Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 48


__ADS_3

Rosita terlihat bingung ketika melihat Walter memasang wajah masam. Padahal tadi sebelum mereka berangkat, Walter terlihat sangat ceria. Pria itu bahkan sering mengajaknya bicara di dalam mobil. Setelah membaca sebuah pesan ekspresi wajah pria itu berubah. Rosita ingin tahu, sebelum siapa yang sudah mengirim pesan dan kira-kira apa isi pesannya hingga berhasil membuat Walter berubah menjadi seperti ini.


"Kak, saya mau belanja gaun," ucap Rosita ketika Walter terus saja berjalan tanpa henti. Sampai-sampai pria itu melewatkan beberapa toko gaun yang ada di sana.


Walter menahan langkah kakinya. Pria itu memandang toko gaun yang sempat ia lewati sebelum tersenyum. "Maafkan aku. Ayo kita belanja di sana. Aku akan menemanimu."


"Astaga, apa ini benar-benar seorang Walter? Pria galak yang terkenal dingin seperti kutub Utara? Kenapa dia bisa berubah menjadi ramah seperti ini? Apa yang sudah membuatnya berubah menjadi seperti ini?" Rosita hanya bisa bergumam di dalam hati. Wanita itu sama sekali tidak menyangka kalau Walter bisa berubah semanis ini. "Jika seperti ini, dia tidak terlihat seperti seorang pembunuh."


"Pibi, apa yang kau pikirkan?"


"Aku sedang mengingat-ingat, gaun apa yang cocok digunakan di pesta nanti," jawabnya asal saja. Walter mengangguk sebelum melangkah menuju ke toko gaun yang ada di sana.


"Nona, apa anda mau mengabadikan momen indah bersama kekasih anda?"


Tiba-tiba ada remaja muncul sambil membawa camera di tangannya. Remaja itu berusia sekitar 17 tahun. Dia tersenyum kepada Rosita ketika menawarkan jasa foto yang ia miliki. "Murah saja, Nona. Saya kasih harga spesial. Foto lima kali cuma bayar tiga kali. Bagaimana?" tawar remaja itu dengan penuh antusias.


Rosita menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tetapi aku tidak memiliki pacar," jawabnya pelan.


"Anda hanya merendah saja, Nona. Bukankah Tuan yang sekarang berdiri di samping anda ini adalah pacar anda? Ayo dong Nona. Mau ya mau?" Remaja itu tidak mau menyerah. Ia terus berusaha merayu Rosita sampai Rosita mau menggunakan jasa fotonya.


Rosita memandang ke arah Walter. "Kak Walter, apa anda mau foto bersama saya? Kasihan anak ini. Dia pasti butuh uang untuk biaya sekolah dan biaya hidup," ucap Rosita berharap Walter tidak menolak ajakannya untuk foto berdua.


"Hanya foto saja? Sepertinya tidak masalah," jawab Walter sebelum berdehem pelan. Pria itu memandang remaja yang berdiri di depannya sebelum mengeluarkan uang dari dalam dompet. Ia memberikan beberapa lembar kepada remaja itu hingga membuat anak remaja itu kegirangan.

__ADS_1


"Terima kasih, Tuan." Remaja itu mundur beberapa langkah untuk menyesuaikan posisi Rosita dan Walter.


"Nona, apa anda bisa bergeser sedikit? Jaraknya terlalu jauh," teriak remaja itu.


Rosita memandang ke arah Walter sebelum melangkah sedikit demi sedikit mendekati Walter. Wanita itu tersenyum setelah ia sudah ada di dekat Walter dan siap di foto.


"Tuan, tolong pegang pundak kekasih anda. Posisinya akan menjadi pas dan terlihat serasi. Jika berjauhan seperti ini, ntar di kira orang kalian sedang bermusuhan."


Walter mengeryitkan dahinya. Tetapi anehnya dia tidak marah apa lagi protes. Walter menurut saja dengan kata-kata yang diucapkan anak remaja itu. Dia mengangkat tangannya dan meletakkannya di pundak Rosita. Mereka berdiri dengan begitu dekat sebelum sama-sama mengukir senyuman.


"Oke, satu dua tiga!"


Remaja itu tersenyum ketika dia melihat hasil fotonya sangat bagus. Padahal baru sekali jepret saja. "Wah, ini tidak perlu di ulang." Dia memegang cameranya dan mencari posisi yang pas lagi.


"Tuan, Nona. Saling memandang ya. Fotonya biar terlihat romantis," teriak remaja itu lagi.


"Kak, sepertinya sudah cukup ya?" ucap Rosita yang saat itu takut kalau Walter sampai marah.


Hal yang tidak terduga terjadi, Walter justru mendekati Rosita dan menarik pinggang wanita itu. Dia menatap kedua mata Rosita dengan tatapan yang begitu dalam. Rosita sampai terhipnotis dibuat Walter. Wanita itu tidak bisa berkata-kata lagi ketika remaja di sampingnya mengambil foto mereka hingga beberapa.


"Kenapa tiba-tiba aku deg deg an gini ya? Sebenarnya aku ini sakit apa? Kenapa Kak Walter mau saja diperintah sama anak remaja tukang foto itu?" gumam Rosita di dalam hati.


Cukup lama mereka saling memandang satu sama lain. Sampai-sampai mereka tidak sadar kalau remaja tukang foto tadi telah selesai mengambil gambar mereka. Anak remaja itu berlari ke tempat lokasi dia dan rekan-rekannya berkumpul untuk mencetak foto Rosita dan Walter.

__ADS_1


"Apa ini? Kenapa aku merasa nyaman memandang wajahnya?" gumam Walter di dalam hati. Pria itu memandang bibir merah Rosita dan menjadi tergoda. Ingin sekali dia mencium bibir merah itu. Namun, Walter tidak selancang itu. Mereka tidak memiliki hubungan apapun. Tidak sepatutnya Walter melakukan hal sejauh itu.


"Nona, ini fotonya."


Walter dan Rosita sama-sama melepas rangkulan mereka. Wajah mereka terlihat malu. Mereka memandang ke arah yang berlawanan sebelum memandang anak remaja itu.


"Apa sudah selesai? Cepat sekali?" tanya Rosita. Wanita itu menerima paper bag biru yang diberikan remaja itu sebelum memeriksa hasil foto yang diletakkan di dalamnya.


"Terima kasih, Tuan Nona. Semoga kalian berjodoh sampai maut memisahkan," ujar remaja itu sebelum dia pergi untuk mencari target foto lainnya. Rosita tertegun mendengar doa anak itu sebenarnya memandang ke arah Walter. Dia menundukkan foto-foto yang sudah di cetak kepada Walter.


"Dia berbakat ya? Padahal penampilanku biasa saja tapi di foto ini terlihat sangat berkelas," puji Rosita. Dia bahagia melihat hasil foto remaja itu. Hasilnya sangat bagus hingga membuat Rosita sampai kagum dengan wajahnya sendiri. Dia dan Walter terlihat seperti sepasang model iklan sebuah brand.


"Kau memang cantik," celetuk Walter tanpa sadar. Pria itu melangkah ke depan dengan ekspresi wajah yang cuek.


"Kak, apa yang tadi kakak katakan? Coba ulangi!" teriak Rosita. Dia memasukkan foto itu ke dalam paper bag sebelum mengejar Walter.


...***...


Di sisi lain, Dokter Alfred tidak bisa berhenti menahan tawa. Dia bisa bayangkan bagaimana ekspresi Walter setelah membaca pesan singkat yang ia kirim ke ponsel pria itu.


"Pasti dia akan segera menemuiku dan memarahiku. Tapi, baguslah. Dengan begini secara tidak langsung dia tertangkap kalau sedang cemburu. Aku dan Lara tidak akan bisa menyatukan mereka jika salah satu di antara mereka tidak ada yang mengakui perasaannya," gumam Dokter Alfred di dalam hati. Dia mengotak-atik ponselnya lagi. Tanpa sengaja pria itu memutar video pernikahannya bersama sang istri. Ekspresi wajah pria berubah sedih. Dia menatap layar ponselnya dengan mata berkaca-kaca. Ada senyum kecil di sudut bibirnya.


"Sayang, aku sudah berjuang untuk tidak menangis. Tetapi, air mata ini keluar sendiri?" Dokter Alfred menghapus air matanya dengan tisu. Pria itu mengatur napasnya agar bisa kembali tenang. Padahal tadinya dia baik-baik saja. Ketika wajah istri kembali mengisi pikirannya, pria itu berubah menjadi tidak karuan. Napasnya jadi sesak dan kepalanya terasa pusing.

__ADS_1


"Sebaiknya aku istirahat saja. Aku butuh waktu untuk melupakan semua kenangan kita sayang."


Dokter Alfred mengambil pil tidur dan meneguknya. Pria itu meletakkan ponselnya di atas meja sebelum berbaring di ranjang.


__ADS_2