Sukses Setelah Di Hina

Sukses Setelah Di Hina
pop Syasa


__ADS_3

Sungguh menyebalkan setelah mereka semua tau tentang usahaku, justru malah semakin merongrong isi kantong ku.


"Seperti memang aku harus bertidak lebih hati hati lagi dan menemui Zahra, biasanya dia yang tau cara menghadapi mertua toxic" pikir Syasa.


Setelah pergi dari rumah menuju tempat usahanya, Syasa memutuskan pergi ke kota hanya memakan waktu 1 jam, dia menaiki kereta agar lebih cepat hanya memakan waktu 45 menit.


💙💙💙


Di tempat lain.


Ibu mertua, Syasa sedang duduk di teras rumahnya seperti biasa ibu ibu lainya, menunggu tukang sayur sambil berbincang ria, dengan para tetangga.


"Eh, Bu Ida, lihat tuh tetangga baru beli kulkas dan TV baru. Mana gede lagi." ucap Bu Erna dengan ber api api, pasalnya Bu Erna sendiri tau jika Mertua Syasa, tak mau kalah saing oleh orang lain.


"Iya, benar, Bu Erna. Itu si Mira, istrinya Arjuna . Beli kulkas baru dia," tambah Bu Ida.


"Duit dari mana ya, Bu Ida. Arjuna itu 'kan cuma buruh pabrik.


"Ngepet kali," timpal ibu-ibu lain.


Mira Mendengar ucap mereka hanya mampu menghela napas, menahan amarah. Jika tidak ingat dengan hijab yang melekat di tubuh,


mungkin mulut mereka sudah di colek pakai sambal. Hanya aku masih menjaga marwah dari pakaian yang dikenakan. Masa berhijab berkelahi dengan tetangga.


"Kenapa, Dek?" tanya Bang Juna. "Ibu-ibu bergosip lagi?"


"Iya 'lah, Bang. Apa lagi? Masa kita dituduh ngepet karena beli barang-barang ini."


"Ya, sudahlah, Dek. Nggak usah diambil pusing orang-orang begitu. Mendingan kita masuk."


Aku mengangguk sambil tersenyum. Bang Juna merangkulku mesra.


"Heleh, sok mesra. Lebay."


Aku dan Bang Juna saling melempar pandang dan tersenyum geli, melihat tetangga kepanasan.


💙💙💙


Namaku Namira dan suamiku bernama Arjuna. Memang selama ini yang diketahui keluarganya dan juga para tetangga, kami ini orang miskin. Karena yang mereka tahu, suamiku itu hanya buruh di perkebunan yang sama dengan suami-suami mereka.


"Tambah sarapannya, Bang?"


"Nggak usah, Dek. Cukup!" Bang Juna meneguk secangkir teh dan menyisakan setengah.


"Abang berangkat dulu ya."


"Oke, Bang. Ingat ya, rahasiakan jati diri Abang. Nanti ada masanya, mereka akan tahu siapa kita."


"Iya, Sayang. Abang akan ingat pesan kamu."


Kuantar Bang Juna sampai ke depan pintu. Ia menyandang tas hitam kulit yang mulai pudar warnanya, menaiki motor jadul yang suaranya sangat berisik.

__ADS_1


"Hei, Mira, berisik amat tuh motor. Beli yang baru dong. Tuh, kayak motor saya. Keluaran terbaru, mereknya N-mox," celetuk Bu Erna.


"Hadeuuhh, Bu Erna. Beda kelas dong. Pak Joko 'kan supervisor di pabrik. Lah si Juna, cuma kuli biasa. Boro-boro beli motor baru, bisa makan saja udah syukur," timpal Bu Ida. Mereka sepertinya sangat dekat. Ke mana-mana berdua.


"Oh iya ya, Bu Erna. Saya lupa. Kita 'kan beda kelas. Nggak level," ucapnya sesumbar.


"Hus! Jangan bicara seperti itu Bu Ida, Bu Erna. Nggak baik! Sama saja dengan gosip," bela Bu Asih.


"Ck, gosip apaan? Yang kita katakan itu benar adanya. Kalau nggak benar, baru deh gosip namanya.".


Mendengar perdebatan ibu-ibu yang tengah belanja di tukang sayur, aku dan Bang Juna tertawa geli.


"Abang berangkat dulu ya, Dek."


"Iya, Bang. Hati-hati ya ."


Selepas kucium punggung tangannya, motor Bang Juna melaju melewati ibu-ibu yang masih sibuk berdebat.


"Sama saja, Bu. Kalau benar, namanya ghibah. Kalau salah, namanya fitnah," lanjut Bu Asih lagi.


"Halah, ceramah nggak usah di sini, Bu. Di masjid sana, atau di perwiridan," sentak Bu Ida. Dari raut wajahnya, tampak ia tak suka ditegur Bu Asih. "Saya nggak jadi belanja, Kang!"


"Iya, sama. Saya juga nggak jadi belanja. Hilang selera saya." Bu Erna ikut-ikutan sambil melemparkan seikat kangkung ke atas gerobak sayur.


"Kalau nggak mau beli ya nggak apa-apa. Tapi jangan dilempar-lempar dagangan saya atuh!" protes Kang Asep.


"Yang sabar ya, Mbak Mira. Mereka memang seperti itu," ujar Bu Asih padaku.


💙💙💙💙


Matahari sudah bersinar sangat terik. Maklum saja, sudah tengah hari. Kesempatan matahari memancarkan seluruh kekuatannya.


Dengan menggunakan motor bebek merek Supri, aku dan Bang Juna menuju rumah Papa. Ada yang ingin ia sampaikan katanya. Sejak tiba di wilayah perkebunan ini, kami baru beberapa kali berkunjung ke sana.


"Assalamu'alaikum," ucapku dan Bang Juna serempak.


"Wa'alaikumussalam," sahut suara lelaki yang sangat tidak asing di telinga. "Anak papa sudah datang. Ayo, masuk, masuk."


Kamu masuk ke rumah yang cukup megah kalau untuk ukuran kampung seperti ini. Pegawai dan buruh-buruh di sini tidak ada yang tahu kalau aku adalah anak dari Suryodiharjo--pemilik perkebunan sawit seluas 500 hektar, tempat di mana mereka bekerja.


"Ada apa Papa memanggil kami ke mari?" tanyaku langsung.


"Begini, Nak. Papa lihat, motor Arjuna sudah sangat tua. Sudah nggak layak pakai. Gimana kalau papa belikan yang baru saja? Masa calon pewaris perkebunan sawit Suryodiharjo naik motor berisik begitu sih."


Bang Juna memandangku. Aku yakin dia pasti menolak, dengan alasan motornya masih bisa digunakan. Padahal rasa tak enak atau segan yang selalu hinggap di perasaannya.


"Nggak usah, Pa. Yang ini masih layak pakai kok."


Benar 'kan dugaanku? Bang Juna pasti menolak.


"Nggak apa-apa, Bang. Terima saja pemberian Papa. Kamu tahu sendiri 'kan, tetangga-tetangga kita merasa terganggu dengan suara motor kamu," ujarku mendukung tawaran Papa.

__ADS_1


"Tapi, Dek--"


"Sudahlah, Juna. Nggak ada tapi-tapian. Besok papa akan kirim motor baru ke rumah kalian. Jangan bantah lagi! Papa nggak suka dibantah!"


Bang Juna hanya menundukkan kepala. Kalau sudah mendengar Papa bersikeras begitu, lelaki itu sudah tidak berani membantah.


.....


Pukul sembilan pagi, Bang Juna sudah siap berangkat ke pabrik. Tentunya dengan seragam yang sama dengan buruh biasa lainnya.


"Wah wah, jam segini baru mau berangkat?" Lagi-lagi suara Bu Erna. Ia berceletuk sambil menjemur pakaian. Kali ini tanpa Bu Ida. Entah ke mana wanita empat puluh tahunan itu.


"Sudah, Bu. Jemurin saja. Jangan ikut campur urusan orang."


Aku terperangah mendengar ucapan Bang Juna barusan. Tumben lelaki itu mau menjawab bully-an Bu Erna. Apa mungkin kesabarannya sudah habis?


Wajah Bu Erna langsung berubah dibalas Bang Juna. Dia menjemur dengan gestur tubuh serba menghentak di setiap gerakannya.


Tak lama berselang, sebuah mobil bak belakang datang dan berhenti tepat di depan rumahku. Sebuah motor berwarna merah metalik duduk manis di atasnya.


"Wah, sepagi ini Papa ngirimin motor, Dek."


"Ah, kamu kayak nggak tahu Papa saja, Bang."


Dan sesuai dugaanku, para tetangga rempong mulai berkumpul, begitu melihat apa yang datang. Tak terkecuali Bu Erna dan Bu Joko.


"Ibu Miranda, kami mau mengantar motornya. Ditaruh di mana ya?" ujar pria berseragam bertulisan Honta.


"Di sini saja, Mas."


"Wuih, motor baru nih." Bu Ida menghampiri.


"Halah, paling juga kredit, Bu Ida."


"Iyalah. Mana sanggup mereka beli cash. Paling juga kredit tiga tahun kan? Kayak saya dong. Cicilan setahun doang. Tiga bulan lagi lunas nas nas."


"Maaf, Bu. Ibu Miranda belinya secara cash, bukan kredit," ujar petugas yang mengantarkan motor.


"A-apa? Mereka be- belinya cash?"


Bruk.


"Lho, lho, Bu Ida, kenapa, Bu? Bangun, Bu, bangun."


💙💙💙


Di kota, syasa sudah bertemu Zahra, biasanya Zahra ada kampung yang sama di pinggirran kota, untuk mengelola perusahaan Syasa. Namun sekarang akan di adakan rapat semua manager perusahaan berkumpul di pusat. itu salah satu alasan Syasa pergi sepagi ini hanya untuk menghadiri rapat.


Sebelum rapat di mulai, Zahra melaporkan semua kelakuan kakak sepupunya itu. Semakin hari semakin gencar mendekati karyawan baru.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2