Sukses Setelah Di Hina

Sukses Setelah Di Hina
Gema takbir berkumandang


__ADS_3

Allahuakbar...Allahuakbar... Allahuakbar.


Suara takbiran berkumandang saling bersahutan, menandakan sudah berakhir nya ramadhan. Suara petasan ikut mengiringi, menyambut dan memeriahkan kedatangan lebaran. Malam ini Ibu, menginap lagi di rumahku sepi ujarnya di rumah Sendiri, karena sekarang mbak Anggi di boyong suaminya untuk tinggal bersama, suaminya.


Ku Tatap Ibu yang tengah sibuk menimbang dan membagi beras ke dalam kantong kresek.


Wanita yang usianya sudah tidak muda dengan teliti mengantongi beras yang sudah di ukur sesuai takaran.


"Untuk apa, Ibu? Beras nya kok di bungkus-bungkus?" tanyaku seraya menatap Ibu yang tengah sibuk mengikat kantong.


"Ini beras untuk kita fitrah nanti," ujar ibu seraya mengulas senyum.


Aku manggut-manggut mengerti. Saat ini kami hanya berdua karena Mas Adam Sedang pergi ke luar. dan Sedangkan Bapak mertua sudah meninggal. Waktu malam takbiran. Kami bercengkrama mesra di ruang tamu bersama menikmati olahan kue emak. hal yang lama sudah aku dambakan bercengkrama dengan mertua.


Dan dua hari setelah lebaran, bapak mertua menghembuskan nafas terakhir. Meninggalkan mas Adam mbak Anggi dan Ibu yang masih membutuhkan sosok Ayah dan suami.


Dan sekarang hanya ibu, satu-satu nya surga yang suamiku punya.


ibu banting tulang menghidup Mbak Anggi dan Mas Adam untuk membiayai biaya sekolah mereka berdua . Setelah tamat SMA ini mas Adam tak ingin melanjutkan kuliah, takut menambah beban Ibu. Setelah tamat nanti mas Adam memutuskan mencari pekerjaan biar bisa mengurangi beban emak.


"Nanti biar, mas Adam bantuin antar, ya, ibu." Pintaku pada ibu seraya mengulurkan tangan hendak meraih kantong beras yang ada didepan ibu.


"Ndak usah, Sindy nanti biar Ibu saja, lagian rumah Bu Zainab 'kan dekat." Ibu menolak penawaran bantuan dariku. Kami memang selalu memberikan beras fitrah kepada Bu Zainab, tetangga kami.


"Nggak papa, bu. ibu di rumah saja, nggak usah repot-repot. ibu duduk manis aja di rumah sambil makan kue. Biar Adam saja yang antar kerumah Bu Zainab besok," bujuk mas Adam, menarik kantong beras itu sambil terkekeh.


"Enggak usah, Adam. Biar Ibu aja, sekalian silaturrahmi. Fitrah nya harus di antar sekarang, takut besok nggak bisa ketemu Bu Zainab." Ibu Sela asih kekeh menolak.


entah sejak kapan mas Adam, sudah berada di dalam rumah.


" Emang harus di antar sekarang, ya, bu. Memang nya besok ibu mau kemana, bu?"


"Harus sekarang, Sindy," sahut Ibu Tanpa menjawab pertanyaan ku.

__ADS_1


"Ya udah, ibu, kalau gitu Sindy ke kamar dulu, ya." pamit ku pada ibu dan meninggalkan emak sendiri diruang tamu.


***


Azan subuh sudah berkumandang.


"Sindy Adam, bangun! Sholat subuh dulu!" titah Ibu seraya mengguncang pelan bahu ini.


"Iya, buk." balasku


Mas, Adam sudah berlalu menuju mushola terdekat


Aku berlalu kekamar mandi untuk mengambil wudhu. Usai berwudhu aku melangkah hendak kekamar ku namun langkah ini terhenti kala mendengar suara emak memanggil dari ruang tamu.


"Iya, ibu." sahutku lalu melangkah ke ruang tamu memenuhi panggilan ibu.


"Kita shalat subuh berjamaah berdua ya, Sindy," pinta Ibu. Tidak biasa nya ibu mengajak shalat berjamaah. Biasanya kami hanya shalat sendiri sendiri. Tapi aku mengangguk setuju.


Momen ini sangat jarang sekali terjadi. Karena selama ini hubungan ku dengan mertua tak baik.


Ibu mencium keningku cukup lama. Tak biasanya, sikap inu seperti ini. Walaupun Ibu sangat menyayangiku, tapi tak biasanya Ibu mencium kening ini dengan durasi cukup lama. Kurasakan kening ini sedikit basah. apa Ibu menangis?


Aku mendongak menatap Ibu.


"bu, Ibu nangis? aibu kenapa nangis?" tanyaku bingung.


"Ibu nggak nangis, tadi kelilipan debu," Inu menjelaskan, tapi aku menangkap raut berbeda dari Ibu. Raut wajahnya tak bisa berbohong dariku. Raut wajah emak sangat sendu. Terlihat kesedihan mendalam dari sorot mata Ibu.


Ada apa dengan Ibu?


***


Sesampai di masjid, aku lansung menggelar sajadah di syaf pertama. Tepatnya di sisi paling ujung yang lebih dekat dengan pintu agar nanti mudah untuk keluar agar tak berdesakan saking rame nya jamaah sholat id.

__ADS_1


Usai mengelar sholat, aku keluar terlebih dahulu. Tak tau kenapa perasaan ini mendadak resah dan cemas tak beraturan, tak tau kenapa.


Ku Langkahkan kaki hendak pulang menjumpai ibu. Akupun tidak tau kenapa tapi pikiran ini dipenuhi dengan bayangan Ibu. Mulai dari bayangan Ibu memberi nasehat sampai melihat raut wajah Ibu yang sendu, seolah otak ini terputar untuk memikirkan sikap ibu yang aneh.


Sampai akhirnya kaki ini berhenti melangkah kala melihat tetanggaku- Bu Minah berlari tergopoh-gopoh menghampiriku yang tengah bingung dengan sikap nya yang terlihat sangat panik.


"Neng...neng, Sindy! ibu.... ibu mertua kamu..." Ucapan Bu Minah terpotong karena nafas yang tersengal dan terengah-engah, Bibir nya bergetar, air mata di pipi nya membuatku ikut panik ketika ia menyebut ibu. Perasaan ku mengatakan terjadi sesuatu dengan ibu.


"Emak kenapa, Buk?" Panikku meminta jawaban Bu Minah.


"Kamu..kamu yang sabar, ya, neng. ibu mertua kamu.. Emak kamu tadi pingsan di halaman rumah, neng,"


Degh!


Jantungku serasa berhenti berdetak, nafasku seolah terhenti detik itu juga. Kenyerian menjalar keseluruh tubuhku membuat tubuh ini seakan kehilangan penyangga. Dunia serasa berhenti berputar. Sajadah dan mukenahku jatuh begitu saja seiring dengan merosot nya tubuh ini ketanah.


"Astagfirullah, neng Sindy!" pekik Bu Minah meraih tubuh yang sudah kehilangan tenaga ini.


rupanya, di belakang ku sudah Ada mas Adam dia sudah memegangi tubuh ku


"Coba ucapkan sekali lagi Buk. Sindy yakin telinga Sindy sedang bermasalah hingga Sindy salah mendengar apa yang ibu ucapkan tadi." Aku menatap Bu Minah penuh tanya dan harap dengan mata yang sudah mengabur ditutupi air mata yang sudah merembes. sedangkan Bu Minah menggeleng lemah seraya terisak. Membuat kenyerian di hati ini kian bertambah dan resah, seolah gelengan itu menjawab bahwa semua yang ia ucapkan adalah kebenaran.


ibu yang tadi mencium pipi ini, tidak mungkin meninggalkanku begitu saja.


Detik itu juga aku berjalan cepatnya dengan tenaga yang sudah melemah, karena kehamilanku. meninggalkan mukenah dan sajadahku dengan Bu Minah yang masih menangis terisak melihat aku yang sudah seperti orang yang kesetanan. Air mata tak henti mengalir, menganak sungai. Aku jalan dengan terseok-seok memanggil-manggil Inu. Tak peduli tatapan mata orang yang melihatku dengan sorot kebingungan.


serta mas Adam, yang berjalan di belakang ku


Tiba di halaman rumah, dengan tatapan nanar Mataku tertuju pada kerumunan orang yang seketika mengarahkan pandangan kepadaku.


Aku berlari dengan sekuat tenaga dengan air mata berurai deras, membelah kerumunan.


"ibu!"

__ADS_1


Pekik ku lantang di ambang pintu memanggil ibu yang sudah, di gotong warga untuk mask ke dalam mobil, Ibu akan di bawa ke rumah sakit.


Mas Adam, dengan sigap menahan tubuh ku agar tak ambruk, beberapa tetangga menenangkan ku. mbak Anggi dan mas firman sudah tiba di rumahku, mereka berdua yang membawa ibu ke rumah sakit, sedangkan aku tak di izinkan ikut karena kondisi ku yang cukup terpukul.


__ADS_2