Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 38


__ADS_3

Dada pria Belanda itu mengeluarkan darah yang begitu banyak. Karena tembakan yang dikeluarkan sangat cepat gerakannya. Peluru itu menembus baju dan kulitnya dalam hitungan detik saja. Sampai-sampai dia tidak sadar kalau sudah ada peluru emas yang bersarang di dalam tubuhnya. Tangannya mulai terasa kebas hingga tidak mampu menggenggam pistol itu lagi. Kedua matanya terlihat kebingungan. Sejenak dia merasa semua ini mimpi. Tidak mungkin dia sampai tertembak seperti itulah yang dia pikirkan. Jelas-jelas tadi dia lihat di sana tidak ada orang selain dirinya, Alex dan Fabio.


"Tanganku," gumamnya di dalam hati.


Pistol yang ada di tangannya tersebut terlepas dan tergeletak di atas rumput. Ia mulai memberanikan diri untuk menunduk dan memeriksa tubuhnya yang terasa basah seperti terkena siraman air. Sudut bibirnya tertarik ke samping, rasanya seperti mimpi. Pria itu masih tidak percaya kalau kini tubuhnya tertembak. Darah segar yang sudah membuat tubuhnya merasa seperti basah. Pria itu menggeleng pelan karena belum siap untuk mati.


"Tidak! Aku tidak mau mati!" teriaknya tidak terima. Suaranya mulai pelan dan kesadarannya mulai hilang.


Pria Belanda itu hanya bisa berdiri selama beberapa detik saja. Semakin banyak darahnya habis kekuatannya untuk berdiri pun hilang. Hingga akhirnya ia terjatuh di atas rerumputan dan tergeletak dengan mata yang masih terbuka. Saat pemandangan mulai gelap ia masih bisa melihat wajah Alex dan Fabio yang kini menatapnya dengan tatapan tidak terbaca.


"Mereka menjebakku," lirihnya sebelum akhirnya dia tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Walter berdiri tepat di belakang pria tersebut. pria itu berdiri sambil mengangkat senjata apinya. Setelah ia berhasil mengalahkan pria asing tersebut, kini target selanjutnya adalah Alex Moritz. Dua lawan satu. Walter sangat percaya diri kalau kali ini mereka akan menang. Sudah tidak ada kesempatan lagi bagi Alex Moritz untuk hidup di dunia ini.


Walter bukan hanya dendam terhadap Alex Moritz karena masalah Lara dan Fabio saja. Tapi pria itu juga merasa kesal terhadap Alex Moritz karena pria itu sudah memiliki niat untuk menjebak Rosita. Beruntung dia tahu lebih cepat. Entah bagaimana rasa menyesalnya jika sampai detik ini dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Fabio kini merasa jauh lebih tenang karena Walter sudah muncul. Pria itu semakin bersemangat untuk menghabisi nyawa Alex. Sudah tidak ada lagi alasan yang bisa ia gunakan untuk membiarkan Alex tetap hidup.


"Ternyata mereka tidak sebodoh yang aku pikirkan," umpat Alex di dalam hati. Dia sudah kalah. Ya, seperti itu yang sekarang mengisi pikirannya. Namun, sesulit apapun keadaannya saat ini. Alex akan tetap berjuang untuk menang. Ketika Fabio mulai lengah, dia segera melayangkan kakinya ke arah tangan Fabio hingga membuat senjata api yang ada di genggaman Fabio terpental.


Walter melepas tembakan ke arah Alex. Tetapi keberuntungan masih ada di tangan Alex. Pria itu berhasil menghindar dan kini mengajak Fabio bergulat di rumput. Fabio berusaha mengalahkan Alex, namun tiba-tiba Alex memasukkan cairan ke dalam mulut Fabio. Entah cairan apa itu. Yang pasti cairan itu adalah sesuatu yang berbahaya.


Fabio berusaha membuang cairan pahit yang sempat masuk ke dalam mulutnya. Namun, Alex segera menghajarnya dengan pukulan demi pukulan.

__ADS_1


Walter berlari untuk menolong Fabio. Pria itu tidak berani menembak lagi karena akan membuat Fabio dalam bahaya.


Alex mengarahkan pistolnya ketika Walter mendekat. Ketika ingin menembak, tiba-tiba Fabio menusukkan belatih kecil yang ia simpan ke arah perut Alex. Darah segar mengalir deras hingga membuat tubuh Fabio dipenuhi darah.


Alex tersenyum melihat luka di tangan. Detik yang sama, Walter berlari dan merebut senjata api tersebut. Walau perut pria itu sudah tertusuk, tetap saja Walter tidak puas sebelum menghajar Alex sampai sekarat.


Fabio terlihat kehilangan tenaga. Ada beberapa tetes racun yang sempat tertelan karena terbawa Saliva. Dia memandang Walter yang kini menghajar Alex dengan tatapan berkabut. Lama kelamaan pria itu mulai kehilangan kesadarannya. Dia tergeletak di rumput dengan keadaan tidak sadarkan diri.


Alex juga kalah dan tergeletak di rumput. Pria itu memejamkan mata dengan napas tersengal. Walter merasa puas melihat Alex memejamkan mata seperti itu.


"Aku yakin pria ini tidak akan pernah muncul dihadapan kita lagi bos," ujar Walter penuh semangat. Pria itu dibuat syok ketika melihat Fabio tidak sadarkan diri. "Bos!" teriaknya. Walter berlari untuk menolong Fabio. Pria itu memeriksa denyut nadi Fabio sebelum membawanya masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2