
Dan yang paling penting lagi, biarlah sementara waktu ini ibu mertua tak tahu jika saat ini diam-diam aku sudah punya pekerjaan sambilan yang meski baru satu Tahun 3 bulan ku tekuni, tetapi alhamdulilah sudah mulai menghasilkan walaupun belum begitu banyak. Namun, cukuplah untuk membiayai kebutuhan hidupku saat kepepet uang.
selalu seperti itu, jika ada acara atau apapun itu aku hanya di per boleh kan di belakang, membantu pekerjaan yang biasanya di kerjakan orang lain bukan menantu seperti ku.
untungnya mas Adam mau membantu ku mengerjakan pekerjaan di belakang. namun tak lama mbak Anggi, menghampiri kita berdua dan berkata
“Laki-laki kok mau-maunya disuruh-suruh istri.”
“Aku enggak pernah minta mas Adam bantuin, mbak bisa lihat sendiri Mas Adam yang mau melakukannya sendiri.”
“Harusnya kamu larang dong! Kamu punya tangan sama kaki, masih sehat wal afiat. Bagaimana kalau sudah tua, kasihan banget Adikku masih muda harus ngurusin istrinya yang enggak bisa apa-apa.”
__ADS_1
“Bu, sudahlah masalah kecil enggak usah gede-gedein. Orang Adam cuma memasukan kue kue ke dalam piring. Lagian Sindy juga enggak santai-santai aja, dia juga lagi mengemas yang lainnya.
“mengemas apanya? Orang dari tadi kalian cuma ngobrolin mbak! Emangnya mbak enggak tahu?”
“Memangnya mba dengerin kami bicara apa?” tanyaku.
“Hm, ya enggak gitu toh. Namanya serumah ya pasti tahu. Apaan sih kamu? Mau nuduh mba menguping? Buat apa juga mba lakuin itu?”
“Tuh lihat Adam, kamu bagaimana sih? Kok diam aja mbakmu dituduh menguping pembicaraan kalian? Hiks, lagian buat apa mbal lakuin itu. Istrimu dari dulu emang enggak pernah suka sama mbak, hiks. Kalau, begini mendingan mbak mati aja, biar kalian bisa bebas. Enggak ada yang gangguin lagi, hiks. Lagian kamu lebih peduli sama orang lain yang baru kamu kenal dari pada .”
Wanita itu setengah berlari menuju kamarnya, meninggalkan kami yang kini hanya saling menatap dalam diam.
__ADS_1
“Kejar .mas, jangan jadi durhaka hanya karena orang lain yang baru kamu kenal!”
Saat itu aku bisa melihat kebimbangan di wajah mas Adam. Aku hanya bisa berdecak , sambil membalikkan badan. Aku sudah tak peduli dia mau membelaku atau mbak. Aku hanya ingin kedamaian walau hanya beberapa jam saja.
Saat itu aku memilih membalikkan badan, meneruskan mengemas kue kue yang akan di jadikan hidangan. Sampai terdengar derap langkah seseorang yang semakin menjauh, aku hanya bisa tersenyum miris.
Entah siapa yang menciptakan kalimat, yang muda harus ngalah pada orang tua. Rasanya aku sangat tidak setuju dengan pernyataan itu.
Setengah jam berlalu, kue yang di kemas sudah telah tersaji di meja makan. Namun, sepertinya mas belum berhasil membujuk Mba Anggi yang merajuk. Dari arah dapur saja, masih terdengar ketukan pintu yang terus menerus. Seperti biasa, jika salah dan tertangkap basah, jangan berharap ia akan meminta maaf. Bahkan mengakuinya saja, itu adalah hal paling mustahil.
Kau tahu siapa yang harus minta maaf? Akulah orangnya, lucu bukan? tapi, beginilah kenyataannya.
__ADS_1