Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 61


__ADS_3

Mesy memasukkan ponselnya ke dalam saku. Secara diam-diam, dia sudah memasang camera mini ke baju Rosita. Apapun yang dilakukan wanita itu bahkan siapapun yang ada di depannya akan kelihatan. Mesy terlihat memikirkan sesuatu. Ekspresi wanita itu terlihat aneh.


"Mereka harus segera menikah. Ya, mereka harus segera menikah. Setelah menikah, aku akan memberi tahu Rosita apa yang telah terjadi. Aku pasti bisa menang. Aku pasti bisa mengalahkan pria itu. Rosi pasti akan selalu ada di pihakku. Dia sangat menyayangiku," gumam Mesy di dalam hati. Wanita itu kaget ketika pintu kamar terbuka tiba-tiba. Rosita muncul dengan wajah merona malu. Mesy mengernyitkan dahinya. Baru saja dia mengamati wanita itu dari ponsel. Secepat ini Rosita sudah kembali.


"Kak, apa yang kakak lakukan di sana?" tanya Rosita bingung. Saat itu Mesy duduk di dekat jendela. Wanita itu seperti sedang mengamati sesuatu. Rosita ingin tahu sebenarnya apa yang dilihat kakaknya. Sejauh ini tidak ada pemandangan menarik di dekat jendela. Pemandangan yang indah hanya bisa dilihat melalui balkon yang juga ada di dalam kamar tersebut.


"Kakak sedang memikirkan sesuatu," jawab Mesy dengan wajah serius.

__ADS_1


"Sesuatu?" Rosita yang penasaran segera mendekati Mesy. Dia duduk di depan Mesy dengan kaki terlipat. "Sesuai apa kak?"


"Pernikahanmu nanti. Pasti acaranya sangat mewah ya. Oh iya, nanti setelah menikah kau akan tinggal dimana? Bagaimana denganku? Apa aku akan kembali ke jalanan?" Mesy terlihat sedih.


"Kak, apa yang kakak katakan? Aku tidak sekejam itu. Setelah aku pikir-pikir, sebaiknya kakak tinggal di apartemenku saja. Bukankah itu apartemen kakak juga? Kakak bisa bebas tinggal di sana. Aku akan meminta Kak Walter untuk menerima kakak bekerja di perusahaan. Ya, walau aku tidak bisa bantu kakak mendapatkan derajat yang tinggi. tetapi setidaknya kakak memiliki kegiatan dan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup kakak."


Mesy menunduk dengan wajah sedih. Seolah-olah dia tidak siap berpisah dengan Rosita. "Tetapi kita baru saja bertemu setelah sekian lama berpisah. Apa Tuan Walter tidak mau aku tinggal bersama kalian? Apa aku terlalu merepotkan? Bagaimana kalau aku bekerja di rumah kalian? Jadi tukang kebun atau tukang cuci juga aku siap. Yang penting, aku bisa melihat wajahmu setiap kali aku rindu, Rosi ...."

__ADS_1


Rosita tersentuh mendengar jawaban Mesy. Memang untuk masalah ini, Rosita dan Walter belum membahasnya. Hanya saja Rosita tidak mau kehidupan rumah tangganya nanti ada yang ikut campur. Rosita ingin membina rumah tangga dari nol. Tanpa ada bantuan siapapun. Setidaknya dia harus tinggal berdua bersama Walter selama setengah tahun. Setelah itu, jika Mesy ingin tinggal bersama mereka. Itu tidak akan jadi masalah.


Pernikahan ini terlalu mendadak. Rosita ingin dia dan Walter benar-benar saling mencintai dan terbuka setelah menikah nanti. Tidak ada yang ditutupi lagi. Saling terbuka dan saling percaya. Rosita ingin mereka berpacaran setelah menikah nanti. Melakukan segala hal yang belum pernah mereka lakukan. Tentu saja semua itu tidak boleh ada campur tangan orang lain. Termasuk kakak kandung Rosita sendiri.


"Kak, maafkan aku. Tetapi, aku tidak bisa mengajak kakak. Aku janji akan sering-sering menghubungi kakak dan mengunjungi kakak jika ada waktu kosong. Kakak jangan sedih ya," bujuk Rosita. Mesy hanya diam sambil memandang ke arah lain.


"Sepertinya aku harus mengubah strategi lagi," gumamnya di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2