
Satu Bulan kemudian
Walter melompat ke kolam renang sebelum melakukan gerakan renang di dalam air. Rosita yang juga ada di sekitar kolam renang hanya tersenyum saja melihat suaminya berenang. Tubuh kekar pria itu selalu saja membuat Rosita tersipu malu. Pernikahan mereka semakin hari semakin harmonis. Rosita mulai mengerti perannya sebagai seorang istri. Begitupun dengan Walter yang semakin hari semakin menunjukkan rasa cintanya terhadap sang istri.
"Nona, ini jus pesanan anda."
"Letakkan saja di sini," sahut Rosita sambil tersenyum ramah.
Seorang pelayan muncul dengan membawa jus jeruk. Dia meletakkannya di atas meja sebelum menunduk hormat dan pergi.
Rosita mengambil jus tersebut lalu meminumnya secara perlahan. Kedua matanya tidak bisa berpaling ke tempat lain. Hanya Walter yang menjadi perhatian utamanya saat ini.
"Aku masih tidak menyangka kalau sekarang aku memiliki suami setampan dan segagah Kak Walter. Dia pria yang sempurna. Dia pria idaman semua wanita."
Rosita menopang kepalanya dengan tangan. Dia kembali membayangkan malam-malam indah yang sudah ia lalui bersama Walter selama ini. Tanpa sadar Rosita memegang perutnya yang masih rata. Dia sudah tidak sabar untuk hamil. Rosita ingin benih yang diberikan Walter segera berubah menjadi sosok janin di rahimnya.
"Semoga saja secepatnya aku bisa hamil. Kak Walter pasti senang jika aku hamil. Dia pasti akan semakin menyayangiku," gumam Rosita.
__ADS_1
"Rosita!"
Rosita memiringkan kepalanya ke samping. Wajah wanita itu semakin ceria melihat Mesy berdiri di sana dengan beberapa paper bag di tangannya.
"Kak Mesy!" teriak Rosita. Wanita itu langsung beranjak dari kursi dan berlari menyambut kedatangan Mesy. Sudah satu bulan lamanya mereka berpisah. Mesy harus menjalani terapi untuk menghilangkan racun yang ada pada tubuhnya. Wanita itu didampingi oleh Dokter Alfred.
"Rosi, kakak sangat merindukanmu." Mesy segera memeluk Rosita dengan erat. Bahkan melemparkan paper bag yang ia bawa ke lantai.
"Kak, bagaimana keadaan kakak?" Rosita memeriksa sekujur tubuh Mesy. "Apa racun itu sudah benar-benar hilang?"
Mesy mengangguk. "Dokter Alfred memang sangat bisa diandalkan. Dia memiliki banyak kenalan hingga akhirnya kakak bisa sehat seperti sekarang. Oh ya, dimana Walter? Kakak mau mengucapkan terima kasih padanya."
"Rosi, kakak belikan beberapa barang untukmu. Kakak yakin kau menyukainya." Mesy mengambil kembali paper bag di lantai dan memberikannya kepada Rosi. "Kakak juga gak bisa lama-lama. Dokter Alfred menunggu kakak di mobil."
"Kenapa Dokter Alfred tidak masuk?" Rosi menerima semua paper bag yang diberikan Mesy.
Mesy memeluk dan mencium pipi Rosi. "Kakak akan menghubungimu lagi nanti."
__ADS_1
Rosi tersenyum saja melihat tingkah laku kakaknya. Namun wanita itu masih penasaran kira-kira kemana suaminya menghilang. Rosita meletakkan paper bag yang diberikan Mesy tanpa memeriksa isi di dalamnya. Dia berjalan ke tepian kolam renang untuk memastikan kalau Walter memang sudah menghilang.
"Dimana Kak Walter?" Rosita kaget bukan main ketika tiba-tiba saja Walter muncul dan memegang kakinya. Pria itu menarik tubuh Rosita hingga wanita itu terjun ke kolam renang.
BYURRR
"Kak Walter!" teriak Rosita.
Walter hanya tersenyum saja melihat tingkah laku Rosita. Tanpa bicara pria itu menarik leher Rosita dan mencium bibirnya.
Walter telah tergila-gila kepada istrinya. Rosita adalah wanita yang kini menjadi penyemangat dan kekuatan baginya. Hanya Rosita yang bisa membuat seorang Walter kembali bersemangat.
Kini Walter mengerti betapa gilanya seorang pria yang jatuh cinta. Walter sudah mengerti apa yang menyebabkan seorang Fabio terkadang terlihat bodoh di depan Lara.
"Aku mencintaimu." Walter menatap Rosita dengan serius. "Sangat mencintaimu."
Rosita tersenyum mendengarnya. Wanita itu mengusap pipi Walter dengan lembut. "Aku juga mencintai Kak Walter. Sangat mencintai Kak Walter."
__ADS_1
Kali Rosita yang memberanikan diri mendekati Walter. Wanita itu yang lebih dulu mengecup bibir Walter sebelum akhirnya cumbuan itu menjadi semakin panas di dalam kolam renang.