
Alex Moritz tidak bisa berbicara apa-apa lagi ketika nama yang sangat ia benci itu kembali terdengar. Fabio Cassano. Sejak pria itu menikahi mantan istrinya, sejak saat itu Alex tidak bisa bersikap baik dengan Fabio. Walau sudah berjuang keras untuk melupakan semua masalah yang pernah terjadi tetapi tetap saja ujung-ujungnya jadi sakit hati lagi. Dan sakit hati itu menimbulkan luka yang sangat sulit untuk di obati.
Alex memalingkan wajahnya saat Dokter Alfred menyeret Rosita dan membawa wanita itu pergi begitu saja tanpa permisi. Ia sama sekali tidak peduli, mau kemana dokter itu membawa Rosita. Saat ini yang memenuhi pikiran Alex justru nama Lara Alessandra.
Wanita yang sangat ia cintai dan sampai detik ini masih sangat ia rindukan. Pernah terbesit di dalam ingatanya untuk membuat Fabio dan Lara berpisah. Walau sebenarnya impian itu hanya ada di dalam pikirannya saja. Karena pada kenyataannya, pengantin baru itu tidak akan mungkin berpisah karena mereka saling mencintai.
Ketika mobil Dokter Alfred sudah benar-benar menjauh, Alex maju ke depan dan memperhatikan bagian depan mobil yang dikemudikan Rosita. Ia memperhatikan mobil sport tersebut dengan saksama. Setiap bagian ia pandangi satu persatu. Ada logo Black Dragon yang memang menandakan kalau mobil itu milik Fabio Cassano atau orang-orang kepercayaannya. Tidak sembarang orang bisa memasang logo seperti itu di mobilnya. Alex tersenyum tipis karena baru menyadarinya sekarang. Andai saja sejak awal dia tahu mobil yang sudah membuat mobilnya rusak itu adalah mobil milik Fabio, maka dia tidak akan mungkin bersikap ramah dan lemah lembut seperti tadi. Walau yang mengemudikannya seorang wanita.
"Secepat ini bertemu dengan mereka lagi," ujar Alex dengan senyum tipis di bibirnya. "Sepertinya baru kemarin berpisah dengan mereka."
Supir yang bersama Alex berdiri di dekat mobil. "Tuan, bagaimana dengan mobil ini?" supir itu tidak lagi bisa memperbaiki kerusakan-kerusakan yang ada karena sekarang kerusakan berada pada level parah. Hanya ahlinya yang bisa memperbaiki semua kerusakan tersebut.
"Kirim ke bengkel dan pastikan harus siap hari ini juga!" perintah Alex. "Mobil ini, tinggalkan saja. Nanti juga di ambil sendiri sama pemiliknya," ketus Alex yang terlihat tidak mau berurusan lagi dengan segala hal yang berhubungan dengan Fabio Cassano.
"Baik, Tuan." Supir itu segera mengambil ponselnya dan menghubungi pihak bengkel. Sedangkan Alex bersandar di samping mobil sambil membayangkan wajah Lara yang sangat sulit untuk dia lupakan.
__ADS_1
Bahkan sampai detik ini rasa cinta itu masih membuatnya kesulitan bernapas. Setiap kali mengingat Lara dan Fabio sudah menikah, pria itu menjadi sesak napas. Ingin marah tapi tidak mungkin. Saat ini Fabio hanya fokus dengan kesehatan ibu kandungnya. Dia berusaha keras melupakan Lara Alessandra dan segala hal yang berhubungan dengan wanita itu.
"Siapa wanita tadi? Bagian dari keluarga Cassano? Apa dia adik ipar Lara? Sejak kapan Fabio punya adik?" Dia terus-menerus bertanya di dalam hati.
Alex memandang ke dalam mobil. Ia melihat tas milik Rosita yang tergeletak di bangku kemudi. Dengan lancangnya Alex mengambil tas tersebut dan membuka isinya. Pria itu menemukan kartu yang diberikan Walter serta dompet Rosita yang berisi identitas lengkap wanita itu. Termasuk tempat tinggalnya selama ini.
"Rosita. Di kartu tertulis jelas kalau dia tinggal di sebuah apartemen sederhana yang ada di kota ini. Kenapa Dokter Alfred mengatakan kalau dia bagian dari keluarga Cassano?"
Alex segera mengambil ponselnya dan memotret kartu identitas milik Rosita. Pria itu ingin meminta bawahannya untuk melakukan sebuah penyelidikan.
...***...
Rosita duduk dengan wajah bingung. Sebenarnya ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi, mau bertanya dia takut. Apa lagi sekarang ini wajah Dokter Alfred terlihat tidak bersahabat. Sejak masuk ke dalam mobil, pria itu hanya memandang ke depan dan fokus dengan jalan depan saja. Laju mobilnya juga sangat cepat seolah sekarang mereka sedang di ikuti dari belakang. Dokter Walter yang sejak pertama kali bertatap muka dengan Rosita selalu tersenyum kini terlihat berbeda jauh. Sangat menyeramkan. Sampai-sampai Rosita tidak berani mengucapkan satu katapun detik itu.
"Pria tadi bernama Alex Moritz? Siapa dia? Kenapa Dokter Alfred terlihat benci sekali dengan pria itu? Apa mereka musuhan? Kalau di lihat lagi, pria bernama Alex itu seperti orang baik. Dari penampilannya terlihat jelas kalau dia pengusaha sukses. Tetapi, kenapa Dokter Alfred sangat membencinya?" batin Rosita. Ia meletakkan tangannya di atas pangkuan. Wajahnya berubah serius. "Tasku. Dimana tasku?" ujarnya dengan wajah panik. Ia mencari tas berwarna pink tersebut ke segala arah yang ada di dalam mobil. Namun, tidak juga menemukannya. Sejenak Rosita kembali mengingat dimana terakhir kali ia meletakkan tasnya itu.
__ADS_1
"Apa yang anda cari, nona?" tanya Dokter Alfred. Walau tidak mengucapkan satu katapun, tetapi Dokter Alfred tahu kalau Rosita sedang mencari sesuatu.
"Tas saya hilang. Pasti ketinggalan di mobil," sahutnya. Debaran jantungnya menjadi tidak karuan. Kartu dan semua barang miliknya ada di sana. Rosita takut semuanya hilang. Apa lagi sampai dipakai oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Mungkin barang miliknya tidak terlalu berharga. Namun, bagaimana dengan kartu milik Walter? Walter bisa rugi besar karena kecerobohannya.
"Akan saya urus," jawab Dokter Alfred dengan santai. Ia mengambil ponselnya dan menekan nomor seseorang. Melekatkan ponselnya ke telinga lalu kembali fokus ke depan.
"Aku akan kirimkan alamatnya. Datang ke tempat itu dan ambil tas Nona Rosita."
Tidak lama setelah bicara Dokter Alfred mematikan panggilan teleponnya. Ia ingin membawa Rosita pulang ke mansion. Pria itu tidak mungkin mengantarkan Rosita ke mall untuk berbelanja. Mobil tidak ada kartu juga tidak ada. Akan sangat merepotkan bagi Dokter Alfred. Di tambah lagi Dokter Alfred sudah memiliki istri. Dia tidak mau
sampai membuat istrinya salah paham.
"Terima kasih, Dok." Rosita mengukir senyum berharap bisa mencairkan suasana. Namun, tidak ada balasan senyum di wajah Dokter Alfred.
"Sepertinya lebih baik diam daripada buat masalah baru," gumam Rosita di dalam hati.
__ADS_1
Dokter Alfred terus saja kepikiran Alex. "Bukankah kabar terakhir yang aku dapatkan dia membawa ibu kandungnya berobat di luar negeri? Kenapa sekarang dia ada di sini lagi? Apa dia ingin merusak rumah tangga Lara dan Fabio? Tidak! Itu tidak mungkin terjadi. Kenapa dari sekian banyak tempat, bisa-bisa Aku bertemu dengan pria itu lagi," gumam Dokter Alfred di dalam hati. Ia menambah laju mobilnya lagi agar bisa segera tiba di mansion.