Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 40


__ADS_3

Rosita duduk di atas tempat tidur sambil memandang ke depan. Tatapan wanita itu terlihat kosong. Walau kini jelas-jelas dia sudah berada di tempat yang aman. Namun, segala penyiksaan yang pernah ia alami di Belanda masih terngiang dengan begitu jelas. Rosita merasa sulit untuk melupakannya.


Sejak tiba di mansion, Rosita memang belum ada bertemu dengan Walter maupun Dokter Alfred. Bahkan kabar kematian istri Dokter Alfred juga belum sampai di telinganya. Rosita dijaga dan di rawat sama dokter wanita yang di bayar oleh Walter. Dokter itu yang bertanggung jawab atas kesembuhan Rosita.


Walter dan Dokter Alfred fokus kepada kesehatan Fabio. Bagaimanapun juga, tetap Fabio yang harus di utamakan dibandingkan Rosita. Di mansion ini, Rosita belum memiliki ikatan yang kuat untuk bisa mendapatkan perhatian semua orang. Hanya Walter yang selalu ingat dengannya. Sedangkan Lara dan Fabio, hanya menganggap Rosita pelayan biasa. Tidak ada yang spesial. Walaupun semua orang tahu. Rosita sempat mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan Walter.


Suara ketukan pintu membuat Rosita memandang ke samping. Tiba-tiba saja dia merasa takut. Dia trauma. Yang memenuhi pikiran Rosita saat ini. Orang yang mau masuk ke dalam kamar itu adalah orang jahat yang berniat untuk menyiksanya. Ingin menangkapnya lagi dan membawanya ke tempat gelap yang jauh dari keramaian.


Tiba-tiba sekujur tubuh Rosita kembali terasa sakit. Walau beberapa luka di tubuhnya telah mulai kering. Tetapi, entah kenapa sekarang rasa perihnya kembali menyiksa.


"Aku tidak mau di tangkap lagi," ujar Rosita. Dia kebingungan. Menggeser guling dan bantal yang ada di tempat tidur sebelum menyingkirkan selimut yang menutupi kedua kakinya.


Dengan cepat Rosita turun dari tempat tidur. Ia menutup wajahnya dengan tangan sebelum melipat kedua kakinya. Duduknya sedikit ke sudut agar orang yang masuk tidak bisa melihatnya secara langsung. Tubuhnya bersandar di nakas yang ada di dekat tempat tidur.


Walter masuk ke dalam kamar ketika beberapa kali mengetuk tidak mendapatkan respon dari dalam. Padahal seharusnya Rosita bertanya siapa yang datang sebelum mengizinkannya masuk.


"Rosita, apa kau di dalam?" ujar Walter sembari masuk ke dalam kamar.


Walter menahan langkah kakinya ketika tidak menemukan Rosita di tempat tidur. Wajah pria itu langsung panik. Dia ingat betul kalau sebelum datang ke kamar Fabio, dia sempat melihat Rosita berbaring di atas tempat tidur. Dia datang lagi ke kamar ini karena dokter yang merawat Rosita memberi tahunya kalau Rosita sudah sadar.


"Dimana Rosita? Apa dia ke kamar mandi?"


Walter melangkah menuju ke kamar mandi. Langkah pria itu terhenti ketika dia melihat Rosita duduk di lantai sambil menutup wajahnya. Walter sempat mematung melihat pemandangan itu. Dia merasa kasihan. Tubuh Rosita yang gemetar pertanda kalau wanita itu dalam keadaan ketakutan. Memang dokter yang merawat Rosita sempat bilang kalau Rosita masih trauma. Dia butuh perhatian khusu agar bisa segera sembuh dan bangkit dari rasa takutnya.


Selangkah demi selangkah. Walter berjalan secara perlahan. Ia tidak mau membuat Rosita kaget. Pria itu akan bicara dengan Rosita secara lembut.


"Pibi ...." Walter berusaha menurunkan nada bicaranya agar Rosita mau memandangnya. Tidak menutup diri seperti ini.


Rosita membuka kedua tangannya dan memandang Walter. Ternyata kedua matanya telah dipenuhi dengan air mata. Wanita itu segera berdiri dan segera memeluk Walter. Ia merasa bahagia bisa melihat Walter sehat.


"Tuan ...." Rosita tidak bisa melanjutkan kalimatnya ketika air mata mengalir deras membasahi pipi. Ia terisak sambil memeluk Walter dengan begitu erat.


Walter hanya bisa mematung dipeluk seperti itu. Dia bahkan tidak tahu harus berkata apa lagi sekarang. Semua kalimat yang ingin ia ucapkan tertahan di mulut dan terasa sulit diucapkan.


"Tuan, saya senang melihat anda sudah sembuh. Setidaknya pengorbanan saya tidak sia-sia."


Deg.

__ADS_1


Walter seperti tertampar mendengar ucapan Rosita. Secara tidak langsung wanita itu telah menyudutkannya. Walter di buat merasa bersalah. Jika Walter tidak sakit, maka dia tidak akan menderita. Seperti itulah yang dipikirkan Walter saat ini. Padahal jelas-jelas Rosita memang benar-benar tulus telah membantu Walter. Bahkan dia tidak dendam dengan Dokter Alfred. hanya saja memang wanita itu belum mau bertemu dokter Alfred karena hatinya yang sakit belum sembuh.


"Kau menyesal sudah menolongku?" tuduh Walter.


Rosita menggeleng. Dia melepas pelukannya dan memandang wajah Walter dengan tatapan berkaca-kaca. "Saya senang bisa menolong anda."


Sebenarnya Walter sedang marah. Namun, ini bukan waktu yang tepat. Rosita sudah menderita. Dia tidak mau membuat wanita itu sakit hati apa lagi sampai kecewa. Walter kembali ingat dengan janjinya sendiri yang mengatakan akan melindungi Rosita bahkan dengan nyawanya sendiri.


"Bagaimana keadaanmu saat ini? Apa kau baik-baik saja?" Walter memandang ke sofa. "Apa bisa kita duduk di sana?" Tunjuk Walter ke arah sofa.


Rosita memandang ke pintu sebelum mengangguk setuju. Wanita itu merasa sedikit tenang ketika Walter ada di dekatnya.


Walter duduk lebih dulu diikuti oleh Rosita. Mereka duduk dengan posisi saling berhadapan. Rosita memandang Walter begitu juga sebaliknya.


"Rosita, maafkan saya karena sudah membuatmu seperti ini. Aku tahu pasti rasanya sangat menyakitkan. Tetapi, aku sudah berhasil menghabisi semua orang yang terlibat dalam penyiksaanmu. Kau sekarang bisa hidup dengan tenang karena orang-orang itu tidak akan bisa menangkapmu lagi," jelas Walter.


Rosita diam sambil memikirkan sesuatu. Wanita itu seperti ingin mengatakan sesuatu. Tetapi, dia takut. Dia takut Walter akan marah setelah mendengarkannya.


"Dokter Alfred juga minta maaf. Dia tidak berniat untuk meninggalkanmu waktu itu," sambung Walter lagi.


Walter mengangguk. "Ya, kau benar. Saya telah berhutang budi padamu. Sekarang katanya kepada saya. Apa yang harus saya lakukan agar aku bisa membalas kebaikanmu, Rosita?"


"Sangat mudah, Tuan. Tetapi saya tidak yakin anda bisa menyanggupinya," sahut Rosita dengan senyuman penuh arti.


Walter mengeryitkan dahinya. Melihat ekspresi Rosita membuatnya ragu. "Kenapa firasatku jadi tidak enak. Apa yang sudah ia pikirkan?" gumam Walter di dalam hati.


"Katakan saja. Aku pasti akan mengabulkannya," jawab Walter dengan tatapan yang tenang.


"Baiklah." Rosita menghela napas panjang sebelum memandang wajah Walter lagi.


"Nikahi saya, Tuan. Jadikan saya istri anda!"


***


Walter tersadar dari lamunannya. Bisa-bisanya dia melamun sejauh itu. Pria itu memandang ke arah Rosita yang masih menutup wajahnya dengan tubuh ketakutan.


"Rosita."

__ADS_1


Walter berjongkok di depan Rosita. Ia berusaha menarik tangan Rosita secara paksa. Namun, hal tak terduga terjadi. Rosita justru berteriak histeris karena ketakutan.


"PERGI! PERGI!" teriak Rosita sambil memukul-mukul Walter. Kedua matanya masih terpejam hingga ia tidak tahu kalau pria yang ada di hadapannya adalah Walter.


"Rosita, tenanglah. Ini aku!" sahut Walter sambil berusaha menenangkan Rosita. Tetapi justru Rosita semakin syok. Tidak hanya dengan tangan. Bahkan wanita itu memukul Walter dengan kaki. Menendang Walter tanpa peduli kena atau tidak. Dia seperti orang yang ingin dibunuh. Rosita benar-benar trauma. Wanita itu tidak mudah melupakan kejadian yang pernah ia alami.


""ROSITA!" teriak Walter yang mulai geram. Ia memegang kedua pipi Rosita tanpa peduli dengan tangan dan kaki Rosita yang kini terus memukulinya. "Tatap aku! Ini aku. Walter!"


Rosita mulai bisa menenangkan dirinya. Ia berhenti memukul Walter dan menatap pria itu dengan tatapan yang bingung. Walter merasa sedikit lega ketika Rosita tidak berontak lagi. Namun, Rosita terlihat jauh berbeda. Wanita itu tidak pernah menjadi pendiam seperti ini. Seharusnya Rosita mengatakan kalimat makian atau apapun itu agar membuat Walter yakin kalau wanita di depannya ini benar-benar Rosita. Tetapi tidak! Rosita hanya diam saja seperti wanita bisu.


"Rosita, apa kau baik-baik saja?" tanya Walter dengan nada yang sangat-sangat lembut. "Apa yang sekarang kau pikirkan? Kenapa kau diam saja Rosita!" umpat Walter di dalam hati.


Rosita meneteskan air mata di pipinya. Walter menjadi semakin bersalah. Pria itu mengusap lembut pipi Rosita. "Jangan menangis. Tidak akan ada yang melukaimu lagi."


"Nona Rosita sangat-sangat trauma, Tuan."


Tiba-tiba dokter yang merawat Rosita muncul di kamar itu. Dokter itu datang bersama dengan Dokter Alfred. Mereka memandang Rosita dengan tatapan kasihan.


"Apa tidak ada obat yang bisa menyembuhkan trauma?" sahut Walter dengan wajah sedih.


"Tidak, ada Tuan. Anda harus menemaninya sampai dia sembuh. Karena trauma ini belum terlalu parah. Tetapi jika dibiarkan, Nona Rosita bisa benar-benar gila," jawab dokter itu apa adanya.


Walter mengangkat Rosita dan meletakkannya di atas tempat tidur. Pria itu merapikan selimut dan bantal. Di bantu oleh Dokter yang merawat Rosita.


Rosita memandang Walter dengan tatapan kosong. Wanita itu seperti tidak mengenal Walter. Namun, dia sama sekali tidak takut dengan Walter.


"Saya permisi dulu, Tuan," pamit dokter itu. Dia masuk kembali ke kamar Rosita hanya karena ingin mengantarkan Dokter Alfred saja.


"Kau memiliki banyak tugas bukan? Menemani orang depresi, tidak semudah yang kau pikirkan. Biar aku yang merawatnya mulai dari sekarang. Aku jamin dia akan sembuh dalam waktu singkat. Ini juga sebagai bentuk rasa bersalahku karena sudah meninggalkannya di hutan waktu itu."


"Tapi anda-"


"Kenapa? Saya baru saja kehilangan istri saya?" Dokter Alfred tersenyum pahit. Dia memandang ke arah Rosita. "Seumur hidup, saya juga tidak akan mungkin bisa melupakannya. Terutama kejadian siang itu. Dia dia memelukku sebelum akhirnya darah segar keluar dari tubuhnya sendiri." Dokter Alfred memandang ke arah Walter lagi. "Tapi hidup terus berjalan. Saya tidak bisa terpuruk pada satu titik kesedihan. Aku mungkin tidak akan pernah bisa melupakannya. Tapi setidaknya aku bisa membuatnya bahagia dengan cara mendoakannya dan mengikhlaskan kepergiannya."


"Maafkan saya. Saya tidak bisa mengatakan kalimat lain selain maaf, Dokter."


Dokter Alfred hanya diam saja. Dia memandang ke arah Rosita yang kini kembali memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2