Sukses Setelah Di Hina

Sukses Setelah Di Hina
kelakuan ipar ajaib


__ADS_3

Makin hari kelakuan Arga semakin menjadi, pergi pagi pulang hingga tengah malam, bahkan jika hari libur dia tak aka nada di rumah.


Semua keluarga Arga, memperlakukan Syasa semakin semena – mena. Pagi ini Syasa sengaja tidak melakukan pekerjaan rumah mertuanya, ia hanya membuat the manis hangat dan membeli lontong sayur di depan. Setelah selesai sarapan setengah enam pagi Biasanya Syasa. Akan mengerjakan pekerjaan di rumah mertuanya. Namun kali ini tidak.


Jam menunjukan pukul setengah tujuh pagi


Brak! Brak! Brak!


Pintu rumahku diketuk kasar oleh seseorang, aku yang sedang bersantai di ruang keluarga mau tidak mau menghentikan aktivitasku yang sedang menonton serial kesukaanku.


Kubuka pintu rumahku pelan, dan betapa malasnya diriku saat melihat bahwa yang ada tepat di depanku kini adalah Ibu Ida dengan wajah merah padam.


"Kenapa kamu masih di rumah mu? Apa salah ku?" teriaknya tanpa basa-basi dengan suara menggelegar.


Syasa hanya mengangkat sudut bibirnya


"Aku selalu mengutamakan kebahagiaan Ibu danyang lainnya tapi kalian membalasnya dengan perilaku buruk ini?" jawabku


Emosiku memuncak seketika kala mendengar ucapan Syasa, rasanya dia harus terlebih dulu berdiri didepan kaca untuk melihat siapa dirinya sebenarnya. Baru kali ini dia berani membentak ku. yang notabene adalah mertuanya. Ibu dari suaminya.


"Kamu mengatakan bahwa aku tak baik kepadamu? Apa kamu yakin kamu mengatakan demikian? Bukankah kamu yang seperti itu?" tanya Bu Ida beruntun.


"Syasa jaga..."


"Kenapa Bu? Hah? Kenapa? Aku melakukan semua itu karena aku sudah muak denganmu dan semua keluargamu karena kamu hanya mau memanfaatkan saja."


Mata Ibu melotot sempurna, mulutnya menganga lebar seperti tidak percaya bahwa aku mengetahui semua yang direncanakannya dengan keluarganya.


"Aku..."


"Sudahlah Bu, aku tidak mau lagi berdebat denganmu, aku akan mengurus perceraian ku dan anak laki -kakimu Bu, dan keputusanku sudah bulat," ucapku yang langsung menutup pintu rumahku.


"SYA'SA jangan lakukan itu, sampai kapanpun aku tidak akan mau melihat kalian bercerai. Kamu adalah hartaku dan aku tidak mau meninggalkan hartaku," teriaknya keras.


Aku lebih memilih kembali ke ruang keluarga dan memperbesar volume televisiku sampai suara Ibu idak terdengar di telingaku.


πŸ’™πŸ’™πŸ’™

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


Ku hela nafas panjang, siapa lagi yang datang ke rumahku. Aku mengira pasti Mas Arga yang melakukan semua ini tapi aku harus melihatnya dulu siapa tahu ada orang lain didepan.


Kubuka gorden sedikit untuk mengintip dari balik jendela, seorang di sana, Rupanya Namira dan mas Arjuna. meyakinkan diriku bahwa tidak Ibu mertua.


Segera kubuka pintu rumahku dan ternyata dia adalah orang yang sedang mengirimkan sebuah undangan yang ditunjukkan kepadaku.


Deg! Aku begitu terkejut saat melihat nama Ibu Mertua tertampil di undangan tersebut, segera kulihat dimana Ibu Mertua melakukan pesta dan ternyata di rumah Mbak Nadin.


Pikiranku melayang jauh, darimana mereka semua mendapatkan uang untuk mengadakan pesta ini dengan cepat? Apa mereka menipu orang lain?


Aku bahkan tidak percaya kalau mereka mendapatkan uang dari tabungan mereka atau apa karena aku tahu pasti keluarga Mas Arga tidak suka menabung dan hanya bisa foya-foya saja.


Tring! Tring! Tring!


Lamunanku tentang keluarga Mas Argq seketika terbuyar saat mendengar ponsel yang ada di tanganku berbunyi tanda ada yang mengirim pesan.


Kulihat ponselku dengan cepat dan ternyata yang mengirimkan pesan kepadaku adalah Mbak Nadin.


[Jangan kaget ya, jangan jantungan dulu kalau melihat undangan yang aku berikan kepadamu karena aku masih mau kamu hidup dan mau melihatmu menderita]


Pesan beruntun Mbak Nadin membuatku tambah curiga darimana uang itu didapatkannya. Mbak Nadin terlihat begitu merasa menang terhadapku.


[Oh pasti, aku akan datang dan melihat bagaimana hancurnya pestamu nanti] balasku cepat kepada Mbak Nadin yang aku yakin pasti dia semakin marah kepadaku


[Tutup mulutmu Sya. Kamu harus menghormati, aku ini kakak iparmu. Tidak pantas kamu mengatakan itu kepadaku, dasar ipar durhaka]


Aku menutup pesan Mbak Nadin dan tidak berniat untuk membalasnya, dia menyuruhku hormat kepadanya tapi dia sendiri saja tidak pernah menghormati. Enak saja dia menyuruhku begitu.


Namira dan Mas Arjuna, mereka hanya diam di Melihat aku menela nafas berkali - kali Tanpa berpikir panjang, aku sodorkan pesan dari mbak Nadin. Sungguh wanita Itu selalu membuat Masalah, belum lagi kedua sepupu mas Arga. Hanya bibi yang baik kepadaku, itupun atas Wasiat almarhum Ayah mas Arga.


Tidak. Banyak bicara mereka berdua menyerahkan bukti -bukti? Jika dulu Mertua laki -laki pernah Melakukan kecurangan. Dan juga surat wasiat yang di titipkan di Ayah Namira, ikut serta di bawa sebagai bukti, walau yang sekarang hanya fotokopian surat asli. Tapi tidak terlihat. Surat itu benar benar mirip asli. Karena Surat Asli sudah aku kirim ke Papah di jakarta. Mamah Anggi berkali- kali meminta aku pulang. Karena Tia dan Zahra akan lulus kuliah.


πŸ’™πŸ’™πŸ’™


"Seperti ukuran yang kemarin saja Mbak Nay, soalnya kemarin sangat bagus," ucapku pada tukang jahit langgananku yang ada di sekitar rumahku.

__ADS_1


Aku memang sudah langganan disini sejak dahulu karena jahitnya begitu rapi dan cocok sesuai dengan seleraku.


"Hmmm ternyata orang tidak tahu diri ini disini juga," ucap seseorang saat aku sedang mengobrol dengan tukang jahit langganan mengenai model baju yang akan dijahit.


Aku menoleh ke sumber suara dan ternyata Mbak Nadin yang berada di sana dengan membawa sebuah kresek besar berwarna merah yang kuperhatikan isinya adalah sebuah kain.


"Ini ya Mbak Nay, aku mau menjahit ini sesuai model yang sudah aku foto kemarin. Ingat yang bagus loh Mbak Nay soalnya ini untuk acara hajatan di rumahku," ucap Mbak Nadin dengan gaya sombongnya.


"Semua ukurannya juga sudah aku kirim kemarin ya Mbak Nay, selesaikan dulu biarkan saja baju orang tidak tahu diri selesaikan belakangan," cerocosnya lagi.


Muak sekali aku melihat Mbak Nadin dengan gaya sombongnya ini, aku juga begitu penasaran dia yang kemarin merengek kepadaku mengenai uang kenapa dia sekarang seakan ketiban durian runtuh.


"Kenapa kamu diam saja? Kamu iri kan tidak aku beri seragam untuk acara hajatan? Jangan mimpi Sya, selamanya aku tidak akan memberimu seragam untuk hajatan mewah di rumahku.


Meskipun kamu merengek dan menangis di depanku pun aku tidak akan memberikannya. Sorry, kainnya itu begitu mahal jadi kamu tidak cocok untuk itu," ucapnya beruntun kepadaku.


"Apa kamu pikir aku terlihat iri ketika tidak kamu beri seragam Mbak? Tidak aku tidak iri sama sekali," ucapku yang membuat wajah Mbak Nadin yang tadinya senyum penuh kemenangan kini berubah masam.


"Halah kamu hanya menutupi semua keirianmu kan? Aku sudah tahu watakmu Sya. Sudahlah aku mau pulang dulu daripada menghadapi orang tidak tahu diri sepertimu," ucap Mbak Nadin yang langsung nyelonong pergi.


"Loh.. Loh Mbak Nad mau kemana? Mana dpnya dulu? Aku takut seperti kemarin yang tdiak dilunasi ongkos jahitku olehmu," teriak Mbak Nay tukang jahit saat melihat Mbak Nadin pergi.


Mbak Nadin terlihat begitu malu saat Mbak Nay mengatalan demikian. Matanya seperti tidak fokus dan tidak berani menatapku mungkin dia sangat malu karena kesombongannya.


"Halah Mbak Nay, besok saja aku sekarang tidak bawa uang. Semua uangku di ATM, jauh sekali kalau mau ambil," ucapnya sedikit ragu dan langsung ngibrit begitu saja.


Aku menatapnya dengan tatapan memalukan, gitu kok sombongnya minta ampun tapi giliran ditagih uang jahit banyak sekali alasannya.


bersambung.


jangan lupa mampir ke cerita ku yang lainya kak. Like komen dan vote.


πŸ’™ sukses setelah Di Hinna


πŸ‰ Es kul kul penyambung hidup


πŸ€‘ tetangga Unik

__ADS_1


πŸ™ƒ Tetangga oh Tetangga


πŸ™‚putih abu abu


__ADS_2