
Walter melangkah menuju ke gedung yang menjadi tempat persembunyian Felix dan anak buahnya. Dia tahu kalau ada banyak jebakan di sana. Pria itu melangkah cepat namun tetap hati-hati. Dia melirik ke kanan dan ke kiri untuk mengantisipasi jika ada sniper yang mengincar nyawanya.
Pasukan Black Dragon yang ikut bersama Walter juga melangkah dengan hati-hati. Hingga tidak lama kemudian, Walter menahan langkah kakinya dan itu membuat semua pasukan Black Dragon ikut berhenti. Mereka terlihat kebingungan namun tetap waspada.
"Setiap dua meter ke depan akan ada bom. Berhati-hatilah. Jika salah satu dari kalian tanpa sengaja menginjak bom itu, maka kita semua akan tewas," ucap Walter memperingati. Pasukan Black Dragon terlihat tidak tenang. Mereka saling memandang sebelum menunduk dan memperhatikan tanah yang kini mereka pijak. Ternyata memang benar apa yang dikatakan oleh Walter. Jika diperhatikan sekali lagi, ada beberapa titik yang memang sudah di pasang bom. Jika dilihat sekilas memang tidak akan terlihat. Tetapi jika diperhatikan lebih jelas lagi, mereka bisa menghindari bom itu dengan mudah.
Walter melanjutkan langkah kakinya. Dia tidak tahu jebakan apa saja yang akan dia dapatkan untuk bisa sampai ke dalam gedung itu. Namun yang pasti, sejauh ini mereka semua masih selamat.
__ADS_1
...***...
Mesy duduk di atas tempat tidur sambil memandang Felix yang kini baru saja mengenakan pakaiannya. Pria itu tahu kalau Walter sudah dekat dengannya. Dia ingin menghadapi dan mengalahkan Walter saat ini. Namun sebelum itu masih sempat-sempatnya dia melecehkan Mesy. Pria itu sengaja melakukan perbuatan kotor seperti itu kepada Mesy karena ingin menghukumnya.
"Lain kali jangan pernah berpikir untuk mengkhianatiku, Mesy! Atau aku akan menghukummu dengan hukuman yang lebih sakit lagi!" Felix berjalan mendekati Mesy. Dengan kasar pria itu mencengkram dagu Mesy dan menatapnya dengan tajam. "Tetap di sini! Jika kau berani kabur, kau akan tahu akibatnya. Aku ingin bermain-main dengan adik iparmu itu." Felix menyeringai sebelum menghempaskan tubuh Mesy di atas tempat tidur.
"Jika seperti ini aku lebih memilih mati saja. Aku tidak mau hidup dengan kondisi seperti sekarang. Felix benar-benar iblis! Dia bukan manusia!" umpat Mesy. Wanita itu kembali ingat dengan apa yang dikatakan oleh Felix barusan.
__ADS_1
"Gawat! Walter sudah ada di sini. Aku tidak akan membiarkan Walter masuk ke dalam jebakan yang sudah di buat oleh Felix. Aku harus melakukan sesuatu. Setidaknya aku bisa membantu suami adikku. Setidaknya hidupku berguna bagi orang lain." Mesy beranjak dari tempat tidur. Namun karena kakinya sangat sakit, wanita itu terjatuh ketika ingin berjalan.
Bruakk.
Kepala Mesy terbentur ujung tempat tidur hingga terluka. Wanita itu terduduk di lantai sambil memegang dahinya yang terasa begitu perih.
"Bahkan berjalan saja aku tidak bisa. Bagaimana caranya aku membantu Walter?" gumam Mesy di dalam hati. Wanita itu memandang ke arah pintu lagi sebelum meneteskan air mata. "Rosi, maafkan kakak karena tidak bisa menjadi kakak yang berguna bagimu."
__ADS_1