Sukses Setelah Di Hina

Sukses Setelah Di Hina
sudah biasa seperti ini


__ADS_3

Mental yang dihancurkan secara perlahan, dipermalukan, dijauhi, dianggap sebagai sampah membuatku benar-benar lelah. Setiap hari dadaku sesak, ingin menangis, ingin mengadu, tapi kepada siapa?


***


"Bisa gak sih sekali saja kamu tidak membuat ulah? Saya tuh capek kerja tapi punya, Istri gak berguna. Nyesel saya nikah sama kamu!"


Ucap Mas Arga ., sempurna menusuk hati. Sakit, tapi untuk kesekian kalinya aku tak mampu berbuat apa-apa. Hanya diam lalu tiba-tiba menangis.


"Udahlah paling bener makan di rumah, Ibu. Punya, Istri bego, gak berguna!" bentaknya tepat hadapanku.


Ya setelah hampir delapan bulan menikah, ku putuskan mengontrak rumah. Yang berada tiga rumah dari rumah mertua. Karena hidup seatap dengan mertua membuat mental' ku berantakan aku pikir sudah Pisah rumah akan lebih baik rupanya sama saja.


Arga pun berlalu, dan sudah pasti tujuannya adalah rumah Ibu. Ya, rumah kami memang berdekatan, hanya berjarak tiga rumah saja. Dalam sekejap suasana kembali hening. Tapi, aku yakin keheningan ini tidaklah bertahan lama. It's ok setidaknya aku masih memiliki waktu untuk segera membereskan kekacauan yang diperbuat Arga.


"Syasa!" Lengkingan suara Ibu terdengar sangat jelas.


Brak! Pintu terbuka dengan kasar. Ia berkacak pinggang, sorot matanya seperti biasa, tajam dan penuh amarah.


"Kamu gak bisa ngurus suami, hah?"


"Aku sudah masak kok, Bu."


"Masak?" Ia mendekat kearah meja makan lalu membuka tutup saji.


Prang! Piring yang masih berisi lauk ia lempar begitu saja. Rumah kembali berantakan, lagi-lagi aku hanya mampu menghela napas dalam. Melawan pun percuma karena akhirnya tetap aku yang selalu salah.


"Sudah mandul, boros, gak pinter masak. Sial banget, Arga nikah sama kamu!" ucapnya sebagai kata penutup setelah puas memaki dan mengeluarkan sumpah serapah menyakitkan. Saking seringnya memaki, aku sampai ingat kalimat akhir yang ia lontarkan.


Mandul, boros, tidak pandai masak, tidak berguna, pengangguran, dan masih banyak hal lagi kata-kata yang menyayat hati. Namun, benarkah aku seperti yang mereka sangkakan itu? Lalu, apa yang harus aku lakukan?


Sukurlah itu yang mereka tau, seandainya mereka tau deretan toko mas ternama di pasar itu milikku. pasti habis sudah uang yang aku miliki. Beruntungnya papah masih membantuku menghandle perusahaan yang di wariskan untukku. Dan Tia si bontot sedang berjuang mengelola restoran milik papah.


πŸ’™πŸ’™πŸ’™


Matahari bahkan belum menampakkan sinarnya ketika aku berjibaku dengan tumpukan baju kotor yang harus segera dicuci. Lelah sudah pasti, terlebih semalam baru saja menyelesaikan dua keranjang baju yang harus disetrika.


"Jangan terlalu banyak pake air, bayarnya mahal!" celetuk salah satu ipar dengan penekanan di kalimat terakhir.


Mahal, seakan menjadi kata yang wajib mereka ucapkan ketika aku melakukan pekerjaan rumah.

__ADS_1


"Piringnya awas jatoh, Ibu belinya mahal itu!"


"Teh Syasa, baju yang itu jangan disikat, ya, mahal!"


"Tas yang merah lap pake tisu aja, ya, mahal!"


Mahal, mahal, mahal, sepertinya hanya itu yang ada dalam benak mereka. Mereka hanya menghargai barang-barang yang bersifat sementara, tapi lupa bagaimana cara menghargai sesama manusia.


"Syasa, habis iniβ€”"


"Iya, Bu. Habis nyuci aku langsung ke pasar," sahutku, memotong ucapan Ibu. Bahkan aku tak menoleh ke arahnya dan memilih fokus menyelesaikan cucian.


"Durhaka kamu kolot orang tua belum selesai berbicara membantah"


Brak! Ibu menendang ember plastik ke arah kamar mandi. Beruntung ember itu tak mengenaiku.


"Astaghfirullah, Ibu kenapa? Apa, Syasa salah lagi?"


"Pikir Sendiri!" pekiknya sebelum berlalu dan menghilang di balik pintu yang menghubungkan antara dapur dan rumah utama.


Jantung seperti hendak lepas dari tempatnya. Lutut mendadak lemas, memang bukan kali pertama diperlakukan seperti ini. Namun, tetap saja rasanya masih menakutkan. Sifat Ibu dan anak sama saja, sedikitpun tidak ada yang beda.


Air mata lagi-lagi tak kuasa untukku tahan. Dulu, aku pantang sekali untuk menangis. Tapi sekarang, menangis sudah seperti kewajiban bagiku.


Aku segera menyeka air mata, "Ah, enggak ada apa-apa kok," jawabku sambil tersenyum.


Namun, seseorang yang berada di hadapanku hanya terdiam sambil terus menatap tanpa berkedip. Jujur, tak nyaman rasanya ditatap seperti itu.


"Ada apa, Ilham? Apa ada baju yang mau dicuciin juga?" tanyaku basa-basi.


"Enggak, Teh. Cuman mau mastiin aja kalau, Teh Syasa baik-baik saja."


"Teteh baik-baik saja kok," jawabku lirih.


Hampir saja lupa, dari sekian manusia kasar dan tak memiliki rasa empati di rumah ini masih ada dua orang lelaki lembut dan sabar. Ilham dan Bibi Mela. selama delapan bulan menikah merekalah yang selalu berada di sampingku. Rasanya seperti lelucon, seseorang yang bukan suami justru bersikap jauh lebih peduli daripada suami sendiri.


Kadang, aku selalu berandai-andai jika sikap Arga bisa selembut mereka. Namun, apalah daya gen Ibu lebih kuat mengalir pada diri Arga.


"Suami dan mertua gak pernah salah, kamu yang hanya istri dan cuman menumpang jangan belagu." Kalimat yang acap kali Arga sebutkan jika aku mulai membantah. Karena ungkapan itulah hingga detik ini, aku mulai takut membantah.

__ADS_1


Pukul tujuh, perut mulai keroncongan meminta untuk segera mendapatkan asupan. Aroma nasi goreng buatan Ibu pun tercium sangat menggugah selera. Terbayang rasa gurih dan manis kecap yang menjadi satu. Ah, semakin lama membayangkan perut semakin tak karuan.


"Hayu, sarapan!" teriak Ibu dari arah dapur.


Aku yang berada di teras belakang rumah pun refleks menghampiri. Namun, dada ada sesak yang menghimpit dada saat menatap piring yang terhidang di meja makan hanya ada enam piring, itu artinya tak ada jatah untukku.


"Kalau udah beres nyucinya pulang sana. Jangan lupa panggil, Arga buat sarapan!" tegas Ibu tanpa menolah.


Gemuruh semakin menjadi di dalam dada. Sekuat tenaga kucoba untuk menahan diri agar tak menangis di tempat ini. Aku berusaha tersenyum sambil menahan ledakan air mata.


"Ya, sudah Syasa pamit pulang."


"Kok pulang, Syasa? Gak sarapan di sini?" tanya bi Mela yang baru saja bergabung di ruang makan.


"Lah, menantu durhaka gak perlu makan di sini. Cepet panggil anakku, kasian dia pasti kelaparan. Jam segini di sana pasti belum ada nasi."


"Mba, cukup. Kan, Syasa habis Ibu suruh nyuci ya wajar aja kalau dia belum masak. Lagian anak udah pada gadis tetep aja nyuruh, Syasa yang nyuci," ungkap Bi Mela sambil menatapku dengan tatapan iba.


"Mel, udah jangan terus dibela atuh," sahut Ibu tak terima.


Perasaanku semakin tak nyaman, dan sebelum hal yang tak diinginkan terjadi aku lebih memilih segera pergi.


"Tuhkan liat menantu gak tau diri!" teriak Ibu saat aku berlalu begitu saja.


kalian sekarang bisa semena mena padaku, lihat saja jika semuanya sudah selesai akan ku rebut kembali, Harta yang jadi milikku. Tekad Sya'sa.


setelah tiba di rumah, Syasa bergegas menyiapkan sarapan. Membuat kopi hitam untuk dirinya sendiri.


Dan meminta Arga, segera ke rumah Ibunya.


Menikmati waktu santai 30 menit saja. Syasa bergegas mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke pasar.


Selesai, Semua pekerjaan dua rumah yang ia kerjakan, bergegas Syasa ke pasar di jalan dia menghubungiku Namira, rupanya mereka berdua sering pergi ke pasar bersama.


Namira sudah menunggu Syasa , di jalan perempatan depan, Syasa cukup berjalan ke depan setelah itu naik sepeda motor milik Namira. Mereka berdua berboncengan hendak pergi ke pasar.


"Apa selama ini kamu seperti ini Syasa,?" Tanya Namira.


"Hmm iya tapi sudah terbiasa lagi seperti ini" jawabku dengan sendu.

__ADS_1


setibanya di pasar, aku menyuruh karyawan ku untuk Belanja kebutuhan hingga tau Minggu ke depan. Untuk Lauk pauk dan sayur mayur. Untuk persabunan sengaja aku seton bulan sekali. Kamar belakang yang mereka anggap gudang di rumahku, sudah aku sulap menjadi tempat penyimpanan barang barang seperti sabun mandi, deterjen pasta gigi. dan sampo. Serta beranekaragam camilan.


Bersambung.


__ADS_2