
Matahari bersinar hingga membuat rasa panas yang luas biasa. Angin hanya sedikit bertiup. Lapangan yang luas itu terasa semakin gersang ketika Fabio dan Alex menggunakannya untuk bertarung. Mereka berada di tengah lapangan yang terkena sinar matahari langsung.
Detik berganti menit dan menit pun hampir saja berganti jam. Namun, pertarungan itu seperti tidak ada titik terangnya. Wajah mereka berdua sama-sama dipenuhi luka lebam. Belum lagi baju yang koyak dan kotor karena mereka bertarung sambil berguling di rumput.
"Aku tidak akan menyerah! Kali ini aku tidak akan kalah lagi!" ujar Alex penuh semangat. Pria itu menerjang Fabio berharap bisa membuat pria tangguh itu terjatuh.
Sayangnya dengan cepat Fabio melayangkan kaki kanannya hingga memukul kaki Alex. Tidak berhenti di situ saja. Fabio juga menghajar Alex dengan kemampuan yang ia miliki. Ternyata masih sama. Alex masih belum mampu menang melawan Fabio. Walau beberapa pukulannya di awal berhasil menyentuh wajah Fabio, tapi pukulan itu terbalaskan ketika Fabio melayangkan tendangan di perut Alex.
"Aku tidak akan pernah kalah. Kau akan selamanya kalah dariku! Termasuk dalam hal percintaan!" ujar Fabio dengan senyuman kemenangan. Rasanya dia puas kali bisa mengucapkan kalimat seperti itu di depan Alex.
Memang sudah sejak kemarin dia ingin mengatakan kalimat seperti itu. Sejak dia tahu kalau Alex memberi hadiah sebuah lingerie untuk istri tercintanya. Fabio tahu kalau Alex belum bisa move on dari istrinya walaupun bibir pria itu mengatakan ucapan selamat.
"Tapi aku suaminya yang pertama! Aku yang lebih dulu melihat tubuh polosnya," sahut Alex tidak mau kalah.
Mungkin kalau kalimat ini di dengar Alex sebelum dia dan Lara melewati malam pertama, banyak sedikitnya ada rasa cemburu. Tetapi kali ini Fabio tidak seperti itu. Justru pria itu merasa biasa saja dan paham, kalau Alex memang benar-benar cemburu dan masih sangat cinta sama Lara.
__ADS_1
"Dia akan segera mengandung anakku! Jika saat itu tiba, kau akan menyesal karena pernah menyia-nyiakan cintanya," sahut Fabio sebelum menghajar Alex lagi. Kali ini pukulannya sangat luar biasa kuatnya hingga membuat Alex sampai terjatuh terduduk.
Pria yang menjadi wasit dalam pertarungan itu mulai ragu dengan kemampuan Alex. Sejenak ia berpikir untuk kabur saja karena dia tidak mau jadi bulan-bulanan Fabio. Namun, Alex juga sangat menguntungkan baginya. Sejak bertemu dengan Alex, pundi-pundi uangnya bertambah. Berbisnis dengan Alex bisa membuatnya menjadi kaya.
Sangat disayangkan jika dia pergi hanya karena takut di pukul. Pria itu mulai mencari ide untuk bisa membuat Fabio kalah. Mereka akan bekerja sama untuk mengalahkan Fabio. Ya, itulah yang kini terlintas di benaknya. Tidak ada lagi gelar wasit di sana karena dia memang sejak awal hanya ingin pertarungan ini dimenangkan oleh Alex Moritz.
"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku tembak saja dia biar mati," ujarnya di dalam hati. Ia berjalan ke sana ke mari mencari cara. Namun, tidak ada ide yang muncul di benaknya agar bisa mengalahkan Fabio. Kemampuan Fabio dalam hal bertarung memang sungguh luar biasa hingga membuat lawannya takut sebelum mendekat. Mengajar tanpa ampun bahkan tidak memberi kesempatan kepada lawannya untuk bernapas. Seperti itulah Fabio.
"Aku bisa menggunakan senjata," ucapnya lagi. Ia masuk ke dalam mobil untuk mengambil senjata.
Pria itu duduk dan memilih senjata yang tepat untuk digunakan menghabisi nyawa Fabio. Sudut bibirnya tertarik ke samping ketika dia melihat sebuah pistol keluaran terbaru yang tergeletak di dalam laci mobil. "Aku bisa menggunakannya sekarang. Sejak di beli, aku belum pernah mencobanya," gumamnya penuh semangat. Pria itu segera keluar dan melihat ke arah Fabio dan Alex yang masih berkelahi. Satu tangannya naik ke atas dan siap untuk menembak. Walau kemampuan menembaknya masih diragukan, tetapi dia sangat percaya diri bisa membunuh Fabio.
DUARRR
Fabio sempat berontak dan ingin menghajar Alex lagi ketika di ajak tiarap. Namun, pria itu mematung ketika mendengar suara tembakan. Setelah mereka berhasil lolos dari incaran peluru emas tersebut, Alex dan Fabio memandang pria Belanda itu dengan tatapan tidak suka.
__ADS_1
Alex dan Fabio saling memandang seperti sedang mendiskusikan sesuatu. Mereka sama-sama berdiri dan mengangkat senjata mereka dan mengarahkannya ke pria Belanda tersebut.
Jelas saja pria itu kaget bukan main. Bahkan Alex yang tadinya ia pikir akan ada dipihaknya kini juga mengangkat senjatanya dan ingin membunuhnya.
"Apa yang anda lakukan Tuan Alex? Kita tim!" ujar pria itu ketakutan. Padahal dia masih memiliki tiga peluru yang bisa ia gunakan untuk menghabisi Fabio dan Alex. Namun, entah kenapa keberaniannya hilang begitu saja sampai akhirnya dia bersikap seperti orang bodoh.
Fabio tiba-tiba mengarahkan senjatanya ke arah Alex. Tepat menuju ke pelipis kanan Alex Moritz. Dia tidak mau berdamai lagi. Nyawa Lara segalanya. Jika memang benar Lara sudah diracuni, detik ini juga Fabio hanya ingin bertemu dengan Lara dan memastikan keadaan wanita tersebut.
"Apa kau pikir aku akan terjebak lagi? Aku tahu, ini bagian dari rencana kalian. Jika ada yang harus mati, orang itu adalah kau!" ketus Fabio tidak suka.
Alex mengangguk pelan. Kini dia sungguh menyesal sudah melindungi Fabio dari tembakan pria itu.
"Well, si kelinci yang tidak tahu balas budi harus dijadikan sate!" sahut Alex. Alex kini juga mengarahkan senjatanya ke arah dahi Fabio. "Bagaimana jadinya dengan Lara jika kita berdua sama-sama mati? Apa dia akan bertahan? Atau jangan-jangan dia akan ikut bersama kita," ledek Alex dengan senyuman kecil.
"Dia akan tetap hidup!" Fabio mulai geram. rahangnya mengeras. Fabio memejamkan kedua matanya. Begitu juga dengan Fabio. Mereka berdua sudah menarik pelatuk masing-masing senjata dan siap menekan pemicunya agar peluru emas itu keluar.
__ADS_1
"Apa yang mereka lakukan? Kenapa mereka saling menembak seperti ini," gumam pria Belanda itu dengan wajah khawatir. Dia ingin menurunkan senjatanya sebelum akhirnya suara tembakan terdengar dengan jelas di depan sana. Dengan sigap pria itu mengangkat dagunya dan memandang ke depan lagi. Dia memperhatikan Alex dan Fabio yang kini masih sama-sama berdiri. Entah siapa yang tertembak, pria itu sangat penasaran.
"Apa mereka berdua sudah mati?"