Sukses Setelah Di Hina

Sukses Setelah Di Hina
Tetangga berulah II


__ADS_3

Entah pada siapa mereka mau menyombongkan diri. Kalau di kampung ini, kami sama-sama tahu kalau hampir seluruh warga punya utang ataupun kredit. Gaya hidup hedonis sudah mulai mendarah daging. Untung saja aku tak ikut-ikutan trend mereka.


"Lalu kenapa nyari saya? Saya juga kan anggota geng. Makanya mulut disekolahkan, jangan asal nyerocos aja nyindir Bu RT," jawab Mbak Lasmi sewot.


"Bu Lasmi kan gak takut sama Bu RT. Pinjam dong, Bu! Janji deh, bakal dibalikin pas gajian," ucap Bu Sari memelas. Aku mulai merasa tak enak mendengar pembahasan pinjam meminjam itu. Aku curiga, sebentar lagi, Bu Sari mungkin akan menemui ku. Aku beranjak berdiri dan berjalan pelan untuk menutup pintu dengan perlahan, agar tak menimbulkan suara.


"Saya gak pegang uang, perhiasan juga disimpan di rumah. Lihat nih!" sahut Mbak Lasmi menunjukkan leher dan tangannya yang tak memakai perhiasan. Ia memberi kode pada Bu Sari agar masuk ke rumahku.


"Eh, Bu Syasa! Kok ditutup sih? Gak sopan deh, ada tamu malah nutup pintu," ujar Bu Sari menahan pintu yang hampir tertutup sempurna.Tuh kan, benar dugaanku. Ia senyam-senyum dan mendorong pintuku perlahan. Alhasil, Bu Sari nyelonong masuk dan langsung duduk di sofa.


Melihat keadaan itu, Mbak Lasmi dan Mbak Nadin ikut masuk dan duduk mengikuti mantan anggota geng mereka. Mau gimana lagi? Aku tak bisa mengusir mereka.

__ADS_1


"Ada apa sih Bu? Saya jadi gak enak hati, soalnya kalau tetangga bertamu, biasanya karena ada maunya," sindir ku. Bu Sari menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia melirik kedua iparku yang memberi semangat lewat tatapan mata dan alis yang naik turun.


"Ah Bu Syasa! Jangan bilang gitu lah! Hmm, anu, saya mau minjam duit untuk bayar motor. Kalau gak dibayar, bisa disita motornya." Aku manggut-manggut mendengar ucapannya.


"Kok manggut-manggut saja? Ada gak?" tanyanya mulai ngegas. Kedua iparku tertawa meledek memperlihatkan deretan giginya walau tanpa suara.


"Saya lebih setuju motornya disita Bu. Itu bukan urusan saya. Saya juga gak punya uang," jawabku acuh. Bu Sari terkenal dengan bicaranya yang ceplas-ceplos. Ia bisa memaki orang yang menagih utang padanya. Lebih baik menghindari urusan uang dengannya.


"Kasih pinjem cincinmu aja kalo gitu Sya. Berpahala loh," celetuk Mbak Lasmi yang membuat Bu Sari langsung melihat jemariku. Bu Sari hampir ingin melepas cincin pernikahanku dengan Mas Arga.


"Jangan Bu! Ini cincin kawin saya. Saya akan ambil pinjamannya," jawabku dan beranjak meninggalkan mereka. Bahaya juga itu orang, suka maksa kalau ada maunya.

__ADS_1


"Yes," sorak kedua iparku. Mereka bagai mendapat durian runtuh saat aku tak berdaya melawan Bu Sari. Kuambil kalung dan gelang Mbak Lasmi di kamar, lalu membungkusnya dengan selembar kertas.


"Saya gak punya uang kes. Mbak Lasmi tadi minjam duitku. Pake ini saja ya Bu. Jangan lupa dibalikin," ujarku sedikit memperlihatkan emas itu pada Bu Sari tanpa bisa dilihat kedua iparku. Bu Sari begitu gembira dan mengucapkan terima kasih sebelum pulang meninggalkan kami.


"Kalau sama orang lain, kamu mau juga ngasih pinjaman. Kamu gak tahu aja, dia susah ditagih kalau punya utang. Rasain! Arga akan memarahi mu" ungkap Mbak Lasmi, sinis.


Aku tersenyum tipis lalu berkata, "kayaknya kebalik deh Mbak. Yang ku kasih itu, kalung sama gelang Mbak Lasmi kok. Yang dimarahi bukan aku dong!" tandas ku yang membuat kedua iparku gusar.


"Bu Sariiiii! Balikin emasku!" teriak Mbak Lasmi mengejar Bu Sari. Aku mengikuti kedua iparku sampai depan pintu lalu menguncinya dari dalam. Sepertinya, Bu Sari akan jadi idola baru mereka dan akan sering juga disebut namanya.


Uhh! Banyak sekali waktuku terbuang percuma gara-gara meladeni manusia-manusia eror itu.

__ADS_1


__ADS_2