari Nona, kita jelajahi hutan ini. Seperti petunjuknya hanya jalan setapak ini saja."


Rosita mengepal kuat tangannya. "Tidak ada signal dan tidak ada kehidupan. Bagaimana bisa dia memaksakan diri untuk mencari penawar itu."


Dokter Alfred berjalan sambil memperhatikan lokasi yang ia lewati. Pria itu seperti sedang mengenang sesuatu. Berbeda dengan Rosita yang justru sedang memikirkan hal-hal buruk. Entah itu binatang buas, penjahat atau hantu. Semua memenuhi pikirannya hingga akhirnya dia tidak bisa untuk tenang.


Dokter Alfred terus saja mengajak Rosita berjalan tanpa memberi waktu untuk istirahat. Di lihat dari fisik Dokter Alfred, pria itu sudah terbiasa jalan jauh. Berbeda dengan Rosita yang kini ngos-ngosan dibuatnya.

__ADS_1


"Dok, bisakah kita istirahat? Saya haus," lirih Rosita. Dia duduk di atas tumpukan daun kering dengan kaki di luruskan ke depan.


Dokter Alfred melebarkan kedua matanya melihat Rosita duduk. "Nona, awas!"


__ADS_2