Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 25


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Sejak dinyatakan kondisinya sudah normal, Walter dipindahkan ke kamar tidur. Walaupun begitu, Walter masih dalam pengawasan Dokter Alfred. Dokter itu yang selalu menemani Walter selama beberapa hari ini.


Siang itu, Walter membuka matanya secara perlahan. Sosok yang pertama kali dia cari adalah Rosita. Alisnya saling bertaut ketika wanita yang ia cari tidak ada di sana. Ia segera duduk dan memperhatikan lagi sekitar kamar tidurnya.


Dokter Alfred duduk di sebuah kursi sambil melamun. Bahkan karena terlalu banyak pikiran, sampai-sampai Dokter Alfred tidak sadar kalau Walter telah bangun dan sekarang duduk di atas tempat tidur.


Walter memandang ke arah jam di dinding. Jam masih menunjukkan pukul dua siang. Seharusnya wanita yang ia cari masih ada di kamar itu. Walter yakin, tanpa izin darinya tidak akan ada yang berani mengusir apa lagi sampai membiarkan wanita itu pergi meninggalkan mansion.


"Dimana Rosita? Apa dia ada di kamarnya?" gumam Walter dalam hati. "Apa dia marah karena kejadian waktu itu? Lalu, dia tidak mau bertemu denganku lagi?"


Dokter Alfred menghela napas kasar dan memijat dahinya sambil memejamkan mata. Beban pria itu sangat berat hingga dia terlihat tidak bersemangat seperti biasanya.


"Apa yang anda pikirkan, Dokter Alfred?"


Dokter Alfred membuka matanya dan memandang ke arah Walter. Walau pikirannya masih belum tenang, setidaknya bibirnya bisa tersenyum melihat Walter sudah bisa membuka matanya.


"Anda merasa bosan ada di mansion?" sambung Walter lagi.


"Anda sudah bangun?"


Dokter Alfred terperanjat dari kursi yang ia duduki. Dia segera berlari menuju ke tempat tidur. Rasanya Dokter Alfred sudah tidak sabar untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Hanya Walter satu-satunya orang yang bisa ia andalkan saat ini.

__ADS_1


"Ada apa? Kenapa wajah anda terlihat panik? Apa semua baik-baik saja selama aku tertidur? Kalau di lihat dari jam sekarang, aku hanya tidur selama 24 jam. Seharusnya tidak terjadi sesuatu selama 24 jam," ujar Walter dengan santainya.


"Anda tidak tidur, Bos Walter. Anda koma! Koma!" tegas Dokter Alfred agar Walter bisa mengetahuinya keadaan yang sebenarnya. "Anda tahu, apa yang sebenarnya terjadi? Rosita hilang. Sekarang saya tidak tahu harus kemana mencarinya. Apa dia masih hidup atau tidak, saya tidak tahu. Saya merasa bersalah karena saya yang sudah membawanya ke tempat berbahaya itu!"


"Rosita hilang? Siapa yang berani menculik Rosita?" Wajah Walter terlihat serius.


"Saya tidak tahu!" sahut Dokter Alfred. Dia duduk di kursi dan mengatur napasnya agar bisa kembali tenang.


"Anda sempat kritis karena sebenarnya luka di perut anda terdapat racun yang mematikan. Belatih yang digunakan untuk mencelakai anda sudah diberi racun. Itu yang menyebabkan kesehatan anda mengalami penurunan. Racun itu termasuk jenis racun yang langka. Walaupun racun itu langka tetapi masih ada penawarnya.


Penawar racun itu ada di Belanda. Seorang Nenek bernama Maria yang memiliki penawar racun itu. Saya mengajak Rosita ke hutan untuk meminta penawarnya. Tetapi, di sana kami di serang oleh segerombolan orang yang tidak dikenali.


Mereka mengepung lokasi tempat nenek ini tinggal. Saya ingin membawa Rosita kabur saat itu. Tetapi, nenek tua itu segera menarik Rosita dan mengancam akan membunuh Rosita jika saya tetap membawanya pergi. Nenek ini merasa di jebak. Dia menuduh saya dan Rosita sebagai penyebab penyerangan itu.


Cukup jelas cerita yang disampaikan Dokter Alfred. Namun, satu hal yang membuat Walter masih tidak ikhlas kehilangan Rosita, wanita itu pergi ke hutan demi menolong nyawanya. Walter sudah berhutang budi terhadap Rosita. Walaupun Walter kini masih marah karena menemukan foto Alex di tas Rosita, tetapi nyawa Rosita jauh lebih penting dibandingkan apapun itu.


"Aku akan menemukannya," sahut Walter. Pria itu turun dari tempat tidur dan berjalan ke lemari untuk mengganti bajunya.


"Tidak semudah itu!" Dokter Alfred mengikuti Walter dari belakang. "Bos Fabio memintamu untuk menjaga mansion karena Alex Moritz kembali membuat masalah. Mansion tidak boleh kosong."


"Kapan Bos Fabio pulang dari bulan madunya?" Walter mengancing kemejanya sambil memandang ke arah Dokter Alfred.


"Satu bulan. Itu berarti tiga Minggu lagi Bos Fabio baru pulang," jawab dokter Alfred apa adanya.

__ADS_1


"Kita tidak bisa membiarkan Rosita begitu saja. Kita harus segera menemukannya."


"Lalu, bagaimana dengan mansion?" Dokter Alfred tahu kalau saat ini Walter dalam posisi serba salah. Tapi, mau bagaimana lagi? Antara Fabio dan Rosita, jelas saja lebih penting Fabio. Mau tidak mau Walter harus melupakan Rosita dan menganggap wanita itu tidak pernah ada.


"Sudah satu minggu Rosita hilang tanpa kabar. Sudah satu minggu juga mansion ini dalam keadaan aman walau Bos Fabio tidak ada di tempat. Itu berarti, tidak akan jadi masalah jika saya pergi meninggalkan mansion untuk mencari Rosita. Saya akan menemukan Rosita dan membawanya ke mansion!"


Walter masuk ke ruang senjata untuk memilih senjata yang akan ia gunakan. Sedangkan Dokter Alfred hanya bisa berdiri di posisinya berada.


"Saya akan tetap di mansion. Jika terjadi hal yang tidak diinginkan saya akan menghubungi anda. Hanya ini yang bisa saya lakukan untuk anda. Tetapi, bolehkah saya membawa istri saya ke mansion ini? Saya tidak tega membiarkannya sendirian di rumah."


"Silahkan," sahut Walter cepat. "Ada banyak ruang di mansion ini yang bisa kalian gunakan sebagai ruang privasi."


Dokter Alfred tersenyum. "Saya harap Alex Moritz tidak menggila dan kabar penyerangan itu hanya angin lalu saja." Dia menepuk pundak Walter untuk memberi semangat. "Luka di perut anda sudah mulai kering. Tetapi, jika kembali terluka resikonya akan besar. Tetap jaga keselamatan dimanapun anda berada, Bos!"


Walter mengukir senyuman. "Saya akan pulang dalam keadaan selamat bersama dengan Rosita." Walter pergi meninggalkan kamar.


Dokter Alfred berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. "Tidak salah lagi, sepertinya Bos kita satu ini memang sedang jatuh cinta. Dia tidak akan sepanik tadi jika tidak memiliki rasa apapun terhadap Rosita. Semoga saja dia berhasil menemukan Rosita. Sampai detik ini, saya juga masih merasa bersalah karena sudah meninggalkan Rosita di hutan," gumam Dokter Alfred di dalam hati.


Walter berjalan ke arah pintu keluar. Melihat penampilan Walter, bawahannya sudah tahu kalau pria itu akan melakukan sebuah misi. Mereka menyambut Walter dengan bahagia. Sudah lama mereka tidak bermain dengan senjata mereka. Sakitnya Walter membuat pasukan Black Dragon merasa bosan.


"Bos, apa yang akan kita lakukan?"


Walter memandang bawahannya sebelum memakai kaca mata hitam. "Kita akan mencari Rosita!"

__ADS_1


Semua pasukan mengeryitkan dahi. "Rosita?" gumam mereka yang hanya berani di dalam hati saja.


__ADS_2