Sukses Setelah Di Hina

Sukses Setelah Di Hina
memberi pelajaran kepada Keponakan dan teman temanya


__ADS_3

"Bagaimana kabar Adek seharian ini? Pasti cepek nyuci baju, masak dan beberes. Belum lagi harus ngadepin ipar-iparmu yang usil. Sini mas pijitin Dek," kata suamiku selepas makan malam. Aku menarik kakiku yang hampir di raih Mas Arga. Dia lebih cakep, eh capek maksudnya karena harus bekerja dalam tekanan.


"Aku baik dan aman-aman saja kok Mas. Aku aja yang pijitin Mas. Ayo cerita, gimana rasanya setelah jadi manajer Mas?" ujarku sambil memijiti kepala dan bahu suamiku. Aku duduk di sofa sementara Mas Arga duduk lesehan bersandar ke sisi depan sofa. Aroma parfum menguar memanjakan indra penciumanku. Mas Arga memang suka memakai parfum non alkohol yang baunya tidak menyengat. Tidak hanya saat kerja, tapi juga saat di rumah berdua saja.


"Mas juga aman Dek. Semua tim mendukung Mas. Cuma ada anak baru disitu dan … agak ganjen."


"Jangan sampai suka ya Mas. Aku tak akan ridho," sungutku dengan sedikit mengeraskan pijatanku. Suamiku membalikkan badan lalu duduk di sampingku.


"Sampai saat ini tak ada niat mas untuk berbagi cinta dengan yang lain. Satu tambah satu tidak selalu menghasilkan dua kebahagiaan tapi juga bisa jadi nol. Banyak pria yang sukses berpoligami, tapi tak sedikit juga yang gagal. Niat agar tambah bahagia bisa jadi tambah melarat karena ditinggalkan yang pertama dan kedua. Mas gak mau mengambil resiko dengan menggadaikan istriku yang sempurna ini,"ujar Mas Arga sambil memijit jemariku.


Alhamdulillah Rupanya suamiku sudah kembali, tak seperti beberapa bulan yang lalu terhasut akan ucapan ibunya.


Biasanya aku tak sesensitif ini saat suamiku bercerita seperti ini. Namun dengan posisinya yang bagus di perusahaan bisa saja jiwa pelakor rekan kerjanya meronta-ronta.


"Allah Maha membolak-balik hati manusia. Dalam doaku selalu kusebut agar hatiku tak berpaling. Kamu juga doain gak Dek?" lanjut Mas Arga yang ku angguki. Mataku berkaca-kaca karena diriku yang sederhana ini bisa membuat suamiku betah di rumah setelah seharian bekerja, atas izin Sang Pemilik hati.


"Eh tapi tumben merajuk saat mas bilang ada wanita ganjen. Apa kamu hamil Dek?" Suamiku bertanya dengan binar harapan terpancar di wajah teduhnya. Aku menggeleng karena tak tahu dan juga takut kecewa.


🌈🌈🌈

__ADS_1


Aku sedang membersihkan bunga dari rumput yang mengganggu saat kulihat Meli, putrinya Mbak Lasmi dan beberapa temannya berjalan ke arahku. Sepertinya akan ada masalah lagi. No day without problem. Tiada hari tanpa masalah.


"Aku boleh belajar kelompok sama temanku di rumah gak Tan?" ujar Meli. Belum ku jawab keempat temannya sudah nyelonong masuk tanpa membuka sepatu mereka. Sebenarnya ingin ku tegur, tapi mengingat ponakanku yang sudah gadis, aku takut kalau Meli diejek temannya karena punya tante yang cerewet.


"Emang kenapa gak di rumah Meli?" selidik ku. Rumah kami berdekatan dan dapat kulihat rumah Mbak Lasmi terbuka. Itu artinya ada orang di sana.


"Mama baru nyapu dan ngepel Tan. Mama takut kotor lagi, makanya disuruh kemari," jawabnya lalu masuk menyusul temannya. Menyebalkan. Anak sama ibu sama-sama nyusahin.


Aku mengurut dada lalu melanjutkan pekerjaanku. Bunga mawar beraneka warna menghiasi taman miniku. Aku suka mawar, cantik tapi berduri agar tak sembarangan memetiknya.


Setelah siap, aku berjalan ke samping rumah dimana terletak kran air. Ku Basuh tangan dan kakiku yang kotor terkena tanah. Saat aku masuk ke dalam rumah dan … astagfirullah.


Kepalaku mendadak pusing karena buah di kulkas sudah habis dimakan oleh mereka. Sampahnya juga berserakan ditambah sepatu berpasir letaknya tak beraturan. Meli dan kawan-kawannya tertawa dan terus bercanda tanpa menoleh kepadaku, tuan rumah.


Aku melangkahkan kaki menuju rumah iparku, berniat untuk mengingatkan. Belum sampai di muka pintu, derai tawa kedua iparku membuatku menahan langkah.


"Pasti si Syasa sudah puyeng liat tingkah si Meli dan kawan-kawannya. Aku sudah suruh Meli untuk memfoto wajah jelek Syasa saat memarahi anak-anak itu. Gak kebayang deh Din, pasti jelek banget," kekeh Mbak Lasmi yang diikuti Mbak Nadin. Hatiku memanas mendengar kalau ini memang rencana kakak iparku.


"Iya Mbak, kamu memang pintar. Aku semakin bangga padamu," jawab Mbak Nadin. Baiklah iparku yang nyebelin, kita lihat muka siapa yang akan kesel nanti. Aku atau kamu?

__ADS_1


Aku malas menguping pembicaraan gak mutu mereka yang pastinya gak bagus untuk kesehatan jantungku. Aku tidak boleh stres karena stress itu sumber penyakit. Lebih baik aku pulang dan jangan membiarkan anak-anak gak bermoral itu lolos sebelum kuberikan pelajaran yang tidak mereka dapatkan dari sekolah.


Pendidikan formal zaman sekarang memang semakin canggih tapi adab dan sopan santun semakin menurun. Anak-anak semakin pintar segala hal tapi lupa cara menghormati orang yang lebih tua. Pakaian pun semakin kembali ke zaman manusia purba. Banyak desainer pintar dan terkenal tapi membuat pakaian mahal dengan bentuk yang mirip dengan pakaian tak jadi. Mirisnya, orang pintar pula yang rela membayar mahal demi memperindah tanpa menutupi kecantikan tubuhnya.


"Hai Tan, dari mana saja? Kok baru nampak?" sapa seorang anak laki-laki dengan rambut warna coklat. Pasti mereka menanti agar aku marah.


"Oh, ada keperluan tadi. Eh rambut kamu kok layu sampe-sampe berwarna coklat. Kamu kasih round up yah?" candaku yang direspon mereka dengan tertawa terpingkal-pingkal.


"Ah, Tante bisa aja. Round up kan merek pembasmi rumput, emang rambutku ini rumput?" tanyanya lagi.


"Mirip sih, karena rumput tumbuh di tanah. Dan tanah itu tak punya otak," jawabku yang langsung disambut tawa lagi. Hanya si pemilik rambut coklat yang bungkam sambil memainkan pulpennya.


"Udah siap gak? Coba tante periksa, tante jago juga loh saat sekolah dulu," ucapku mencairkan suasana. Meli meraih buku yang dipegang temannya lalu memberikannya padaku.


"Pinjem hapenya dong Sayang. Tante liat google dulu, tante agak lupa yang ini," ujarku lagi dengan berusaha membaca tulisan sekelas dokter, sungguh tak bisa kubaca. Meli menyodorkan ponselnya dengan malas yang langsung kuambil. Aku menyimpan hasil tugas kelompok beserta hape Meli ke kamar dan menguncinya dari luar.


"Balikin buku sama ponselku Tan, kami mau pulang nih," kata Meli dengan raut kesal.


"Meninggalkan rumah tante dalam keadaan berantakan gini? Jangan harap dibalikin. Cepat bersihkan semua dan isi lagi kulkas yang kalian ambil tanpa seizin Tante. Kalau gak diganti, kalian akan pulang tanpa masa depan," tandasku sembari berkacak pinggang. Wajah mereka pias dan dengan malas akhirnya berdiri mengambil sapu dan kain pel.

__ADS_1


Aku terus mengawasi pekerjaan mereka sambil mengulum senyum sampai beres dan kinclong lagi. Sementara Meli berlari ke rumahnya dan kembali membawa sekeranjang buah yang kuduga isi kulkas mereka lalu memasukkannya ke dalam kulkasku. Kutatap Mbak Lasmi yang berkacak pinggang di muka pintu rumahnya. Secepat mungkin, kusodorkan hape Meli dan tugas mereka lalu buru-buru menutup pintu setelah semuanya keluar.


Harus cepat, karena Mbak Lasmi dan Mbak Nadin sudah berjalan ke arahku. Maaf Mbak, kamu kan yang kesel sedangkan aku tertawa.


__ADS_2