
Adam dan sang kakak sudah sepakat untuk merubah ibunya menjadi lebih baik lagi melalui perlawanan Sindy, kepadanya kedua kakak beradik itu kompak menggunakan kehamilan Sindy, sebagai alasan ngidam dan mood ibu hamil bisa ber ubah – ubah. Bu sela yang, pemikirannya sedikit kolot seperti zaman dulu percaya saja. Jika keinginan sang menantu tak di turut akan menyebabkan bayi ileran.
Semua berjalan sesuai rencana.
Setelah ibu mertua pulang tak lama ia datang kembali membawa roda duanya, ya walau usia bu sela sudah mau memasuki kepala 4 namun ia masih lincah mengendarai roda dua.
“ nih Sindy, sisa uangnya seratus ribu lagi” seraya menyerahkan uang pecahan lima puluh ribu dua lembar.
💙💙💙💙
Butik semakin hari semakin ramai, bahkan ada beberapa model yang memamerkan hasil karya sindy, di sebuah acara fasion show. Semua orang bertanya Tanya ingin tau siapa pemilik butik itu, Karena selama ini Murni, di kenalkan sebagai tangan kanan pemilik butik.
Almia store semakin bersinar, sejak kehamilan Sindy, dan sekarang sindy akan berkata jujur kepada suaminya. Setelah ia lihat jika sang suami sudah banyak berubah lebih baik lagi.
Sore hari sambil menunggu waktu berbuka, Sindy sengaja mengajak adam pergi ke taman, untuk sekedar berburu takjil dan ngabuburit.
Di sebuah bangku taman, mereka berdua duduk menikmati senja jam baru menunjukan pukul lima sore.
“Mas ada hal yang ingin aku bicarakan tapi aku mohon kamu jangan marah” ucap sindy seraya memasang mimic wajah memelas,
“iya sayang, katakana saja insya allah mas ga akan marah” balas Adam seraya melihat ke matik hitam milik Sindy.
__ADS_1
“sebenarnya, Sudah hampir satu tahun lebih aku menjadi penulis di sebuah plafon kepenulisan, dan setiap bulan aku memiliki gajih di atas tiga juta” ucap Sindy seraya menggigit bibir menandakan jika iya tengah gugup.
“lalu apa yang ingin kamu bicarakan lagi” balas Adam dengan lembut.
“sudah beberapa kali aku mendapatkan even lomba dengan hadian di atas sepuluh juta, dan” Sindy menghela nafas menggantungkan ucapannya, detak jantuk ber irama, ia taku suaminya akan marah dengan apa yang telah ia lakukan selama satu tahun kebelakang.
“lalu, ayo dong sayang jangan muter muter gini apa kamu ngidam lagi dengan uang yang kamu punya, kamu ingin beli rumah mewah atau ingin kembali berjualan online” balas adam dengan gemas,
“tidak, aku sudah menggunakan uang itu seluruhnya untuk membuka butik di dekat rumah mamah” balas Sindy dengannya.
tegas seraya menghembuskan nafas sekarang ia merasa tenang sudah bisa mengucapkan apa yang ingin ia katakana kepada suaminya itu.
“syukur alhamdulilah istri mas, menjadi ibu rumah tangga yang produktif dan bisa menghasilkan walau kamu hanya di rumah saja” balas Adam dengan bangga, sebagai suami adam merasa bangga akan penghasilan dan pencapain sang istri.
“hmm,,, Sebenarnya Mas sudah tau, jika kamu memiliki butik dan menjadi seorang author {penulis novel}” ucap Adam dengan mimic muka yang begitu serius
“Hah,, sejak kapan ?” Sindy membuka mulut berbentuk huruf o menandakan jika sindy begitu kaget, irama detak jantung kembali tak beraturan, tangannya mengeluarkan keringat dingin,.
Adam yang melihat tingkah Sindy, seperti itu hanya tersenyum “dan berkata sejak kamu jujur sayang” rupanya Adam, mengerjai Sindy.
Sindy, yang sadar telah di kerjain oleh suaminya hanya mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Senja semakin sore, Adam dan Sindy, kembali ke rumah tak lama terdengar azan berkumandang menandakan waktunya berbuka puasa.
tak ada obrolan apapun lagi semua berkecamuk dengan pikiran masing masing.
Setelah berbuka, dan bersiap taraweh.
Sindy, terbangun pukul dua malam setelah melaksanakan shalat malam, gegas Sindy, memasak nasi di rice cooker, seraya menunggu nasih matang, Sindy memasak menu untuk saur. ada kangkung saus tiram, dan tempe orek sambal serta lalapannya.
Tak lama Sindy, membangunkan Adam, untuk saur bersama.
Selesai saur mereka kembali ke aktifitas masing masing, Sindy yang membersihkan piring kotor dan meja makan. di lanjut ber siap melaksanakan shalat di rumah.
Sedangkan Adam, sedangkan Adam sedang ber siap untuk ke mushola. untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah.
setelah kembali dari mushola, Adam berganti pakai untuk bekerja.
"Dek, Mas pergi kerja dulu ya, hati hati di rumah," kata Adam seolah aku masih anak kecil, dia begitu memanjakan, sayang menyayangiku, namun sejak menikah sudah beberapa tahun belakangan ini, bu Sela ibunya Mas Adam , sering menunjukan raut ke tidak suka nya kepadaku.
Atas Saran mba Anggi dan mas Firman, aku di minta sedikit melawan kepada ibu mertua, kakak iparku ingin Ibunya Sadar, sebelum ajal menjemput, iya takut ajal sudah menjemput namun sang ibu belum bertaubat.
aku setuju dengan keputusan mereka berdua, karena sebagai seorang wanita dan sebagai seorang menantu aku pun ingin di sayangi oleh mertua.
__ADS_1
bersambung