Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 32


__ADS_3

Lara dan Fabio telah tiba di Belanda. Mereka di sambut oleh beberapa pasukan Black Dragon yang sudah menunggu mereka sejak tadi. Kedatangan Lara dan Fabio membuat mereka sedikit khawatir. Mereka tahu kalau sampai Fabio sudah turun tangan seperti ini, berarti mereka sedang tidak baik-baik saja. Akan ada misi penting yang harus mereka selesaikan. Satu yang mereka khawatirkan. Apa yang akan terjadi di mansion jika mereka fokus di Belanda? Siapa yang akan melindungi mansion? Mereka tidak akan membiarkan Fabio dan Walter bertarung di Belanda tanpa perlindungan. Tidak bisa juga meninggalkan mansion terlalu lama.


Lara melepas kaca mata hitam yang ia kenakan dan memandang Fabio. Wanita itu menahan langkah kakinya sambil merangkul lengan suaminya.


"Kak Bi, dimana rumah sakitnya? Apa masih jauh?"


Fabio memandang Lara dan mengusap pipi wanita itu. "Kita langsung ke pemakaman ya. Istri Dokter Alfred akan segera di makamkan."


Lara membisu. Sebenarnya ia ingin menangis. Namun, sekuat tenaga ia tahan agar air mata itu tidak menetes. Dia tidak mau membuat Dokter Alfred semakin rapuh.

__ADS_1


"Baiklah," jawabnya pasrah. Dia masuk lebih dulu ke dalam mobil. Fabio menutup pintu mobil dan memandang bawahannya yang kini berdiri di belakangnya dengan posisi siaga.


"Diaman Walter?" tanya Fabio. Sungguh sesuatu yang aneh memang jika kedatangannya tidak mendapat sambutan dari Walter. Sesibuk apapun urusan pria itu, dia pasti selalu hadir untuk menyambut Fabio. Kecuali dalam keadaan sakit seperti kemarin. Sekarang, setahu Fabio dia sudah sehat. Tidak seharusnya menghilang tanpa kabar seperti ini.


"Bos Walter sudah dalam misi penyelidikan, Bos. Lokasi markas orang yang terlibat berada di sebuah desa terpencil yang ada di negara ini. Cukup jauh dari lokasi kita berada saat ini," jelas pria itu apa adanya. Dia juga tidak mau sampai Fabio salah paham sama Walter.


Lara memandang keluar jendela dengan tatapan tidak terbaca. Wanita itu bahkan tidak menyadari kehadiran suaminya. Ia terus saja memikirkan nasip dokter Alfred setelah ini. Lara tahu, bagaimana rasanya kehilangan orang yang begitu berarti di dalam hidup kita. Sakitnya sungguh luar biasa.


"Chubby ...." Fabio memegang tangan Lara karena tidak mau membuat istrinya kaget. Nada bicaranya sangat pelan. "Jangan sedih lagi," bujuknya.

__ADS_1


"Apa yang akan Kak Bi lakukan jika Kak Bi mengalami hal yang sama seperti Alfred?" Lara memandang wajah Fabio yang kini menatapnya dengan tatapan protes. "Apa Kak Bi akan menangis sepanjang hari atau melupakan semuanya setelah aku dikubur di dalam bumi?"


"Sayang ... apa maksudmu menanyakan hal bodoh seperti ini? Apa aku ada melakukan kesalahan? Bagaimana kalau keadaannya dibalik. Apa yang akan kau lakukan jika aku tidak ada di dunia ini lagi?"


"Aku juga akan mati," jawab Lara cepat. "Karena aku tidak bisa hidup tanpa Kak Bi."


Fabio tersentuh mendapatkan jawaban Lara. Pria itu menarik Lara dan memeluknya dengan erat. Mengecup pucuk kepala wanita itu dengan penuh cinta. "Maafkan aku, Chubby. Maafkan aku. Aku janji akan menjagamu dengan sebaik mungkin agar kau tidak pergi lebih dulu. Aku juga tidak siap kehilangan wanita yang sangat aku cintai," jawab Fabio. Ia terus saja mengecup pipi Lara untuk menunjukkan rasa cintanya yang begitu dalam.


Supir di depan hanya bisa diam mendengarkan obrolan Fabio dan Lara. Pria itu juga tidak memiliki hak untuk berkomentar apa lagi ikut campur. Dia melajukan mobil tersebut menuju ke pemakaman tempat Ines akan dimakamkan hari ini.

__ADS_1


__ADS_2