
"Halah kamu hanya menutupi semua keirianmu kan? Aku sudah tahu watakmu Sya. Sudahlah aku mau pulang dulu daripada menghadapi orang tidak tahu diri sepertimu," ucap Mbak Nadin yang langsung nyelonong pergi.
"Loh.. Loh Mbak Nad mau kemana? Mana dpnya dulu? Aku takut seperti kemarin yang tdiak dilunasi ongkos jahitku olehmu," teriak Mbak Nay tukang jahit saat melihat Mbak Nadin pergi.
Mbak Nadin terlihat begitu malu saat Mbak Nay mengatakan demikian. Matanya seperti tidak fokus dan tidak berani menatapku mungkin dia sangat malu karena kesombongannya.
"Halah Mbak Nay, besok saja aku sekarang tidak bawa uang. Semua uangku di ATM, jauh sekali kalau mau ambil," ucapnya sedikit ragu dan langsung ngibrit begitu saja.
Aku menatapnya dengan tatapan memalukan, gitu kok sombongnya minta ampun tapi giliran ditagih uang jahit banyak sekali alasannya.
Aku selesaikan pembayaran baju yang akan di jahit,
πππππ
"Syaaaaaa! Kamu ini gak becus jaga anak satu doang. Pantas saja ya kalau sampe sekarang kamu belum hamil juga. Percobaan ngurus anakku saja kamu sudah gatot, gagal total," maki Mbak Nadin yang sudah mirip suara raksasa. Aku yang tadi berkutat dengan pakaian seabrek hanya menunduk dan memilin-milin dasterku. Aku bahkan belum sempat membersihkan tanganku karena mendengar panggilannya tadi.
Mbak Nadin menunjuk kotoran berwarna kuning anaknya yang sudah berusia empat tahun berceceran di lantai teras rumah. Anak sebesar itu tidak juga mau buang hajat ke kamar mandi. Entah seperti apa didikan Mbak Nadin pada anaknya. Anak bernama Zaki itu memang sering dititipkan kepadaku sejak aku menikah. Tapi sayangnya, saat aku mengajarinya Mbak Nadin akan langsung marah dan nuduh aku malas. Dia yang malas tapi teriak orang lain malas.
Aku menahan bulir mataku yang berlomba ingin keluar. Anak, anaknya dia, aku yang disalahkan. Mana kutahu kalau Zaki sedang bermain disini. Segera aku memutar badan lalu mengambil seember air dan kain pel. Kubuka celana anak bertubuh bongsor itu lalu menceboknya di halaman samping rumah. Setelahnya, aku mengelap kotorannya dengan celananya tadi lalu menyiramnya dengan seember air baru mengepelnya.
__ADS_1
Saat aku berbalik, Zaki sedang berlompatan di atas sofa dengan keadaan masih telanjang bagian bawahnya. Allahu Rabbi, kenapa Iparku ini menjadikan anaknya sebagai tanggung jawabku? Bukannya memakaikan celana anaknya, ia malah terkikik geli saat membaca sesuatu di gawainya.
Saat aku mau ke dapur mengantar ember dan kain pel, sempat ku lirik kalau dia sedang membaca sebuah cerbung di sebuah aplikasi. Wah, sepertinya aku harus membuat akun dengan nama pena dan menulis tentang hidupku yang tertindas. Siapa tahu kakak iparku itu akan membacanya lalu menyadari kesalahannya. Sepertinya Tante Sindy, yang sukses menjadi seorang penulis. Bukan hanya kesadaran nenek (mertua Tante Sindy,) namun pundi - pundi rupiah pun mengalir setiap bulan ke dalam ATMnya.
setelah Mbak Nadin, ikut Tinggal di rumah mertua kadang sesuka hati anaknya di titip di rumah ku. Begitu juga dengan Adik, ipar ikut ikutan bermain di Rumah ku membawa teman temannya menghabiskan setok camilan di kulkas.
Mas Arga, suamiku memiliki satu kakak perempuan yaitu Mbak Nadin. Mendiang Ayah mertua mewariskan sebuah rumah yang berdekatan yang ia bangun untuk Mbak Nadin dan satu lagi untuk Mas Bimo , kakak lelaki suamiku. Dan Millah adik bungsu suamiku.
Untungnya rumah Mbak Nadin, masih di kontrakan oleh orang lain dan dia tak akan Tinggal di sini, ia masih akan Tinggal di kecamatan.
,πππ
Sebenarnya tak masalah mereka sering main kesini. Tapi mereka harusnya tak membawa kain kotor mereka ikut serta dan menyuruhku mencucinya.pekerjaan rumah di rumah Ibu mertua sekarang sudah di kerjakan oleh orang Karena suami mbak Nadin membayarkan asisten rumah Tangga,
πππ
Kesabaranku habis saat mendengar percakapan Mbak Nadin dan Mbak Lasmi, istri dari Mas Bimo serta ibu mertua. Ke tiga orang itu memang akur dan bekerja sama untuk menzolimi ku.
"Mbak, udah dikasih pil KB kan minuman si Syasa tadi?" bisik Mbak Lasmi yang diangguki Mbak Nadin. Mereka terkikik lalu ngeloyor pulang. Aku tertegun mendengarnya yang tak mereka sadari saat aku mau ke toilet.
__ADS_1
Mereka memang setiap malam main ke rumah, kadang bergantian. Lalu dengan perhatian palsu membuatku susu untuk promil yang rupanya sudah dicampur pil KB.
"Mas, yang buatin susu buatku setiap malam memangnya siapa sih Mas?" ucapku pada Mas Arga yang menggenggam segelas susu.
"Maaf ya Dek, Mbakmu yang buatin. Mas cuma tinggal bawa. Mereka baik kan? Mereka sampe tak mau kalau kamu sungkan kalau tahu dibuatin susu sama mereka," jawab suamiku polos.
Darahku mendidih mendengar penuturan suamiku. Mereka memang berlaku baik padaku saat suamiku di rumah sehingga bisa bertopeng bagai malaikat di depan suamiku.
Iparku telah berencana membuatku tak kunjung hamil hingga kini, meski kutahu kalau obat bekerja kurang optimal jika dicampur susu. Mereka telah bermuka dua, maka tunggu saja pembalasanku. Apa keluarga mereka masih bisa betah main ke rumahku?
Bersambung...
Yuk mampir kecerita yang lainnya jangan lupa like komen dan vote...
πΈsukses setelah Di Hina
π Es kul kul penyambung hidup
π tetangga Unik
__ADS_1
π Tetangga oh Tetangga
πputih abu abu