Sukses Setelah Di Hina

Sukses Setelah Di Hina
Pov Syasa


__ADS_3

"Mulai sekarang cinta mas akan terbagi ya?" ucap Mas Arga sebelum berangkat ke kantor. Aku mencebik, disaat hamil begini, suamiku malah ingin membagi cinta.


"Hey, mukanya kok ditekuk Sayang?" tanya Mas Arga sambil mencubit pelan daguku.


"Mas gak mikirin perasaanku? Baru saja jadi manajer udah mau bagi-bagi cinta," sungutku membelakanginya. Mas Arga malah tergelak mendengar ucapanku. Apanya yang lucu?


"Memang benar ya, kalau ibu hamil itu sensitif banget. Maksud masmu ini ya, membagi cinta untuk dia," balas suamiku sembari mengelus perutku yang masih rata. Aku jadi malu deh.


"Mas! Nanti cariin mangga muda ya! Kok pengen? Biasanya juga gigiku ngilu memikirkannya," kataku yang diangguki Mas Arga. Apakah begini rasanya jadi calon ibu. Mendadak aku merindukan orang tuaku yang hanya bisa kusebut namanya dalam doa.


"Oke Bos," ucap suami sambil menghormat ku. Menggelikan. Mas Arga selalu bisa mencairkan kebekuan perasaanku. Setiap aku bete atau bersedih, ada saja tingkahnya. Semoga selamanya akan tetap begini.


***


Sejak aku dinyatakan hamil, perasaanku begitu senang bercampur was-was, soalnya Bu RT dan gengnya yang termasuk iparku sudah tahu. Iparku yang menyebalkan itu bisa saja berbuat nekad hingga mencelakai ku. Pil KB saja mereka tega menaruhnya di minuman ku, tak menutup kemungkinan akan lebih parah.


"Assalamualaikum Dek. Syasa! Buka pintunya Dek," panggil seseorang dari balik pintu. Tuh kan, baru aja dipikirin, udah datang aja. Kayak jin aja. Sejak kapan mereka manggil aku Dek? Biasanya juga, Syaaaa, dengan suara melengking. Siapa lagi yang paling rajin merindukanku kalau bukan kedua iparku. Selalu gerak cepat aja itu orang. Apa mereka tak punya urusan selain menggangguku?


Sengaja lama kubuka agar mereka pulang, tapi mereka tetap kekeh mengetuk pintu. Agar tak mengundang perhatian tetangga, aku membuka pintu setelah mengambil ponselku. Aku harus berjaga-jaga bila mereka melakukan tindakan kriminal yang tak bisa ku lawan secara fisik.


Mbak Lasmi sedang menenteng nenas yang masih fresh. Air liurku hampir menetes membayangkan nikmatnya buah itu. Tapi, aku tak boleh gegabah. Mereka bisa saja punya niat jahat kalau langsung baik begini. Terakhir mereka ramah padaku dan membawakan kue, ternyata berisi obat pencahar. Kesempatan itu juga mereka manfaatkan untuk memasukkan pil KB ke minumanku.


Tahan selera Syasa. Iparku ini manusia unik dan langka, tapi tak patut dilestarikan. Harusnya sih dimusnahkan sampai punah.


"Mbak kupasin ya!" Mbak Lasmi menawarkan yang tak bisa ku tahan untuk menganggukkan kepala. Mbak Lasmi bergegas ke dapur mengambilkan pisau dan talenan serta baskom.

__ADS_1


"Udah berapa bulan Kandungan mu Sya?" tanya Mbak Lasmi tetap ramah. Aku menggelengkan kepala. "Belum tau Mbak, soalnya aku lupa tanggal," kekehku.


Mbak Nadin dan Mbak Lasmi terus mengajakku ngobrol dengan senyuman yang dibuat-buat. Mereka juga minta maaf atas sikap mereka selama ini yang kuyakini belum berubah. Aku makin takut dan khawatir karena bukan aku saja yang celaka, tapi bisa juga janinku yang masih muda.


Cepat ku gerakkan jemariku untuk tanya Kakek Google, kakek yang selalu bersedia menjawab pertanyaanku.


Astagfirullah. Sebuah artikel mengatakan kalau nanas muda biasa direndam dengan daging agar cepat empuk. Ah, aku sampai lupa kalau tahun lalu saat lebaran haji, aku melakukan hal yang sama. Tetangga yang mengajariku. Itu artinya ….


Ku baca lagi artikel tentang efek samping makan nenas bagi ibu yang hamil muda. Benar dugaanku seperti artikel yang pertama, bisa menyebabkan keguguran.


Subhanallah. Aku hampir terpekik kalau tidak menyadari bahwa iparku ada di dekatku. Kalau aku melawan secara fisik, jelas aku akan kalah. Sungguh lawan yang tak seimbang.


Terbuat dari apa hati mereka hingga tega ingin mencelakai calon keponakan mereka sendiri. Kalau mereka tak suka padaku, kenapa melibatkan calon bayi tak berdosa ini? Aku mengelus lembut perutku yang masih rata. Di Sana ada kehidupan yang harus diselamatkan.


"Mbak! Aku kebelakang dulu ya! Bikin bumbu rujak, " pamit ku saat nenasnya terkupas sempurna.


"Lama banget sih si Syasa. Aku sebenarnya takut loh, Mbak, kalau nanti terjadi apa-apa sama Syasa. Arga pasti tak akan mengampuni kita," bisik Mbak Nadin.


"Tenang saja Nadin! Syasa itu bukan tukang ngadu. Kita bawa saja nanti sampahnya untuk menghilangkan bukti. Emangnya kamu mau si Syasa tetap jadi iparmu? Aku mah ogah. Arga yang akan marah pada Syasa, karena gak becus jaga kandungannya. "


Aku tersenyum miring mendengar percakapan kedua penjahat itu. Kita lihat, siapa yang akan modar? Kalian tak mencerminkan sikap seorang ibu yang pernah mengandung maupun seorang ipar yang berperikemanusiaan.


Aku membawa piring kecil berisi bumbu rujak kacang. Aku sengaja membuatnya tadi pagi agar bisa langsung ku makan dengan mangga muda. Mas Ilham akan membawanya untukku setelah pulang kerja.


"Wah! Enak banget tuh bumbu rujaknya Sya," ujar Mbak Nadin yang kemudian dicubit Mbak Lasmi lengannya. Aku pura-pura gak mau tahu dengan bisik-bisik mereka. Nafsu makan Mbak Nadin memang sangat tinggi sehingga ia terus fokus melihat isi piring kecilku.

__ADS_1


"Mantap Lah itu Sya. Cocolin pake ini nih," titah Mbak Lasmi. Ia mendekatkan nenas muda yang sudah dipotong-potong kecil dengan sebuah lidi yang menancap.


"Assalamualaikum!" sapa Bu Bidan Anisa dan langsung masuk setelah kami jawab salamnya. Kedua iparku jadi salah tingkah saat bidan Anisa duduk di sampingku. Kalau tak merasa salah, santuy aja Mbak.


"Aku lupa ngasih vitamin sama kamu Sya. Ibu cuma mau bilang, suruh Arga nanti ambil ke rumah ya! Ibu pas lewat tadi, makanya ibu mampir mau bilangnya" ungkap Bu Anisa tanpa mengalihkan pandangan dariku. Kedua iparku semakin keringat dingin, padahal angin dari luar berhembus sepoi-sepoi. Menyejukkan.


"Eh, siapa yang mau ngerujak nanas muda, Syasa? Saya sekalian mau bilang, nanas muda sebanyak itu pantanganmu loh," ucap bidan Anisa dengan mata yang membeliak kaget. Arah dudukku menghadap kedua iparku sedangkan Bu Anisa membelakangi mereka. Aku jadi dapat melihat dengan jelas hidung mereka yang kembang kempis dengan mata melotot. Kenapa woy?


"Oh, itu tadi aku ...." Aku tak melanjutkan kalimat karena Mbak Lasmi menggeleng keras.


"Ini punya kami Bu, bumbu rujak buatan si Syasa enak banget. Makanya kami ngerujak disini sekalian melihat keadaanya. Dia calon ibu baru, mungkin dia ada keluhan. Itulah gunanya saudara, kami harus saling membantu," kekeh Mbak Lasmi yang langsung mencomot satu potong nanas dan mencocolnya ke bumbu rujak buatanku.


"Bukannya tadi untuk ...," ujar Mbak Nadin menggantung karena langsung dipelototin iparku yang satu lagi.


"Makan aja San, Bu Anisa! Seger banget nih. kamu jangan ya Sya!" ujar Mbak Lasmi. Ia mulai mengerucutkan bibir sambil menghembuskan nafas karena menahan pedas. Sepertinya cabe rawit setan itu sudah mulai menggigit. Aku punya satu batang cabe rawit ukuran sangat mini, tapi pedasnya menggigit, di belakang rumah. Buahnya sudah berwarna merah karena rencananya mau ku jadikan bibit nanti. Aku harus menahan keinginan untuk membibitkannya, karena harus ku campurkan ke dalam bumbu rujak.


"Saya gak suka nanas apalagi masih muda, Bu Lasmi. Monggo, dimakan saja. Habisin dong! Kadang melihat orang lahap makan, aku jadi ikut seneng." Bu Anisa menjalankan perannya dengan bagus. Keringat sudah mengucur dari pelipis kedua iparku. Entah karena takut atau kepedasan.


Mbak Lasmi mulai mengurut perutnya yang ku yakini *******-***** onderdil pencernaannya, yang disusul Mbak Nadin. Mbak Lasmi berujar, "mbak mau numpang ke toilet ya!"


"Mbak, toiletnya mampet," jawabku cepat. Mbak Lasmi dan Mbak Nadin langsung berlari ke rumah mereka masing-masing tanpa berkata-kata lagi


Aku dan Bu Bidan terpingkal-pingkal melihat kedua iparku dengan tangan satu memegang perut dan satunya lagi memegang bokongnya. Ini bukan mauku, Mbak. Kalian yang memancing ikan jahat di hatiku.


"Sebaiknya kamu hati-hati ya Sya! Iparmu itu kurang waras. Kalau perlu, diskusikan sama Arga. Saya jadi khawatir sama kamu, soalnya kamu sendiri di rumah ini," tandas Bu Anisa, bidan yang ku anggap seperi ibuku sendiri.

__ADS_1


"Iya Bu. Syasa akan hati-hati. Semoga mereka segera bertaubat," sahutku sembari mengantarkan Bu Anisa sampai ke pintu. Ku Kunci rumah dari dalam, bagai gadis pingitan yang tidak boleh keluar. Semua karena saudara iparku yang menyebalkan.


Bersambung....


__ADS_2