
"lantas apa yang menjadi masalah?" tanya Bu Alma
"hmmm aku punya tabungan sekitar 300 juta dari hasil menulis dan live dan berjualan walau live sudah berhenti tapi penghasil yang beberapa bulan, saat aku live belum aku gunakan seperpun. aku ingin membuka toko atau butik menurut mamah lebih baik di rumah atau sewa ruko" Tanya Sindy
"Sebaiknya kamu membangun ruko saja di dekat Warung nasi mamah karena, di sini pun tempatnya strategis tanah di samping Warung Rencananya , memang akan mamah dan ayah bangun ruko" ujar Alma ibu Sindy
"yaudah mah boleh Nanti aku kirim uang ke mamah buat bantu bantu beli bahan dan alat untuk membangun ruko" ujar Sindy
"tidak perlu sayang karena semuanya sudah ada tinggal Lusa orang tukang akan mengerjakan semuanya, rencanya Ruko itu memang untuk kamu dan Ardin adikmu. Tapi karena Ardin sibuk sekolah maka Ayahlah yang menghandel semuanya"
"yaudah mah aku gunakan uang ini buat modal saja rencananya setelah ruko jadi Nanti aku akan membuka butik dan toko serba ada"
"iya bagus di sini cocok berjualan itu, yaudah mamah mau ke meja kasir dulu karena sebentar lagi. akan banyak yang datang untuk makan"
setelah obrolan tentang ruko ini Sindy menuju rumah orang tuanya, dia memasuki kamar semasa gadis dulu Melanjutkan menulis cerita lagi.
tepat pukul 5 sore warung nasi Ibu Alma tutup, berbarengan dengan sang suami pak Santoso pulang dari tempat bekerja.
"assalamualaikum, mah itu seperti sandal Sindy apakah ada Sindy" tanya pak Santoso
"waalaikumsalam, iya Ayah di dalam Ada Sindy" mencium takzim tangan suaminya.
Sindy yang sedang mentonton tv gegas bangkit dan mencium takzim tangan Ayahnya.
"Ayah baru pulang" tanya Sindy
"iya sayang ayah baru pulang" jawab pak Santoso karena sejatinya sekalipun anaknya sudah besar tetap saja di mata pak sontoso Sindy tetap anak kecil baginya.
Setelah menyapa Ayahnya Sindy kembali mentonton tv, sedangkan Bu Alma menyiapkan makan malam. dan pak Santoso lekas pergi ke kamar untuk mandi, dan bergantian pakaian karena sebentar lagi Azan magrib.
setelah kedua orang tuanya selesai dengan ritual' masing masing, Mereka menghampiri Sindy mengobrol tidak jelas, sesekali di selingi canda tawa dari ke dua orang tua Sindy.
terdengar suara azan dari masjid gegas pak Santoso pergi ke masjid, Sedangkan Sindy dan mamahnya melaksanakan ibadah shalat di rumah.
Sang adik menginap di kost dan memilih tidak pulang malam ini, karena perjalanan yang cukup melelahkan akhir akhir ini Ardin sibuk dengan tugas di kampusnya.
pagi ini adalah hari ke dua Sindy menginap dan waktunya pulang, tak terasa waktu dua hari begitu terasa Singkat. untuknya sekarang waktunya kembali ke rumah
*****
d rumah ibu mertua
tuuut...
tuttt
tuutt...
Terdengar bunyi sambungan telpon yang tak kujung di jawab oleh sang pemiliknya, Ibu Sela berdecak kesal. karena tidak biasanya Adam mengabaikan panggilan darinya.
__ADS_1
padahal Adam ada di rumahnya sedang bersantai dan juga menikmati hari liburnya sengaja dia mematikan nada dering di handphone, lantaran sudah muak dengan kelakuan ibu dan kakanya.
"Kenapa sekarang Adam mengacuhkan panggilan dariku, mungkin dia sedang tidur siang. di rumah sebaiknya aku kerumahnya saja, kebetulan sekarang jadwal Sindy ke rumah orang tuanya." Pikir ibu Sela
Gegas Ibu Sela bersiap menuju rumah Adam tidak lupa kerudung yang baru saja sampai dari, salah satu aplikasi market place. iya kenakan. Dengan berjalan kaki sekitar 10 menit tibalah, Ibu mertua di depan rumah Sindy, tujuannya hanya ingin meminta uang kepada anaknya.
tok...
tok....
"Assalamualaikum Adam" Panggil dari luar
"wa'alaikumsalam, ya sebentar,!!!" Sahut Adam
ceklek
suarau pintu di buka...
"Ada apa Bu silahkan masuk" sahut Adam dengan ketus
"Begini Sindy kan lagi ga ada di rumah boleh Ibu, meminta lauk nasi biasanya Sindy selalu menyediakan semuanya untukmu" Jawab Ibu Sela dengan lembut, seraya masuk dan duduk di sofa
Lantaran dia tidak mau uang saku, di potong hanya karena berkata dengan kasar kepada Adam.
"Sela tidak menyediakan apapun Bu kecuali uang saku untuk aku makan dua hari ini, dan sekarang sudah hari ke dua Sindy di rumah orang tua sebentar lagi juga pasti pulang" Tegas Adam kepada sang ibu ..
"yasudahlah sebentar lagi pasti sindy pulang aku tunggu saja di Sini" batin ibu Sela
******
Karena sudah cukup menginap di rumah orangtuanya, Sindy pun kembali pulang kerumahnya sendiri.
Dengan memesan ojek online, Sindy pulang sebelum pulang. seperti biasa Mamah Alma akan menyiapkan lauk nasi. yang sengaja untuk di bawa pulang oleh Sindy.
menu Kali ini ada Ayam goreng lengkuas, ati ampela dan juga capcay
"Sindy ini yang wadah warna biru untuk kamu di rumah dan ini yang wadah berwarna transparan untuk ibu mertuamu" ucap Ibu Alma
"iya mah" seraya mengambil kotak nasi itu dan menyimpannya ke dalam paperbag kecil
"Mah Sindy pulang dulu ya itu tukang ojek udah nunggu di depan" ucap Sindy
"iya sayang hati hati di jalan" seraya menghampiri Sindy
"assalamualaikum" mencium takzim tangan orang tuanya dan gegas berjalan ke halaman rumah menghampiri tukang ojek.
"waalaikumsalam" jawab kedua orang tuanya lalu mengantar Sindy ke depan rumah.
Sungguh sosok orang tua yang di idamkan oleh semua anak, karena beliau tidak pernah lupa membekali lauk nasi. untuk anak dan menantunya, bahkan besannya pun selalu di kasih jika Sindy datang untuk menginap atau hanya sekedar main saja. Sosok orang tua dan besan yang wajib di hargai bahkan di jadikan panutan.
__ADS_1
berbanding terbalik dengan mertua Sindy, sebenernya Ibu Sela juga tidak bisa di katakan pelit sebenarnya, jika dia memiliki beras lebih pasti selalu mengirimi ke rumah Adam namun itu hanya bertahan di awal awal pernikahan saja.
Sikap dan sipatna berubah Lantaran Sudah 2 tahun Sindy dan Adam menikah' namun belum ada tanda tanda Sindy hamil.
di perjalanan yang memakan waktu 40 menit Sindy minta kepada tukang ojek untuk berhenti di supermarket.
"Bang nanti di supermarket depan, berhati dulu ya" ucap sindy
"iya mba" sahut si Abang
motor berhenti tepat di depan supermarket, Sindy gegas turun dari motor dan membeli beberapa camilan serta buah tak lupa juga membeli 2 air mineral.
Gegas Sindy kekasir membayar semua belanjaanya.
lalu kembali menghampiri tukang ojek,dan memberikan air mineral. dan melanjutkan perjalanan
Sindy telah sampai di kediamannya rumah minimalis dengan cat warna putih dan banyak tertata rapih aneka Tamanan serta bunga.
brummn terdengar motor berhenti di halaman rumah
gegas Sindy turun dan mengambil kantung plastik yang di cantol di bagian depan motor.
"bang udah bayar di aplikasi ya" ucap Sindy
"iya mba makasih" gegas si Abang pergi
brummm terdengar suara deru motor menjauh
dengan langkah riang Sindy memasukin Rumahnya
"Assalamualaikum" ucap Sindy
"waalaikumsalam salam" balas Adam dan Bu sela
gegas Sindy mengicum pungung tangan mertua dan berganti mencium punggung tangan suaminya. "duh ada ibu pasti bakalan recokin lagi" bathin Sindy
"Hmm Sindy kamu bawa apa itu" ucap bu Sela seraya melirik barang bawaan Sindy
"oh ini iya Bu aku hampir lupa ini untuk ibu, titipan dari mamah." Sindy menyodorkan wadah berwarna transparan dan beberapa camilan serta buah
Dengan senang hati Bu Sela menerima pemberian menantu yang selalu di recokin
"Hmmm tapi ini gx ada racunnya kan" Tegas Bu sela
Adam yang mendengar ucapan ibunya itu di buat sangat geram
"astaghfirullah ibu yang benar saja mertuaku sampai meracuni ibu, bukankah selama ini ibu selalu baik baik saja jika mendapatkan kiriman makan dari mamahnya Sindy" tegas Adam seraya mengepalkan kedua tangannya
Adam benar benar di buat geram dan malu oleh ibunya sendiri, lantaran selama ini Sindy hanya diam jika mertua dan kakak iparnya merecoki dia. berbeda dengan Adam Kali ini Adam tidak bisa diam saja, karena Adam sudah cukup lelah dengan semua ucapan yang di lontarkan oleh ibu dan kakanya.
__ADS_1