
Rosita merasa tidak tenang. Sudah berjam-jam dia ada di atas tempat tidur, tetapi kedua matanya tidak juga bisa terpejam. Ia kepikiran Walter. Belum lagi kamar yang kini dia tempati terasa asing. Walau memang bisa dibilang kamar itu mewah dan nyaman, tetapi Rosita tidak bisa memejamkan matanya selama ada di kamar tersebut. Entah apa yang salah di sana. Dari mulai membiarkan lampu tetap menyala sampai mematikannya dan menggantinya dengan lampu tidur sudah dia lakukan. Tetapi, Rosita tidak juga bisa tidur.
"Sepertinya aku tidak bisa lama-lama di tempat ini. Besok pagi aku harus membujuk Tuan Walter agar mengizinkanku pulang," batin Rosita. Ia menyingkirkan selimut abu-abu tua yang menutupi tubuhnya sebelum menurunkan satu persatu kakinya ke lantai. Tiba-tiba saja dia ingin melihat apa yang ada di balik jendela tinggi yang tertutup gorden tersebut.
Secara perlahan Rosita melangkah. Ia membuka sedikit gorden agar bisa melihat apa yang ada di luar sana. Alisnya saling bertaut ketika melihat ada banyak sekali orang berkumpul di sana. Sekitar 20 meter dari posisi kamar Rosita berada.
"Tadi sebelum tidur sepertinya tidak ada orang di sana. Kenapa sekarang jadi ramai? Apa yang terjadi?" ujar Rosita bingung. Ia memperhatikan lagi satu persatu wajah orang yang berkumpul di sana. Alisnya berkerut ketika melihat Dokter yang sempat mengobatinya juga ada di sana. Bahkan juga ada beberapa orang berpakaian dokter di sana.
"Apa di sana ada rumah sakit? Sebenarnya seperti apa bentuk mansion ini? Jangan-jangan di bawah mansion ini ada mall lagi," umpat Rosita di dalam hati. Wanita itu terus saja memperhatikan keramaian yang ada di halaman belakang.
Rosita menyipitkan kedua matanya ketika melihat helikopter turun. Beberapa orang mendekati helikopter sambil membawa brangkar. Kali ini Rosita menjadi semakin penasaran sebenarnya siapa yang sakit. Wajahnya semakin serius ketika beberapa pria dan dokter mengerubungi brangkar yang sudah berisi seseorang tersebut.
"Siapa dia? Mereka mau membawanya ke mana?" Rosita terus memperhatikan segerombolan orang yang kini mendorong brangkar tersebut. Namun, sayangnya Rosita tidak bisa melihat dan tidak tahu kalau sebenarnya orang yang ingin di tolong itu adalah Walter. Banyaknya orang di sana menghalangi pandangan Rosita. Belum lagi lampu di sana memang tidak terlalu terang.
"Sebaiknya aku tidak ikut campur. Ini rumah mereka. Aku hanya tamu yang kedatangannya juga tidak di undang. Mungkin kalau tidak ada kejadian alergi sampai pingsan, aku juga tidak mungkin menginjakkan kakiku di mansion mewah ini?"
Rosita menutup kembali gordennya. Ia melangkah ke tempat tidur karena ingin kembali istirahat. Walau mungkin sampai pagi dia tidak bisa tidur. Tetapi setidaknya badannya berada dalam posisi istirahat.
Rosita memeluk selimut sambil memandang langit-langit kamar. "Kenapa tiba-tiba aku jadi kepikiran Tuan Walter ya. Apa dia baik-baik saja? Jika aku ingin bertemu dengannya, bagaimana caranya? Apa yang harus aku lakukan jika besok pagi Tuan Walter tidak menemuiku? Dan, orang yang di bawa helikopter tadi siapa? Apa dia pemilik mansion ini? Sepertinya dia orang penting. Semua orang memperlakukannya dengan hati-hati."
__ADS_1
Lama kelamaan kedua mata Rosita mulai mengantuk. Wanita itu memejamkan matanya dan tidak ingat apa-apa lagi. Ia berdoa semoga hari esok jauh lebih baik dan hari serba melelahkan yang terjadi hari ini hanya terjadi sekali seumur hidupnya. Ia tidak akan pernah menyangka, kalau kejadian itu justru pembuka dari masalah yang lebih rumit lagi yang nantinya harus ia hadapi.
Di sisi lain, Walter sudah di pasang alat medis di sekujur tubuhnya. Dokter Alfred berdiri di samping Walter sambil menjaga agar oksigen dan kantung darah terpasang dengan baik agar bisa aman masuk ke dalam tubuh Walter. Dia tidak mau sampai ada kesalahan dalam operasi malam ini.
Beberapa dokter bedah telah ada di ruangan tersebut. Mereka juga telah siap mengeluarkan peluru yang menancap di perut Walter. Peluru itu sedikit lagi mengenai organ vital Walter. Memang keberuntungan masih berpihak padanya. Walau kehilangan banyak darah, tetapi dia masih diberi kesempatan untuk tetap hidup.
Dokter Alfred mengeryitkan dahi ketika melihat plaster pink yang ada di tangan Walter. Ini pertama kalinya ia menemukan sebuah plaster di tangan pria kejam seperti Walter. "Siapa yang berani meletakkan benda tidak berguna ini di sini?" gumam Dokter Alfred yang hanya berani di dalam hati saja. Dia juga tidak mau sampai mengganggu konsentrasi dokter yang lainnya.
Dokter Alfred kembali ingat dengan Rosita. Pria itu tersenyum sebelum membuang plaster pink itu ke tong sampah. Ia memeriksa luka tembak di lengan Walter sebelum memakaikan perban.
Saat keadaan masih serius, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Fabio muncul dengan wajah khawatir. Pria itu berdiri di sana dan memandang Walter dengan tatapan sedih.
"Semua berjalan lancar. Kami sudah berhasil mengambil peluru dari dalam perutnya. Obat terbaik akan membuat lukanya cepat kering. Anda tidak perlu khawatir, Tuan," jawab dokter bedah yang menangani Walter.
Fabio memandang Dokter Alfred. "Apa kau sibuk? Ada yang ingin aku bicarakan?"
"Baiklah. Setelah selesai aku akan menemui anda, Tuan," jawab Dokter Alfred yang memang saat itu sedang sibuk memakaikan perban di lengan Walter.
Fabio mengangguk sebelum berputar. Mendengar kabar kalau Walter baik-baik saja sudah membuatnya kembali tenang. Sambil melangkah pergi, Fabio membuka jaket hitam yang melekat di tubuhnya.
__ADS_1
Dokter Alfred mengeryitkan dahi melihat darah segar mengalir di lengan Fabio. "Kenapa mereka selalu saja cedera di tangan," gumam Dokter Alfred di dalam hati. Ia mengambil alat medisnya dan membawanya menuju ke tempat Fabio berada.
Fabio duduk di sebuah kursi yang ada di depan ruangan operasi. Ia memandang ke depan sambil melamun. Sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Seharusnya detik ini dia bahagia bahkan berpesta karena misi mereka berhasil. Musuh telah kalah dan target berhasil di amankan. Namun, masuknya Walter ke ruang operasi membuat semuanya menjadi sedih. Terutama Fabio.
"Luka tusukan?" tanya Dokter Alfred sambil memperhatikan luka di lengan kiri Fabio.
"Lara pasti akan marah jika melihat luka ini. Aku bahkan tidak menyadarinya. Mungkin karena hanya luka kecil," sahut Fabio.
"Bukan luka kecil. Tapi, kau terlalu panik memikirkan Walter hingga luka seperti ini tidak terasa." Dokter Alfred mulai membersihkan darahnya terlebih dahulu sebelum membalutkan perban di sana.
"Lara memintaku untuk tidak pergi. Dia tidak suka dunia gelap seperti ini. Kau sendiri yang bilang. Sangat berbahaya. Tetapi, membiarkan Walter menjalaninya sendiri, aku tidak tega. Mereka berdua sama-sama penting dalam hidupku. Aku tidak bisa memilih."
"Kalian tidak bulan madu?" sahut Dokter Alfred.
"Bulan madu?" Fabio menatap dokter Alfred dengan tatapan tidak percaya. "Kau memintaku untuk bulan madu saat keadaan kacau seperti ini?"
"Setidaknya Lara bahagia. Mungkin ketika nanti Lara hamil, kau bisa mengerti apa yang selama ini dia rasakan."
"Hamil?" Dokter Alfred mengangguk lagi. Pria itu kembali fokus memasang perban di lengan Fabio agar terlihat rapi. Sedangkan Fabio, hanya diam sambil memikirkan solusi yang baru saja diberikan Dokter Alfred.
__ADS_1
"Sepertinya aku memang harus meluangkan waktu untuk Lara. Hanya berdua. Jika berada di mansion ini, aku tidak akan pernah fokus dengan rencana kami untuk mendapatkan anak," gumam Fabio di dalam hati.