
Setelah menunggu dengan penuh rasa bosan, akhirnya Mesy memiliki waktu untuk bicara dengan Rosita. Saat itu Mesy terpaksa berbohong dengan mengatakan kalau dia sakit. Rosita yang khawatir segera menjenguk Mesy di kamarnya. Wanita itu juga tidak bisa lama karena harus segera berias untuk pesta di mansion nanti malam.
"Kak, apa kakak sudah minum obat?" tanya Rosita sambil mengaduk gula yang ada di dalam gelas. Dia akan membuat teh hangat untuk Mesy.
"Sudah. Tapi, kepalaku masih pusing. Maafkan kakak karena tidak bisa hadir di resepsi nanti malam. Kakak sangat ingin datang, tetapi ...."
"Kak, jangan dipikirkan. Utamakan kesehatan kakak dahulu." Rosita meletakkan minuman yang ia buat di atas nakas. "Kakak pulang ke apartemen aja ya. Aku juga gak tidur di hotel ini lagi."
Mesy mengangguk setuju. Dia menarik tangan Rosita dan mengusapnya dengan lembut. Rosita mengeryitkan dahinya dengan bingung. Entah kenapa dia sudah memiliki firasat kalau ada sesuatu yang disembunyikan kakaknya itu.
"Ada apa kak? Apa ada yang ingin kakak katakan?" tanya Rosita dengan lembut.
__ADS_1
"Rosita, apakah kau ingat kalau kedua orang tua kita meninggal karena apa?"
Rosita lagi-lagi terlihat bingung. "Kenapa kak. Kenapa kakak membahas masalah itu lagi?"
"Kau ingat kejadian sebelum kecelakaan?"
"Kecelakaan? Maksud kakak keserempet motor di depan mall?"
Rosita jadi semakin bingung dibuat kakaknya. Seingatnya, dia tidak pernah mengalami kecelakaan apa lagi sampai lupa ingatan. "Kakak lagi becanda ya? Gak lucu kak." Rosita berusaha tertawa untuk mencairkan suasana.
Mesy mengambil amplop cokelat yang sudah dia siapkan. Wanita itu memberikannya kepada Rosita. "Kau bisa lihat ini jika tidak percaya."
__ADS_1
Rosita sedikit ragu untuk membukanya. Namun dia juga penasaran. Rosita membuka amplop cokelat tersebut dan mengambil isi di dalamnya. Kedua matanya melebar ketika dia melihat foto dirinya yang sedang berbaring di sebuah ruangan ICU dalam keadaan kritis. Ada banyak alat medis yang tertancap di tubuhnya. Lembar kedua kembali di buka oleh Rosita. Dia melihat dirinya sendiri memegang sebuah senjata api sambil mengenakan pakaian serba hitam. Bagaimana mungkin dia memakai warna hitam sedangkan seingat Rosita warna favorit adalah warna pink.
"Kau pasti bingung. Rosita, kau hilang ingatan Setelah kecelakaan. Tetapi kau tidak melupakan semuanya. Kau hanya melupakan peristiwa yang terjadi selama satu tahun sebelum kau mengalami kecelakaan. Satu tahun itu ada di foto ini. Kau tidak akan mengingatnya. Karena memang kejadian ini tidak tersimpan di dalam ingatanmu."
"Ini apa kak? Kenapa penampilanku seperti ini?" Rosita masih bingung. Kenapa penampilannya berbeda jauh dari sikapnya yang sekarang. Di dalam foto dia terlihat seperti wanita tangguh yang tidak terkalahkan. Berwajah sangar dan sangat mengerikan. Bahkan sekilas Rosita berpikir kalau wanita di foto bukan dirinya.
"Kau latihan menembak dan bela diri agar bisa membalas perbuatan orang yang sudah membuat kedua orang tua kita meninggal, Rosita. Kau bertekad untuk menghancurkan orang tersebut. Kita berdua. Tetapi, saat kau mengalami kecelakaan dan melupakan semuanya. Aku tidak bisa memaksamu lagi. Hingga akhirnya aku bilang kalau aku ingin pergi ke luar kota untuk menemani suamiku. Rosi, sebenarnya aku sedang menyelidiki semuanya. Karena sebelum kau memberi tahuku siapa pria itu, kau sudah lebih dulu mengalami kecelakaan."
"Pria?" Rosita menurunkan foto-foto tersebut. "Siapa pria itu kak?" Entah kenapa perasaannya menjadi tidak karuan.
Mesy menatap Rosita dengan serius. "Walter!"
__ADS_1