
Rosita masuk ke dalam mansion dengan wajah tidak bersemangat. Ia terlihat bingung. Tidak tahu harus menjawab apa ketika Walter menanyakan kartu dan belanjaan yang seharusnya ia beli. Dokter Alfred tidak membantunya sama sekali. Pria itu hanya menurunkan Rosita di depan mansion sebelum pergi begitu saja tanpa pamit. Kini Rosita sangat dilema. Mau balik ke lokasi tempat mobil tertabrak juga tidak mungkin. Sudah hampir satu jam ia keluar dari kamar Walter. Rosita tahu kalau saat ini Walter pasti sedang menunggunya.
"Sebaiknya aku katakan saja sejujurnya. Percaya atau tidak itu urusan belakangan," gumam Rosita di dalam hati. Dia mempercepat langkah kakinya menuju ke lorong yang akan menghubungkannya ke kamar pribadi Walter.
Di dalam kamar, Walter duduk di atas ranjang sambil memeriksa laporan perusahaan yang baru saja di kirim oleh Vera. Laporan itu dititipkan kepada pengawal pribadi Walter hingga bisa sampai ke mansion. Jelas saja wanita seperti Vera tidak akan bisa masuk ke dalam mansion karena dia bukan orang penting.
Walter terlihat fokus dengan pekerjaannya hari ini. Memang selain memiliki otot yang kuat, pria itu di paksa memiliki otak yang cerdas. Fabio sudah tidak mau tahu masalah perusahaan. Pria itu hanya mau penghasilannya saja yang sudah pasti akan masuk ke rekening setiap bulannya. Mau untuk atau rugi, dia sama sekali tidak peduli.
Walter mengambil jus apel yang sudah di sediakan di atas nakas. Pria itu memalingkan pandangannya dari laptop ke arah pintu ketika mendengar suara sepatu high heels seorang wanita mendekati kamarnya. Belum masuk juga Walter sudah bisa menebak kalau itu adalah Rosita. Dia sudah tidak sabar melihat warna pink di sekujur tubuh Rosita.
Suara ketukan pintu membuat Walter memperbaiki posisi duduknya. Ia ingin terlihat seperti sedang bekerja bukan sedang menanti. Setelah mengizinkan Rosita masuk, Walter memasang wajah serius ke arah laptop tanpa mau memandang wajah Rosita secara langsung.
Rosita menutup kembali pintu kamar. Ia memandang Walter sekilas sebelum mendekat. Wanita itu masih bingung, harus dari mana menjelaskan yang sebenarnya terjadi kepada Walter.
"Tuan, ada yang ingin saya katakan," ucap Rosita hati-hati. Dia takut sampai membuat Walter marah.
Walter menutup laptopnya dengan wajah tidak bersahabat. Pria itu menatap Rosita sesegera mungkin. Ekspresi wajahnya semakin marah ketika melihat Rosita muncul tanpa membawa satu belanjaanpun. Bukan hanya itu saja. Ada memar di dahi wanita itu yang detik ini baru kelihatan jelas. Padahal tadi saat bersama dokter Alfred, lebam itu tidak terlihat sama sekali.
"Apa yang terjadi?" tanya Walter penuh selidik ketika ia melihat lebam di dahi Rosita.
"Saya ... saya ...." Bukan menjawab justru Rosita memejamkan mata dengan tangan terkepal kuat. Bahkan sampai memutih yang menandakan kalau dia sangat-sangat takut saat ini.
"PIBI!" ketus Walter mulai kesal karena Rosita tidak kunjung menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ingin mendekati Rosita dan memaksa Rosita juga tidak mungkin karena kali ini luka yang ia alami tidak main-main sakitnya.
__ADS_1
"Tuan, maafkan saya. Saya sudah menghilangkan kartu yang anda berikan," jawab Rosita. Ia masih mempertimbangkan masalah kecelakaan yang ia alami.
"Apa ada yang mengganggumu?" Walter terlihat sangat geram karena cerita Rosita setengah-setengah.
Rosita menggeleng. "Saya meninggalkan kartu itu di dalam tas. Tasnya ada di dalam mobil. Tetapi, mobilnya ...."
"Kau mau aku pecat?" ketus Walter semakin geram.
"Jangan, Tuan. Jangan. Maafkan saya." Rosita mendekat. Kedua tangannya sudah mengatup dan memasang wajah memohon. "Tuan, saya menabrak mobil orang. Seorang pria."
"Kau kecelakaan?"
"Ya, Tuan. Dokter Alfred tiba-tiba muncul dan membawa saya pergi begitu saja. Saya bahkan tidak sempat mengambil tas itu dari mobil."
"Seorang pria. Namanya ...."
Walter mengeryitkan dahi karena sudah tidak sabar mendengar nama yang akan disebutkan Rosita.
"Namanya Alex Moritz. Ya, Dokter Alfred memanggilnya dengan nama itu."
Walter melebarkan kedua matanya. Tanpa pikir-pikir lagi, Walter kali ini memaksa tubuhnya untuk berdiri. Ia segera mendekati Rosita dan mencengkram tangan wanita itu.
"Kau mengenal Alex Moritz? Apa kau orang yang di bayar Alex Moritz?" Mendengar nama Alex Moritz, membuat emosi Walter naik ke ubun-ubun. Bukan hanya dendam karena kematian Greta saja. Pria itu membenci Alex Moritz karena pernah membuat hidup Fabio menjadi tidak tenang. Menimbulkan masalah yang membuat mereka rugi besar.
__ADS_1
"Tuan, apa yang anda lakukan? Sakit ...," pekik Rosita sambil berjuang melepas genggaman tangan Walter. "Saya tidak kenal Alex Moritz. Mendengar namanya juga baru tadi saat Dokter Alfred mengatakannya."
Melihat Rosita kesakitan, Walter segera melepas tangan wanita itu. Memang tidak seharusnya dia menuduh Rosita hingga menyakitinya. Buktinya belum jelas. Hanya saja ada kegelisahan di hari Walter. Dia takut jika memang benar Rosita bagian dari rencana yang sudah dipersiapkan Alex Moritz.
Rosita mengusap lembut tangannya yang baru saja dicengkram Walter. Wanita itu menunduk hingga melihat baju putih yang dikenakan Walter basah dipenuhi darah segar. Kedua matanya melebar. Dia sangat khawatir.
"Tuan, luka anda," jerit Rosita.
Walter menunduk dan memandang perutnya sendiri. Pria itu mengumpat kasar sebelum kembali duduk di atas ranjang. Rosita yang panik segera mengambil kotak P3K yang telah disiapkan Dokter Alfred. Memang tadi sebelum masuk ke dalam kamar, pengawal yang membawa Rosita sempat menjelaskan apa-apa saja yang harus dilakukan oleh Rosita jika Walter sampai pendarahan ringan seperti itu.
"Tuan, saya akan mengganti perbannya. Anda duduk saja ya. Jangan banyak gerak dulu." Rosita duduk di pinggiran tempat tidur. Ia mengangkat sedikit ke atas kemeja putih Walter sebelum memandang wajah Walter.
"Tuan, sepertinya baju anda harus di ganti," ucap Rosita malu-malu.
"Lakukan yang seharusnya menjadi tugasmu! Jangan banyak bicara!" ketus Walter. Sepertinya pria itu masih belum bisa bersikap tenang karena masih terbawa-bawa masalah Alex Moritz.
Rosita menghela napas panjang. Ini pertama kalinya ia membuka kancing kemeja pria seperti ini. Sebenarnya dia tidak mau melakukannya. Tetapi, mau bagaimana lagi? Rosita butuh pekerjaan agar bisa memiliki penghasilan. Dia tidak mau terus-menerus menjadi wanita pengangguran yang hobinya tiduran.
Satu persatu kancing kemeja Walter di buka dengan jari lentik Rosita. Di kancing ke tiga, Rosita berhenti sejenak. Ia tertegun melihat tato yang terlukis indah di dada bidang milik Walter. Ingin sekali rasanya telapak tangannya yang hanya ini menyentuh langsung tato tersebut dan mengusapnya dengan lembut. Namun, itu sebuah perbuatan yang sangat beresiko. Rosita tidak mau buat masalah lagi.
"Apa yang kau lihat?" ketus Walter ketika Rosita hanya diam mematung.
"Da*da anda, Tuan."
__ADS_1
Walter melebarkan kedua matanya."PIBI!'