
"Ju*l diri kamu bilang, Mbak? Apa kamu tak takut dilaporkan ke polisi dengan kasus pencemaran nama baik?" seruku setelah mengatur nafas yang tidak beraturan.
Mbak Nadin mengusap pipi kirinya yang berubah kemerahan. Karena pipinya yang putih membuat stempel lima jari kananku tercetak dengan jelas. Benar sekali, pipi putihnya kontras dengan lehernya yang berwarna coklat.
"Lihat istrimu ini, Arga. Lancang sekali dia menamparku. Aku ini kakakmu, kakak iparnya. Kalau memang tak benar kenapa dia harus marah?" kilahnya sembari terkekeh sinis. Mbak Nadin tak membalas tamparan ku. Mana singa yang selalu menindas yang lemah yang kukenal? Apa dia punya rencana lain karena di depan suamiku?
Mas Arga diam dan bingung. Aku tahu kalau dia tak akan memihak atau membela tanpa alasan yang jelas. Dia harus di tengah. Di satu sisi, kakaknya dan satu sisi yang lain aku, istrinya. Aku juga tak ingin selalu dibela meski aku salah. Ingatkan aku bila salah dan salahkan orang yang benar bersalah. Begitu selalu petuah ku.
"Jelas aku marah Mbak. Seenak udelmu menjatuhkan harga diriku. Aku tahu, Mbak marah karena gak aku masakin makanan untuk kalian kan? Mbak juga makin dongkol karena iparmu yang miskin ini menutup pintu rapat saat kamu mau menitipkan Zaki kan?" Mbak Nadin ternganga mendengar ucapanku. D
"Jangan berusaha membuatku dan adikku musuhan Sya! Mana mungkin aku numpang makan, rumahku sendiri ada dan uangku jelas lebih banyak. Anakku ku titipkan? Oh gak mungkin banget. Orang yang belum pernah melahirkan mana bisa ngurus anak orang lain dengan baik," ujarnya sambil bersedekap.
Apa gak kebalik tuh? Dia yang tak bisa mengurus anaknya sendiri. Biasanya aku yang memandikan, menyuapi dan menjaga anaknya. Lalu ia akan menjemput Zaki menjelang suamiku pulang kerja.
"Jaga perkataanmu Mbak! Jangan pernah singgung masalah anak. Dan … jangan memercikkan api ke dalam rumah tangga adikmu," ucap Mas Arga berdiri lalu menggenggam tanganku.
"Dasar man …" Mbak Nadin tak meneruskan ucapannya karena melihat tangan kananku kembali terangkat. Kalau bukan karena suamiku menahannya, mungkin aku akan membuat stempel sekali lagi.
"Sayang, jangan marah-marah terus! Mbak juga tolong pulang," pinta suamiku. Mbak Nadin ngedumel tak jelas lalu ngeloyor pulang.
__ADS_1
Aku bernafas lega setelah Mbak Nadin pulang. Mas Arga segera menutup pintu agar tak ada lagi yang datang mengganggu. Mas Ilham lalu memelukku dan menuntunku duduk. Ia menyeduh susu untukku dan meletakkannya di atas meja karena masih panas.
"Dek, Mas tau kamu wanita baik. Mbak Nadin memang keterlaluan. Maafin ya Dek! Percuma berkata kasar atau meninggikan suara, Adek yang rugi. Marah bisa menyebabkan stres dan itu jadi sumber masalah kesehatan kepala, lambung maupun jantung. Kalau jantungmu bermasalah, bukan kamu saja Dek yang kesakitan. Mas yang akan paling menderita karena kamu itu jantung hatiku," ungkap suamiku sembari mengecup keningku.
Aku langsung tersenyum dan lupa masalah tadi. Inilah nikmat yang kadang lupa ku syukuri. Aku dikaruniai suami yang lembut dan sangat menyayangiku. Selama mengenalnya jika tak di recoki mertua atau ipar, rumah tanggaku adem ayem. Dan hari ini, ia berani menyuruh Mbak Nadin pulang lalu mengucapkan kata nan manis merayuku. Dia mengingatkanku tanpa membentak ku. Dialah sumber semangatku satu-satunya saat ini, karena aku belum punya anak. Kata orang, anak bisa menghilangkan capek dan amarah. Namun hingga kini, aku belum bisa membuktikannya.
"Sya! Buka pintunya. Ini Mbak Lasmi. Penting banget nih." Suara dari luar kembali mengganggu suasana romantis kami. Duh hidup gini amat ya! Tak bisa bernapas dengan tenang. Singa pulang, harimau pun datang.
"Eh, Arga udah pulang?" celetuk Mbak Lasmi yang langsung masuk saat suamiku terpaksa membuka pintu. Mbak Lasmi lalu mendekatiku dan melirik gelas berisi susu yang baru dibuatkan suamiku. Ku Lirik tangannya menggenggam sesuatu yang kuduga pil KB lagi.
"Ngapain kesini Mbak? Kami butuh waktu untuk hal pribadi. Kenapa selalu mengganggu kami setiap aku pulang kerja?" cecar Mas Arga yang menyusul duduk di sampingku. Aku yang kini melongo melihat perubahan sikapnya. Masih kuingat semalam saat ku ungkapkan apa yang kudengar tentang pil tidur yang mereka masukkan pada minumanku. Mas Arga begitu kecewa karena selama ini dia sangat respect kepada kedua iparku itu. Syukurlah kalau ia mulai bertindak tegas. Aku sengaja mengatakan pil tidur, bukan pil KB agar suamiku tak sampai kebakaran jenggot.
"O, cepat selesaikan urusan kalian Mbak!" ucap Mas Arga lalu meninggalkan kami menuju ruang makan. Sepertinya suamiku sudah lapar, tapi harimau ini terus saja mengganggu.
Uh, manis sekali perkataan istri kakak iparku ini di depan suamiku. Buru-buru ke salon baginya hal yang sangat urgent, mendesak sekali. Kentara sekali ia takut ditinggalkan Mas Bimo karena keriput halus mulai nampak di wajahnya.
Suami Mbak Lasmi yang seorang pegawai kantoran dengan posisi yang bagus membuatnya was-was kalau suaminya digondol pelakor. Mas Bimo orang baik dan penampilan wanita cantik bukan prioritasnya. Mbak Lasmi lupa kalau kecantikan akhlaknya lah yang belum dia permak. Dia terlalu sibuk agar terlihat sempurna di mata suaminya. Itu memang perlu, tapi dia enggan untuk cantik di hati suami.
"Sudah kubuang," cetus ku. Matanya melotot tak percaya mendengar pengakuanku. Ia lekas mencari barang yang ia maksud ke tempat cucian dan memang tak ada.
__ADS_1
"Apa maksudmu Sya? Baju kerja suamiku ada di sana juga baju mewahku. Oh tidak, itu semuanya mahal Sya. Apa kamu tak bisa bedakan baju murah dengan baju mahal? Aduh, aku sampai lupa kalau kamu tak punya barang mahal. Pokoknya kamu harus ganti rugi," hardiknya dengan menunjuk mukaku.
"Tak ada yang akan menggantinya. Kalau sampe Mbak minta ganti rugi sama istriku, akan ku pastikan Mas Bimo yang akan mengganti istrinya," ancam Mas Arga yang tiba-tiba sudah di dekatku.
Ya Allah. Terima kasih telah memberikanku suami sebaik Mas Arga. Genderang perang sudah ditabuh. Aku harus lebih hati-hati saat tinggal sendiri di rumah. Dua wanita buas itu bisa saja memang aku.
bersambung
mampir yuk ke cerita lainnya
💸sukses setelah Di Hinna
🍉 Es kul kul penyambung hidup
😀 tetangga Unik
🙃 Tetangga oh Tetangga
💞putih abu abu
__ADS_1