Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 33


__ADS_3

Lara tidak bisa menahan air matanya lagi ketika kedua kakinya telah menginjak tanah pemakaman. Di sana memang tidak terlalu ramai. Hanya ada Dokter Alfred, beberapa pasukan Black Dragon dan tim medis dari rumah sakit.


Tanah yang masih basah menandakan kalau Ines telah dibenamkan di dalam tanah. Wanita itu telah kembali kepada sang pencipta. Dokter Alfred yang kini ada di samping makam hanya bisa menunduk meratapi nasip. Tangannya mengusap lembut batu nisan seolah itu wajah istrinya. Rasanya semua masih seperti mimpi. Tadi malam mereka masih mengobrol dan bercanda tawa. Hari ini mereka telah terpisah untuk selama-lamanya.


Fabio merangkul Lara agar wanita itu bisa kuat untuk berdiri. Dia tahu istrinya berubah lemah ketika melihat Dokter Alfred menangis. Fabio akan selalu marah jika dia tahu siapa yang sudah menyebabkan istrinya menangis. Tetapi, kali ini Fabio tidak bisa egois. Ia justru juga ingin ikut menangis melihat ekspresi wajah Dokter Alfred yang begitu menyedihkan.


Satu persatu orang di sana mulai berpergian. Lara berjalan semakin dekat hingga akhirnya dia berdiri di depan makam Ines. Memandang baru nisan untuk beberapa saat sebelum berjongkok di samping Dokter Alfred.


Fabio memilih untuk berdiri di dekat Lara. Pria itu ingin menjadi pendengar saja karena memang dia sendiri tidak tahu harus berkata apa.


"Alfred." Lara mengangkat tangan hendak menyentuh pundak Dokter Alfred. Namun, Dokter Alfred lebih dulu memeluknya dan menangis sejadi-jadinya. Dia lampiaskan rasa sedih itu terhadap Lara.


"Dia pergi! Dia tidak akan bangun lagi. Aku telah gagal menjadi seorang suami," lirih Fabio dengan tangis senggugukan.


"Alfred, tenanglah," bujuk Lara. Lara juga menangis. Tetapi, wanita itu berusaha tegar agar dia berhasil menenangkan Alfred. Ia menepuk pelan pundak Alfred agar pria itu bisa menghilangkan tangisnya dan bicara dengan lebih jelas lagi. Lara juga ingin tahu, seperti apa kejadian sebenarnya. Walau memang, bukan sekarang waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu kepada Alfred.


Fabio sempat memejamkan mata sambil mengepal kuat tangannya karena cemburu. Tidak ada yang bisa menyentuh istrinya. Merah itu pria maupun wanita. Namun, sekarang keadaannya berbeda. Dokter Alfred bukan sekedar dokter pribadi di dalam kehidupan mereka. Dia sudah resmi menjadi bagian dalam keluarga Cassano.


Kakak angkat yang sangat disayangi Lara. Bahkan, jika di ingat-ingat lagi dokter Albert salah satu orang yang berperan penting dalam menyatukan cinta Lara dan Fabio saat itu. Sambil memalingkan wajahnya, Fabio berusaha menekan rasa cemburu di dalam hatinya. Bahkan membuangnya jauh-jauh.


"Tidak! Tidak! Dia tidak akan mungkin merebut Lara dariku. Dia hanya sedang sedih saja. Ya, dia sedang sedih. Sebaiknya aku tidak memandang mereka terus-menerus," gumam Fabio di dalam hati. "Sial! Kenapa rasanya aku ingin menghajar Dokter Alfred sekarang juga!"

__ADS_1


Lara yang paham dengan jalan pikiran suaminya, segera melepas pelukan itu. Tentunya tanpa menyinggung perasaan Alfred. Dia menepuk pelan pundak Alfred dan membujuk pria itu agar bisa kembali tenang.


"Kak Bi ... apa dia marah? Kenapa dia memandang ke arah lain? Semoga saja Kak Bi bisa mengerti. Aku juga tidak menyangka kalau Alfred akan memelukku seperti ini. Dia dalam keadaan terpukul. Hanya aku satu-satunya keluarga yang ia miliki. Aku tidak bisa menyalahkan Alfred juga," gumam Lara di dalam hati.


"Sebentar lagi hujan akan turun. Sebaiknya kita pulang saja ke rumah." Lara menahan kalimatnya. "Tidak. Sepertinya langsung pulang ke mansion saja. Untuk apa kita berlama-lama di tempat ini?"


Fabio mengeryitkan dahi mendengar perkataan Lara. Jelas saja dia tidak setuju kalau mereka harus pulang hari ini juga. Fabio ingin bertemu dengan Walter dan membalas perbuatan penjahat yang sudah menewaskan Ines. Dia tidak ingin pulang ke mansion sebelum berhasil balas dendam.


Jalan pikiran Fabio sama dengan Dokter Alfred. Pria itu juga tidak rela jika harus pulang sekarang. Selain diberi tugas menjaga Rosita, dia juga ingin melihat langsung orang yang sudah membunuh istrinya. Dokter Alfred ingin mengajar mereka semua dengan tangannya sendiri. Hanya itu yang bisa ia lakukan agar rasa kehilangan ini bisa berkurang walaupun cuma sedikit.


"Sebaiknya kalian menginap di hotel saja malam ini. Masih ada beberapa berkas yang harus aku urus di rumah sakit. Aku tidak bisa pulang bersama Ines, tetapi setidaknya aku bisa menemukan keadilan di sini," ucap Dokter Alfred.


Lara mendekati Fabio. Wanita itu merangkul lengan suaminya sambil mengusap permukaan kulitnya dengan lembut. "Baiklah. Kami juga tidak akan pulang." Lara memandang wajah Fabio. "Suamiku akan membantumu mendapatkan keadilan itu, Alfred. Bukankah begitu Kak Bi?"


Alfred merasa sedikit tenang saat itu. Ia melirik jam di tangannya dengan wajah sedih. Tadinya dia hanya ingin melihat waktu. Namun, ketika dia kembali ingat kalau jam itu pemberian istrinya. Rasa sedih itu kembali menyelimuti hatinya. Menguras emosi hingga membuatnya ingin berteriak karena marah.


"Semua akan baik-baik saja. Ines juga sudah bahagia," ujar Lara yang seolah mengerti arti tatapan Dokter Alfred saat itu. Dokter Alfred hanya mengangguk. "Saya harus kembali ke rumah sakit. Nanti, saya hubungi lagi."


"Baiklah. Kami juga ingin mencari hotel yang letaknya tidak terlalu jauh dari sini," sahut Fabio. Ia menepuk pelan pundak Dokter Alfred. "Saya turut berduka cita. Anda harus kuat menghadapi semua ini. Walau saya sendiri tidak tahu, kalimat apa yang cocok untuk membuat hati anda kembali tenang. Tetapi, setidaknya anda harus tetap bertahan. Anda harus kuat dan jangan putus asa."


"Terima kasih," ucap Alfred. Dia pergi meninggalkan pemakaman dengan air mata yang masih terus menggenang di mata. Rasanya sulit untuk melangkah pergi. Tetapi, hidup akan terus maju. Dia tidak mau terpuruk di belakang dan membuat semuanya menjadi hancur berantakan.

__ADS_1


Lara dan Fabio memandang kepergian Dokter Alfred. Mereka saling memandang sebelum akhirnya Fabio melepas rangkulan tangan Lara.


"Ada apa?" Lara mengeryitkan dahi dengan wajah bingung. Tidak biasanya Fabio melepas rangkulannya seperti itu. Dalam keadaan sadar lagi.


"Bagaimana rasanya dipeluk pria lain selain aku?" tanya Fabio dengan wajah cemburunya.


Lara tertegun sejenak sebelum tersenyum. "Kau cemburu?"


"Tidak!" sangkal Fabio.


"Kau cemburu sayang. Akui saja. Kau cemburu melihat Alfred memelukku?" ledek Lara semakin jadi.


"Bagaimana rasanya?" ketus Fabio lagi.


Lara menghela napas. "Biasa saja. Lebih nyaman dipeluk suami sendiri," jawab Lara dengan senyum manis.


"Benarkah?"


Lara mengangguk. Ia menarik tangan Fabio dan mengecup punggung tangan pria itu dengan manis. "Aku mencintaimu, suamiku."


Fabio kembali luluh dengan rayuan Lara. "Aku juga mencintaimu...."

__ADS_1


Dokter Alfred menggenggam stir mobilnya dengan erat hingga tangannya memerah ketika ia melihat Lara dan Fabio yang begitu mesra. Entah kenapa sekarang hatinya menjadi lebih sensitif melihat sepasang suami istri memamerkan kemesraan mereka.


"Apa mereka bisa merasakan apa yang aku rasakan? Sepertinya mereka tidak benar-benar peduli dengan perasaanku!" gumam Dokter Alfred di dalam hati.


__ADS_2