
Rosita tersadar dari lamunannya ketika pengawal yang sejak tadi dia tunggu-tunggu muncul. Ada senyum bahagia di bibirnya. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Walter. Wanita itu merasa sangat percaya diri kalau Walter pasti akan mengizinkannya pulang ke apartemen. Apa lagi bisa di bilang hari ini adalah hari pertama Rosita bekerja di perusahaan. Ia juga ingin lebih mengenal dan memahami orang-orang yang ada di perusahaan agar dia bisa menjadi karyawan teladan di sana.
“Bagaimana?” tanya Rosita dengan penuh antusias. “Apa Tuan Walter mengizinkan aku menemuinya?”
“Tuan Walter sedang istirahat, Nona,” jawab pengawal pria tersebut. Rosita kecewa. Wanita itu murung dan menunduk sedih. Padahal dia sudah bersemangat untuk pulang. “Tetapi-”
“Anda bisa menemui Bos Walter, Nona,” sahut Dokter Alfred yang tiba-tiba saja sudah muncul di belakang pengawal pria tersebut. “Tapi, saya tidak mengizinkan anda untuk menganggunya.” Demi kesehatan Walter, Dokter Alfred terpaksa menyuntikan obat penenang di tubuh Walter. Jika tidak, pria itu akan mengalami operasi ulang karena pendarahan hebat yang ia alami. Mungkin nanti setelah Walter bangun, pria itu akan marah kepada Dokter Alfred. Tetapi, Dokter Alfred tidak peduli. Dia lebih baik melihat Walter marah daripada harus membiarkan Walter kritis lagi.
“Maksud anda, saya hanya boleh melihatnya saja?”
“Lebih tepatnya menjaga Bos Walter,” jawab Dokter Alfred. “Apa anda bersedia, Nona?”
“Tidak!” jawab Rosita mantap. Jelas saya wanita itu tidak setuju. Jika memang dia harus menjaga Walter. Itu berarti harapan untuk pulang musnahlah sudah. Rosita tidak mau hal itu sampai terjadi. Baginya ini semua hanya akan menjadi mimpi buruk.
“Alfred, apa yang kau lakukan di situ?”
Rosita dan Dokter Alfred sama-sama memandang ke samping. Lara berdiri dengan gaun putih dan rambut di gerai. Sepatu high heels hitam yang ia kenakan membuatnya terlihat elegan. Di tambah lagi ada asesoris tas yang ada di genggamannya. Di lihat dari penampilannya, sepertinya istri Fabio Cassano itu ingin pergi.
“Siapa wanita ini?” Lara mendekat. Dia akan sangat marah kepada Alfred jika pria itu berbicara atau dekat-dekat dengan wanita seperti itu. Lara mau Alfred menjadi suami setia. Seperti apa yang ia harapkan terhadap Fabio. Setelah berhenti di dekat Alfred, Lara memperhatikan penampilan Rosita dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tatapannya seperti sedang menyelidik.
“Dia Rosita. Pelayan baru di rumah ini,” sahut Alfred asal saja. Dia juga tidak tahu bagaimana hubungan Rosita dan Walter. Daripada salah jawab, lebih baik dia katakan seperti itu saja. Toh memang nantinya Rosita akan bekerja sebagai pelayan pribadi Walter.
__ADS_1
Rosita hanya bisa menunduk. Dia ingin protes. Tetapi, dia takut. Penampilannya yang sederhana membuatnya terlihat seperti seorang pelayan. Rosita sebenarnya tersinggung. Namun, apa yang bisa dia lakukan?
“Pelayan baru? Siapa yang membawanya?” Lara memandang Rosita sebelum mengulurkan tangannya. “Saya Lara.”
Rosita mengangkat dagunya dan memperhatikan tangan Lara untuk beberapa detik. Ia tidak menyangka kalau wanita kaya yang cantik di depannya ini sudi berjabat tangan dengannya.
“Saya … saya. Nama saya Rosita, Nyonya.” Rosita menjabat tangan Lara. Detik itu Lara tersenyum menerima Rosita di rumah itu.
“Rosita, kau tidak pantas menjadi pelayan. Kebetulan aku butuh teman untuk-”
“Lara, aku mencari Rosita untuk menjaga Walter. Jadi, tolong jangan tambah tugasku lagi. Jika kau memang butuh teman untuk berbelanja, kau bisa hubungi Ines. Dia siap 24 jam untuk menemanimu. Dia juga tidak memiliki teman di rumah,” jawab Dokter Alfred cepat. Ia terpaksa menawarkan istrinya sendiri untuk di jadikan teman Lara.
“Ines?” Lara memandang Rosita lagi. “Ada apa dengan Walter? Bukankah semalam sore dia baik-baik saja?”
“Walter membutuhkan Rosita. Jadi, apa boleh Rosita pergi, Nyonya Lara?” izin Alfred dengan lembut. Dengan tangan terlipat di dada, Lara menganguk. Wanita itu melangkah menuju ke sofa yang ada di dekat kolam renang.
“Antar Nona Rosita ke kamar Bos Walter,” perintah Alfred.
“Baik, Tuan.” Pengawal pria tadi segera membawa Rosita menuju ke lift. Sedangkan Alfred mengikuti kemana Lara pergi. Lagi-lagi ia harus menundah kepulangannya karena masih ada urusan yang belum selesai.
Lara berdiri di dekat sofa sambil memperhatikan pemandangan sejuk yang ada di depan matanya. Ada senyum di bibirnya. Wanita itu merasa bersyukur karena bisa mendapatkan kehidupan seperti ini. Suami yang sangat mencintainya dan menyayanginya. Kekayaan tiada habisnya. Orang-orang baik yang tulus menyayanginya.
__ADS_1
“Ada masalah? Pengantin baru tidak boleh stres.”
“Terkadang aku berpikir. Kalau kedua orang tuaku masih hidup, mereka pasti akan senang tinggal di mansion ini. Sejak dulu hidup kami selalu pas-pasan. Tidak pernah terlintas akan tinggal di rumah yang mewah dan megah seperti ini.”
“Kalau mereka masih hidup, belum tentu kau dan Fabio berjodoh Lara,” sahut Dokter Alfred dengan santai.
Lara mengerutkan keningnya. “Kenapa seperti itu?”
“Karena semua sudah takdir. Ada yang pergi ada yang datang. Seperti itu kehidupan, Dia terus berputar. Tidak mungkin ada di atas terus dan tidak mungkin juga di bawah selamanya.”
“Kau benar, Alfred.” Lala memutar tubuhnya dan memandang Alfred dengan mata menyipit. “Kau tahu sebuah rahasia?”
“Rahasia? Rahasia apa?” Dokter Alfred berusaha menghindar. Namun, menghindar dari Lara sangat sulit baginya. Tetapi, jujur juga takut.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa lengan Kak Bi bisa terluka? Apa benar tadi malam ada penyusup?”
“Fabio bilang ada penyusup di mansion?” Perjelas Dokter Alfred.
“Kau tahu sesuatu? Kenapa kelihatannya seperti sedang menyembunyikan sesuatu?”
“Tidak ada yang aku sembunyikan. Aku juga baru datang pagi ini. Sepertinya memang ada penyusup tadi malam. Aku terkadang bingung. Kenapa mansion ini selalu saja kebobolan? Apa saja kerjaan pengawal yang ada di sini?” ujar Dokter Alfred agar Lara tidak lagi curiga. Lara hanya menghela napas panjang dan berusaha percaya dengan perkataan Fabio dan jawaban Walter. Walau sebenarnya di lubuk hatinya yang paling dalam ia merasa curiga dan tidak percaya.
__ADS_1
“Mudah-mudahan saja Kak Bi tidak membohongiku,” gumam Lara di dalam hati.