Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 54


__ADS_3

Walter dan Rosita telah tiba di gerbang depan. Mereka melihat segerombolan pasukan Black Dragon sedang mengerumuni seorang wanita di depan sana. Walter mempercepat langkah kakinya sambil memegang tangan Rosita. Pria itu tidak mau melepaskannya. Bahkan sedikitpun dia tidak mau memberi jarak dengan Rosita.


"Bos, ini dia mata-mata yang selama ini kami bicarakan. Akhirnya kami berhasil menangkapnya," ucap salah satu pria yang ada di sana. Dia terlihat sangat berbangga diri sudah berhasil menangkap sosok yang membuat hidupnya tidak tenang selama beberapa hari ini.


Mereka memberi jalan kepada Walter dan Rosita untuk bisa melihat sosok wanita tersebut. Walter mengeryitkan dahi melihatnya. "Siapa anda? Apa yang anda inginkan?"


Karena wajahnya tertutup rambut, jadi Walter dan Rosita tidak bisa melihat dengan jelas. Pasukan Black Dragon menjambak rambut wanita itu hingga dia memperlihatkan wajahnya yang kotor.


Rosita menutup mulutnya melihat wanita yang kini di tangkap pasukan Black Dragon adalah kakak kandungnya sendiri. Sosok yang selama ini dia cari dan sangat dia rindukan. Antara percaya dan tidak percaya. Namun, setelah dipandang dengan saksama. Akhirnya Rosita memantapkan diri kalau memang benar wanita di depannya adalah kakak kandungnya sendiri.


"Kakak."


Mendengar suara Rosita membuat Walter memandang dengan alis saling bertaut. Pria itu tidak menyangka kalau Rosita bisa mengenali sosok yang baru saja di tangkap anak buahnya sendiri.


"Pibi, kau mengenalnya?" Walter memandang Rosita dan menagih penjelasan.


Tawanan wanita itu mengangkat dagunya. Dia memandang Rosita sebelum akhirnya menangis. Tanpa rasa takut lagi dia berdiri karena ingin memeluk Rosita.


"Rosi adikku," ujarnya dengan suara lirih.


Pasukan Black Dragon menghalangi wanita itu mendekati Rosita. Mereka tidak akan melepaskannya sampai ada perintah dari Walter.


"Kakak." Rosita segera memandang Walter. Memegang lengan pria itu dan mengguncangnya. "Dia kakakku. Tolong lepaskan."


Walter memberi kode kepada Black Dragon agar melepas wanita itu. Mereka semua segera membiarkan wanita itu bersama dengan Rosita. Apa lagi yang bisa mereka lakukan jika seorang Walter sudah memberi perintah?


"Kakak, apa yang kakak lakukan di sini? Kenapa kakak tidak bilang kalau kakak sudah pulang?" lirih Rosita sambil menangis sedih.

__ADS_1


"Kakak tidak memiliki nomor teleponmu Rosi. Maafkan kakak karena pernah menyia-nyiakanmu waktu itu. Sekarang kakak menderita. Mungkin ini Karan yang harus kakak terima karena dulu kakak tidak menyayangimu dan tidak mempedulikanmu."


Dari ceritanya saja sudah membuat Walter ingin marah.


Walter sendiri tidak tahu harus bicara apa sekarang. Bagaimana bisa kakak Rosita justru sosok yang selama ini mereka pandang sebagai mata-mata?


“Pibi, kita harus membawanya ke dalam. Aku akan menghubungi Dokter Alfred untuk memeriksanya. Setelah ini, kau harus jelaskan padaku. Siapa dia,” ucap Walter.


Rosita mengangguk setuju sembari menghapus air matanya. Wanita itu tidak mau melepas pelukan kakaknya. Dia berjalan membawa wanita itu masuk ke dalam di bantu oleh pelayan wanita yang juga ada di sana. Walter dan pasukan Black Dragon ada di belakang Rosita. Walau Rosita sendiri sudah mengakui kalau wanita itu adalah kakaknya. Tetap saja mereka harus waspada. Karena segala hal buruk bisa saja terjadi. Hal itu bukan sekali dua kali di temui oleh Walter.


“Bos, anda yakin wanita itu adalah kakak dari Nona Rosita? Wajah mereka tidak mirip.” Bawahan Walter berusaha memperingati Walter. “Bagaimana kalau kita hukum saja dan kita paksa agar dia jujur, Bos.”


“Biar aku yang urus!” sahut Walter. Pria itu berjalan lagi karena tidak mau jauh-jauh dari Rosita. Sebenarnya ada benarnya juga saran yang di sampaikan oleh pasukan Balck Dragon. Tetapi, bagaimana kalau Rosita tidak setuju? Di lihat dari ekspresi wajah Rosita saat ini, dia sangat yakin kalau wanita itu adalah kakak kandungnya.


***


"Rosi, kakak bisa sendiri," ucap wanita itu ketika Rosita ingin melepas pakaiannya.


"Biar aku yang melakukannya kak. Izinkan aku mengurus dan merawat kakak seperti yang dulu kakak lakukan ketika aku masih kecil." Rosita tetap melakukan apa yang ingin dia lakukan. Sedangkan wanita di depannya hanya bisa diam saja dan pasrah. Dia memperhatikan kamar mandi mewah yang kini ia tempati. Rasanya kasih tidak menyangka kalau dia bisa masuk ke dalam mansion mewah itu.


"Rosi, bagaimana bisa kau masuk ke mansion ini? Aku tidak tahu kalau kau ada di dalam mansion ini. Aku dengar-dengar tempat ini sangat luas dan membutuhkan banyak pekerja. Aku berniat untuk melamar kerja sebagai tukang kebun di mansion ini. Tetapi, mereka mencurigaiku sebagai mata-mata. Aku pikir aku akan mati di tangan mereka tadi," ucap wanita itu dengan wajah sedih. Dia masih ketakutan setiap kali membayangkan wajah menyeramkan pasukan Black Dragon yang sudah menangkapnya.


"Mereka hanya salah paham, Kak. Setelah ini mereka tidak akan memperlakukan kakak dengan kasar lagi," jawab Rosita sambil menggosok tubuh wanita itu.


"Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa yang kau lakukan di tempat ini, Rosi? Kau bekerja di sini?" Dia terlihat sangat penasaran. Rosita memandang wanita itu dengan tatapan bingung. Dia tidak tahu harus bagaimana. Mengatakan yang sebenarnya atau berbohong saja.


"Rosi, kenapa kau diam saja?" protesnya ketika Rosita tidak juga menjawab.

__ADS_1


"Aku bekerja kak. Aku menjadi pelayan di rumah ini," jawabnya asal saja. Setelah keadaan membaik, dia akan mengatakan semua yang terjadi. Termasuk pernikahannya dengan Walter yang akan berlangsung tidak lama lagi.


"Benarkah?" Wanita itu membasuh wajahnya dengan air. "Rosi, aku bisa sendiri. Aku ingin berendam di bak itu," tunjuknya pada bathtub yang ada di depan sana. Rosita hanya mengangguk saja. Dia juga harus menemui Walter untuk memberi tahu apa yang terjadi. Rosita tidak mau sampai Walter salah paham karena dia telah berbohong kepada kakaknya.


"Aku tunggu di depan ya kak. Aku akan memeriksa makan siang untuk kakak," ucap Rosita sebelum beranjak. Wanita itu hanya mengangguk saja sebelum masuk ke dalam bak mandi. Rosita menutup pintu itu dengan hati-hati sebelum meninggalkan kamar.


Walter masih menunggu di depan kamar. Dia tidak akan meninggalkan Rosita bersama dengan wanita asing itu. Walau wanita itu di panggil dengan sebutan kakak oleh Rosita, tetap saja wanita itu orang asing bagi Walter.


Melihat Rosita keluar membuat Walter segera menarik Rosita. Dia membawa wanita itu ke lokasi yang tidak terlalu jauh dari kamar.


"Apa benar dia kakakmu? Pibi, kau harus tahu kalau aku sudah sering bertemu dengan orang yang menggunakan topeng untuk menyamar," ucap Walter memperingati.


"Dia memang benar kakakku. Aku berani jamin," jawab Rosita.


"Baiklah. Aku percaya padamu. Sekarang apa yang ingin kau lakukan terhadapnya? Kau akan membiarkan dia tinggal di sini?"


"Apa Kak Walter keberatan?" tanya Rosita balik.


Walter diam sejenak sebelum menggeleng. "Aku sama sekali tidak keberatan. Bagaimana denganmu? Apa kau nyaman jika dia ada di mansion ini?"


"Tentu saja. Dia kakak kandungku," jawab Rosita. Dia melangkah ke samping menjauhi Walter. "Tetapi, untuk beberapa hari ke depan. Aku mau merahasiakan hubungan ini darinya. Aku tidak mau dia kecewa."


"Apa maksudmu, Pibi?"


"Kak, bisakah kita terlihat seperti majikan dan pelayan seperti biasanya?"


Walter menggeleng tidak setuju. "Kau mau aku memanggilmu apa?"

__ADS_1


__ADS_2