Sukses Setelah Di Hina

Sukses Setelah Di Hina
mertua julit


__ADS_3

Sayur


sayuurr.... .


Teriak tukang Sayur,


Sindy dan beberapa ibu ibu yang memang sudah menunggu kedatangan tukang sayur gegas memilih sayur serta lauk lainnya.


Sindy, yang sudah kehabisan stok tahu tempe serta sayur lauk. namun kali membeli kebutuhan dapur seadanya saja.


karena masih ada mertuanya, pasti semuanya akan habis di ambil oleh Ibu mertua itu.


"masak apa ya buat nanti siang, masih bingung ucap ibu lainnya"


mereka terus saja memikirkan akan masak apa nanti siang


"Mbak Sindy, kenapa belanjanya hampir setiap hari, menunya cuma itu-itu saja?" Marni, bertanya kepadaku saat sedang berbelanja di tukang sayur keliling.


"Iya, Mar. Mas Adam meminta. ingin makan sayur bening bayam, sama tahu tempe ditepungin." Aku, menjawab pertanyaan Marni, yang masih memilih dan memilah sayuran.

__ADS_1


Entah, sayuran seperti apa yang sedang dia cari. Sebab, dari tadi kerjaannya hanya membolak balik dagangan saja. Aku yang baru datang saja sudah menemukan, sayuran apa yang aku mau. Tetapi, Marni belum ada satupun yang dipilihnya.


"Bilang saja kalau Mbak itu nggak punya duit, nggak usah bawa nama Suami segala, Mbak." Marni berkata dengan nada menyepelekan ku.


"Iya bener tuh, Marni. Sindy, ini setiap hari memang kerjaannya cuma membeli sayuran murah. Bagaimana, mah cepat punya anak makanannya saja seperti ini terus setiap hari. Mana tubuh Adam anak saya, semakin hari malah semakin kurus saja kelihatannya. Karena, dia mempunyai istri yang nggak bisa mengurus suami. Padahal, Romi yang telah bekerja banting tulang setiap hari. Eh, dikasih makannya, cuma sayur bening sama tempe tahu saja." Bu Ratmi, yang merupakan mertuaku panjang lebar, menceritakan tentang kejelekanku di depan Marni, serta Ibu-ibu yang sedang berbelanja.


"Iya ya, Bu Sela. Sindy memang perhitungan banget, walaupun untuk keluarganya sendiri." Marni, menimpali ucapan mertuaku.


"Makanya, dari awal Adam mengenalkan Ibu sama Sindy. Ibu sudah tidak setuju, dengan hubungan mereka. Karena, Ibu dapat menilai perempuan seperti apa, Si Sindy ini." Bu Sela melanjutkan ceritanya, ia bahkan mengungkit masa laluku bersama Mas Adam.


"Terus kenapa Mbak Sindy bisa menikah dengan Mas Adam, Bu? Kalau memang Ibu tidak merestui hubungan mereka, Apa Miranya hamil duluan ya, Bu? Sehingga Mas Romi sampai bersikeras menikahi Mira?" Marni terus bertanya kepada Ibu mertuaku, yang tangannya sedang memilih bawang merah.


"Sindy waktu menikah nggak sedang hamil sih, Marni. Tetapi mungkin saja si Sindy ini memakai pelet. Sehingga, anakku Adam terus ngotot ingin menikahinya. Padahal waktu itu Ibu sudah ada calon, buat di kenalkan sama Adam. Ia, anak dari temanku, serta sudah bekerja menjadi karyawan Bank. Tidak seperti dia, yang hanya diam ongkang kaki di rumah sambil main handphone, serta bisanya hanya menghabiskan uang suami." Bu Sela, panjang lebar menjawab pertanyaan Marni, bahkan ia membawa-bawa tentang keinginannya untuk menjodohkan Mas Adam, dengan anak temannya itu.


"Ya ampun kenapa Mas Ada. malah memilihnya Mbak Sindy ya, Bu! Padahal, kalau kalau Mas Adam memilih anak teman Bu Sela, pasti hidupnya tidak akan susah seperti sekarang. Karena, istrinya juga bekerja dan memiliki gaji yang tetap. Bahkan, Bu Sela juga bisa kebagian rezeki dari mereka. Tidak seperti menantu Ibu yang satu ini, yang ibu bilang tidak pernah memberi apapun kepada Ibu." Marni menimpali ucapan mertuaku, ia berbicara seakan peduli dengan kehidupan Mas Adam dan juga Ibunya.


"Mang, jadi berapa semuanya, ditambah seperempat telor?" Aku bertanya, total harga belanjaanku.


Aku, ingin segera pergi, dari hadapan mertua, serta Marni yang sedang membicarakan ku. Aku malas jika harus berlama-lama berada di sana, apalagi jika harus meladeni ucapan mereka berdua. Bisa-bisa, aku memiliki penyakit darah tinggi. Karena, aku harus terus-menerus mendengarkan kata-kata pedas dari mulut mereka. Ibu mertuaku, ternyata suka berbicara kepada orang lain, kalau aku tidak pernah memberikan apapun kepadanya. Padahal, walaupun aku dan Mas Asam setiap bulan memberikan uang yang jumlahnya besar. Tetapi, setiap kali ia meminta uang untuk kebutuhan hidupnya, seperti buat kondangan, bayar listrik, pulsa, serta make up nya. Aku selalu memberikannya, selagi aku ada. Tetapi, ternyata Bu Sela tidak merasa kalau aku telah membantunya. Mendengar ucapan mertuaku dan juga Marni, sebagian Ibu-ibu juga ikut membicarakan ku. Bahkan mereka terus saja saling lirik melihat ke arahku.

__ADS_1


"Semuanya, jadi Dua puluh delapan ribu, Mbak Sindy" Mang Adi menjawab pertanyaanku, sambil menyerahkan kresek yang berisi belanjaanku


"Ini, Mang uangnya," ucapku, sambil memberikan satu lembar uang lima puluh ribu rupiah kepada Mang Adi.


"Iya, Mbak. Terima kasih ya, Mbak Mira. Ini kembaliannya," sahut Mang Adi, sambil menyodorkan uang kembalian untukku.


Aku pun segera menerima uang kembalian dari Mang Adi dan akan segera pergi dari tempat dagangnya. Namun, baru saja aku mau pamit sama Ibu-ibu yang sedang berbelanja. Marni, terus saja memancing emosiku dengan kata-kata pedasnya.


"Ya ampun masih ada saja, ya. Di jaman sekarang, belanja cuma habis dua puluh ribu, itu pun masih ada kembaliannya. Ngirit amat, Bu! Awas, hati-hati! Biasanya penyakit cepet datang, kalau sama orang yang suka pelit buat isi perutnya." Marni berkata, dengan suaranya yang sedikit dikeraskan.


"Nggak apa-apa, Mbak Marni. Biarpun Mbak Sindy belanjanya sedikit, tetapi ia langsung bayar, daripada belanja banyak terapi ujung-ujungnya ngutang. Bisa tekor dong saya, kalau seperti itu. Nanti, yang ada saya nggak dapat uang buat belanja lagi," sahut Mang Adi, sambil membereskan sayuran yang hanya di acak-acak oleh Mirna


"Ibu-ibu saya permisi pulang duluan, ya! Saya, mau segera memasak biar aku dan suami segera makan." Aku pamit kepada semua orang, yang masih setia mengerumuni gerobaknya Mang Adi.


"Iya, silahkan," sahut Ibu-ibu, terkecuali Bu Sela dan Marni yang tidak menjawab ucapanku.


Aku pun, segera berbalik dari tempat berkumpulnya Ibu-ibu, yang sedang berbelanja sayuran. Padahal, sebenarnya aku sudah membeli nasi uduk pagi ini. Aku sudah terbiasa bangun pagi, buat meladeni suami . Jadi saat aku berbelanja sayuran, sarapan untuk keluargaku sudah siap tersedia. Aku memang sengaja bebicara seperti itu, supaya aku bisa terlepas dari gunjingan Marni dan Bu mertua. Namun, baru saja dua langkah aku mengayunkan kaki. Marni berbicara lagi, dengan suara yang lebih lantang. Mungkin, tujuannya supaya aku dapat mendengar ucapannya itu.


"Alah, mau masak sayur bayam sama goreng tahu saja, berlagak sibuk! Seperti mau masak rendang daging saja, yang membutuhkan waktu lama," ujar Marni.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2