
"Mbak, aku tadi lupa ngambil gembokku. Bahaya kalau sampai besok pintu pembatas itu tak dikunci. Nggak dimakan kan Mbak gemboknya?" ucapku pada Mbak Lasmi yang sedang duduk di teras. Karena buru-buru membawa sup untukku dan Mas Arga tadi, aku sampai lupa benda berharga itu. Tanpanya, semua isi dapurku bisa digondol kedua iparku saat aku lengah.
"Masih berani kamu nongol kesini, Sya? Dagingku yang semua kamu masak. Sup gembok apaan?" sungutnya setengah berbisik. Aku melihat sepatu Mas Bimo nangkring di depan pintu. Pantas Mbak Lasmi berbisik.
"Aku bukan Sumanto, Mbak. Masa daging Mbak dimasak, daging manusia kok dimakan?" godaku. Aku yakin sepenuhnya Mbak Lasmi tak akan berani membentak ku.
"Maksudnya daging sapi yang di kulkas bukan daging yang ini," cetusnya lagi sembari menepuk otot pahanya.
"Kan udah minta izin Mbak. Kalau mau bikin sup gembok ya memang gitu. Harus komplit biar mantap. Tapi gemboknya gak habis kan? Masa' aku mesti beli lagi" ucapku keberatan.
"Sup buatan kamu gak enak. Pake bilang sup gembok segala. Apaan? Aku yang paling rugi tauk. Gara-gara kamu …." Mbak Lasmi terdiam saat Mas Bimo, suaminya, datang. Tuh kan, benar dugaanku, Mbak Lasmi sudah tahu dikibuli. Maka sengaja aku datang ngambil gembok ku saat abang iparku sedang di rumah.
"Eh Mas Bimo. Sup gemboknya tadi enak gak Mas? Kata Mbak Lasmi ndak enak loh," tanyaku, mengabaikan pandangan tak suka dari Mbak Lasmi. Mas Bimo itu pemikirannya dewasa, berkharisma dengan tubuh lebih tegap dari suamiku. Karirnya juga bagus dan sikap ramahnya pada orang membuat Mbak Lasmi selalu ingin tampil perfect.
Mbak Lasmi selalu memoles luarnya saja tapi dalamnya omaigot. Ibarat mengecat rumah kayu yang telah lapuk, indah tapi tak berarti.
"Kamu yang masak, Syasa? Enak. Mbakmu juga tambah-tambah tadi. Lain kali mas modalin deh masak sup kayak gitu," balas Mas Bimo sambil tersenyum lebar. Mbak Lasmi mungkin merasa dongkol sehingga beranjak mengambil gembok ku yang tadi tertinggal, lalu menyerahkannya padaku dengan kasar.
Aku tahu ini artinya pengusiran. Dan aku memang tak ingin lama-lama disini.
🌈🌈🌈
"Sayang! Ini semua gaji mas. Kamu simpan ya! Terserah mau beli apaan. Kalau perlu ditemani, bilang saja ya, Dek," ucap suamiku sesaat setelah ia pulang dari kantor. Mas Arga selalu ingin buru-buru memberikan isi amplopnya.
"Mas simpan aja dulu napa?" tuturku. Mas Arga tetap menyodorkan amplop gajinya lalu menjawab, "menteri keuangan rumah ini kamu, Dek. Wanita ahlinya mengatur uang agar cukup bahkan berlebih. Mas sudah simpan untuk pegangan kok. Segini, cukup gak bayar keringat selama ngurusin bayi dewasamu ini?"
Suamiku mengerling manja yang membuatku tersipu malu. Karena aku selalu mengurus keperluannya, Mas Arga sering bilang kalau dia sudah bagaikan bayi dewasa.
"Itu kewajibanku, Mas. Semua keringatku selama mengurus rumah tangga kita akan dinilai pahala. Begitu juga dengan keringat suamiku ini," ungkap ku sembari memeluknya sekilas.
"Mas, antar aku ke bidan ya. Badanku terasa pegal semua. Perutku juga begah," tutur ku yang diangguki suami.
Ba'da maghrib, kami berjalan ke rumah bidan kampung, karena jaraknya tak terlalu jauh dari rumah. Sengaja kami pergi malam untuk menghindari tukang gosip yang biasanya ngerumpi di sore hari.
Saat sampai di sana, yang dielakkan ternyata lagi berobat juga. Mbak Nadin, Bu RT dan gengnya sedang menunggui Bu Nuri dan sepertinya bersiap mau pulang. Saat melihatku dan suami, mereka urung melangkahkan kakinya. Mungkin tertarik gaya gravitasi bumi. Menyebalkan.
Bu Bidan memeriksa kondisiku setelah mendengar keluhanku lalu menanyakan haid terakhir. Aku tak terlalu memikirkan keterlambatan si tamu bulanan karena semenjak menikah haidku memang tidak teratur. Entah faktor hormon, stress atau efek pil KB yang entah sejak kapan kedua iparku itu rutin memasukkannya ke dalam minumanku.
"Sebaiknya Bu Syasa test dulu ya, gini caranya ...." Bu Bidan Anisa yang ditugaskan dari kota dan menetap di kampung kami terkenal akan keramahannya. Ia menjelaskan cara menggunakan tespek yang tak pernah kupakai sama sekali. Setelah menggunakannya sesuai tuntunan Bidan, aku tak berani melihat hasilnya dan langsung menunjukkannya pada Bidan. Menurut cerita orang yang pernah kudengar, garis merahnya harus dua.
"Aku takut kecewa, Mas," bisikku pada Mas Arga. Suamiku balas menggenggam erat tanganku dan mengusap punggung tangan ini.
"Apa mas pernah mengeluh atau sekedar mengungkit itu, Dek? Kamu itu terlalu pemikir Sayang," bisiknya lagi yang membuat Bu Bidan yang sudah menikah itu ikut tersenyum.
__ADS_1
"Gak mungkin hamil itu, Ham. Mbak yakin kalau istri kesayanganmu itu man ...," cetus Mbak Nadin dengan sengaja menggantungkan kata terakhirnya. Hinaan yang sering mereka labelkan kepadaku.
Andai Mas Arga tahu kakak dan kakak iparnya sendiri ikut bertanggung jawab atas ketidakhamilanku selama ini, entah apa yang akan ia lakukan. Aku dulu hanya mengatakan kalau mereka memasukkan pil tidur setiap malam, padahal hanya karena terlalu capek dan tertekan lah makanya aku selalu ngantuk tiap malam. Aku tak ingin suamiku yang terlihat tenang itu bisa habis kesabaran, sehingga aku memilih memendam sendiri masalah itu. Yang tenang itu bisa lebih berbahaya bukan?
"Masya Allah, kuasa Allah, siapa yang bisa menandingi? Selamat ya Bu, Pak, kalian akan segera menjadi orang tua. Usia kandungan Ibu tidak bisa saya pastikan karena Bu Syasa lupa tanggal haid terakhir. Sungguh beruntung, karena Ibu tak merasakan mual dan muntah yang biasa terjadi pada awal kehamilan. Lebih jelasnya, kalian bisa melakukan USG nanti," ujar Bu Bidan yang membuat aku dan suami tak henti mengucapkan alhamdulillah.
Bulir-bulir bening di sudut mata benar-benar memalukan dan tak bisa diajak kompromi. Dia tak tahu kalau disini lagi banyak orang. Aku terus saja menghapus air mata itu dengan ujung jilbabku dan bibir terus mengucapkan puji-pujian pada Sang Khaliq. Rumah kami akan ramai dengan tangisan anak-anak dan bukan karena suara kedua iparku yang menyebalkan.
"Bu Bidan! Jangan suka ngasih harapan palsu deh. Masa' sudah setahun baru kali ini hamil? Harusnya sudah dari jauh-jauh hari. Pasti salah itu," celetuk Bu RT sewot. Ia kayak gak terima dengan kabar baik ini, padahal aku tak pernah masalah dengannya. Apa ia dendam dengan insiden uang receh saat belanja di gerobak Abang tukang sayur?
"Ah, ibu-ibu ini ada-ada saja. Kita sudah sama-sama menikah. Ada yang cepat dapat keturunan, ada yang perlu ikhtiar lebih. Memangnya Bu RT langsung berisi saat sudah nikah?" cecar Bu Bidan dengan tetap ramah.
"Bukan cuma langsung berisi lagi Bu Bidan. Tapi si Joko, anaknya Bu RT itu kalau diibaratkan tanaman, termasuk varietas unggul. Lahirnya cuma setelah tiga bulan emaknya nikah, gemuk dan sehat pulak. Kalau mau cepat nongol itu si bayi, minta tips sama Bu RT deh Sya," celetuk Bu Sari yang langsung membuat semua gengnya tertawa.
Tanpa dikomando, mereka bubar mengikuti Bu RT yang duluan pulang. Hareudang … hareudang. Hampir bisa dipastikan, Bu Sari akan dikeluarkan dari geng.
Wkwk, aib Bu RT malah tersebar gara-gara julid.
💞💞💞
Hari ini bahan yang sudah di jahit sudah selesai pagi - pagi sekali, aku pergi mengambil ke rumah Mbak Nay. Mengambil jahitan baju ku yang sudah selesai. Sebentar lagi kedua Adikku akan datang. sengaja aku meminta mereka berdua datang untuk membawakan tas Di*r keluaran edisi Terbaru. Dan Hells yang senada dengan tasku.
tak lupa berlian yang bermata biru, milikku sengaja aku tinggal di rumah, aku minta Tia dan Zahra. Mengantarkannya.
Rupanya mereka tidak hanya datang berdua saja, Tante Sindy dan Mamah Anggi pun ikut. Dua wanita yang usianya sudah tak muda lagi itu, berpakaian sederhana namun berkelas.
mulai dari kerudung, tas jam tangan hingga flat shoes yang mereka gunakan keluaran terbaru bahkan, Tante Sindy memakai tas yang hanya ada 3 di negara wow...
siapa yang tidak kenal dengan beliau, penulis novel sekaligus owner butik Almia Store.
Tante Sindy, semakin tua malahan semakin cantik dan awet muda. Mungil karena hidupnya selalu di kelilingi orang orang, yang baik dan selalu merasakan Bahagia. kehidupannya semakin di kenal publik namun dia tak malu dan segan datang ke rumahku.
Jika di sandingkan dengan rumah beliau di kota. Rumah ku ini hanya gubuk kecil.
Pernah dahulu ketika aku membangun rumah ini, papah dan mamah Anggi. Menawarkan sejumlah uang untuk membangun rumah, namun aku memilih ingin membangun toko perhiasan. Ya jadilah Toko yang sekarang berdiri kokoh itu milikku.
Tak jarang aku mendapatkan kiriman berlian dari luar negri, ketika mamah dan papah. Sedang berada di sana, untuk meninjau perusahaan yang di bangun di sana.
Bahkan, kedatangan beliau ke sini, untuk membungkam mulut Kakak iparku. Rupanya mas Bimo, bekerja di kantor papah.
setelah sekian lama tak berjumpa, rasa rinduku akhirnya terobati dengan kedatangan kedua adikku, serta mamah dan tanteku.
Mereka datang karena akan menghadiri acara Hajatan mbak Nadin, sekaligus melihat keadaanku yang tengah berbadan dua.
__ADS_1
Rupanya kedatangan keluarga ku, membuat mbak Nadin dan Mbak Lasmi ke lelahan, karena aku di larang membantu rewang, di rumah Mbak Nadin. Oleh Mas Bimo juga oleh suamiku.
Untung hari ini Ibu mertua sedang baik, ya tak mempermasalahkan semuanya, jika dulu saat ada acara seperti ini aku lah yang paling lelah, dan sekarang aku lah yan Paling santai.
Lusa adalah acara sunatan Zaki, malam ini keluargaku menginap di hotel, jika di rumahku tak ada kamar lagi, hanya ada dua kamar. Tak enak jika mereka ber empat harus tidur dalam satu kamar.
Mamah Anggi bilang, nanti sore Om papah menyusul dan om Adam.
Alhamdulillah lengkap sudah keluargaku, berkumpul Paperbag yang Tia bawa, gegas aku masukan ke dalam kamar dan aku kunci kamar itu dengan rapat. Jendela pun aku cek ber ulang - ulang. Karena kedua iparku tau jika keluarga ku berkunjung pasti akan membawakan sesuatu yang berharga.
Di saat kita sedang asik ngobrol dan bercanda di ruang tamu. Rupanya di luar ada orang yang berusaha membuka jendela kaca di rumahku.
Aku tau itu, mendapatkan sebuah pesan singkat dari Namira.
{Sya, mbak ipar mu sedang mendongkel kaca kamarmu, pasti tadi kedua adik mu membawa sesuatu yang berharga}
Gegas aku masuk ke dalam kamar dan benar saja, ada suara seperti benda tajam sedang membobol kaca, Beruntungnya si Cantik Zahra, banyak akal.
"Udah kak Syasa, diem di kamar deket Jendela itu, aku dan Tia mau ke mobil pura pura ambil sesuatu di mobil nanti aku rekam mereka sedang berusaha merusak rumah kakak " ucapnya dengan geram.
Gegas Zahra dan Tia keluar. Di saat mereka keluar rupanya jendela sudah berhasil di buka. Baru saja mbak Nadin akan masuk ke dalam kamarku.
"Hay maling maling maling......" Teriak kedua adikku
Benar saja, semua orang yang sedang rewang berlarian menghampiri rumahku, aku yang sedari tadi berdiri di dekat jendela langsung berpindah kedepan jendela hal itu membuat mbak Nadin, kaget dan terjatuh kebelakang. Di saat Mbak Nadin akan bangun di bantu oleh mbak Lasmi, Tia dan Zahra gegas menahan mereka dan aku keluar rumah.
rupanya Bu RT dan Genk sudah ada di depan, mereka menatap ku Dengan sinis, namun di saat mamah dan Tante Sindy, mengikuti ku dari belakang mereka semua berubah baik.
Beruntungnya mas Bimo sedang ada di rumah, sebagai kakak tertua selama ini dia bisa membimbing adik adiknya dengan baik.
Di saat mas Bimo, menghampiri ku matanya tertuju kepada mamah Anggi,
"Ibu Anggi" ucapnya
Mamah hanya Tersenyum dan menganggukkan kepala.
Mbak Lasmi dan Mbak Nadin, di cecar pertanyaan oleh Zahra.
Mereka berusaha mengelak namun Zahra pintar tak terkecoh begitu saja, Rupanya di saat Zahra, izin ke kamar mandi dia tak pergi ke sana namun pergi ke belakang rumah mengintip mereka berdua yang berdebat dan berusaha membuka jendela.
Zahra, memang tegas dan pintar adik sepupuku itu merekam obrolan mereka berdua.
Bersambung
__ADS_1