Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 31


__ADS_3

"Ada apa?" Lara tidak bisa tenang ketika Fabio keluar kamar dan bertemu dengan tamu mereka siang itu. Walau belum tahu ceritanya, Lara seperti sudah memiliki firasat kalau bulan madu mereka akan mendapat masalah. Tidak seindah yang seperti mereka rencanakan. Ekspresi wajah Fabio memang cukup mewakili masalah yang terjadi. Pria itu duduk di sofa dan memijat dahinya sendiri. Hal itu membuat Lara semakin uring-uringan. Wanita itu berlutut di depan suaminya. Dia memandang wajah Fabio dan memegang kedua tangan pria itu.


"Ada masalah di mansion?" Hanya itu kemungkinan besar masalah yang dialami Fabio. Mengingat, geng mafia mereka sudah dalam kendali Walter dan pasti selalu baik-baik saja.


Fabio memandang wajah Lara dengan tatapan tidak tega. Semakin Lara ingin tahu semakin Fabio berat untuk menceritakan yang sebenarnya terjadi. Dia memegang tangan istrinya. Mengecupnya dan menariknya agar duduk di pangkuan. Pria itu memposisikan posisi Lara senyaman mungkin agar wanita itu tidak terlalu syok ketika mendengar kabar buruk yang ingin ia katakan.


"Ada apa? Cepat katakan Kak Bi ...." Lara benar-benar khawatir. Namun, wanita itu telah siap mendengarkan kabar buruk yang akan dikatakan Fabio.


"Istri Dokter Alfred," ujar Fabio dengan terpotong-potong. Lidahnya tiba-tiba kaku.


"Ines? Ada apa dengan Ines?"

__ADS_1


"Kau akrab dengannya?"


"Dia menikah dengan sahabatku. Aku juga menganggap dia bagian keluargaku. Ada apa sebenarnya dengan Ines?"


Fabio memejamkan mata sejenak sebelum menghela napas panjang. "Dokter Alfred dan istrinya berangkat ke Belanda. Mereka ingin menemui Walter di sana. Tetapi, di bandara mereka di serang oleh sosok misterius. Dokter Alfred yang menjadi incarannya. Tetapi, istrinya lebih dulu tahu dan melindungi Dokter Alfred tepat di saat senjata tajam itu akan menusuk perut Dokter Alfred. Hingga akhirnya dia yang terluka."


"Lalu sekarang bagaimana keadaan Ines? Dia baik-baik saja kan?"


"Sayang ...." Fabio menahan kalimatnya lagi.


"Dia tidak bisa diselamatkan."

__ADS_1


Deg.


Lara mematung. Bahkan napasnya terasa sulit karena berubah sesak. Fabio memeluk Lara dan mengusap punggung wanita itu agar tetap tenang. Dia tahu istrinya pasti merasa sedih karena kehilangan.


"Aku janji akan mengusut kasus ini sampai tuntas. Siapa yang sudah berani melukai keluargaku, dia harus bertanggung jawab!" ucap Fabio untuk menguatkan Lara.


Tetes demi tetes air mata mulai jatuh tanpa permisi. Membasahi wajah Lara hingga membuat jantungnya seperti di remas kuat. Lara bahkan tidak tahu harus berkata apa lagi. Kabar ini sungguh membuatnya syok. Lara berharap semua hanya mimpi.


"Kita harus ke sana Kak. Alfred pasti sangat terpukul saat ini," lirih Lara. Fabio mengangguk setuju. Ia menghapus air mata di pipi istrinya sebelum mengecupnya dengan lembut.


"Kita siap-siap dan akan heran sekarang juga. Jangan menangis ya?" bujuk Fabio. Dia tidak sanggup melihat Chubby nya menangis. Setiap detiknya Fabio hanya ingin melihat Lara tertawa bahagia.

__ADS_1


"Alfred sangat mencintai istrinya. Dia tidak akan sanggup menanggung beban ini sendirian," gumam Lara di dalam hati. Sejak dia jatuh cinta bahkan sampai cinta mati sama Fabio. Sejak saat itu Lara tidak mau kehilangan Fabio. Kini wanita sangat mengerti dengan perasaan Dokter Alfred. Lara ingin segera tiba agar bisa menenangkan pria tersebut.


"Aku akan menghubungi Walter. Bersiap-siaplah," perintah Fabio. Lara segera beranjak untuk membereskan barang pribadinya dan ganti pakaian.


__ADS_2