
"Mas! Apaan sih nelpon Mas Bimo segala?" ujarku keheranan. Hal seperti ini harusnya tidak perlu ngadu. Aku sebenarnya tak pelit, tapi ekonomi keluarga Mbak Lasmi jauh lebih baik daripada kami. Dia memang sering minjam tapi ujung-ujungnya gak dibalikin. Daripada ribut lebih baik diikhlaskan.
"Akh, kamu juga percaya Dek? Mas cuma akting. Mbak Lasmi itu kakak ipar kita, jadi jangan biarkan dia berlaku semena-mena. Dia harus jera dan tahu batasan. Mas gak mau kalau dia kebiasaan dan melakukan hal yang sama pada orang lain. Kita mungkin bisa terima, kalau orang lain?"
Benar juga perkataan suamiku, aku harus membuat mereka jera. Tak perlu buang energi, atasi dengan cara yang lebih berkelas. Suaraku bagi mereka mungkin hanya angin lalu, tak berarti sama sekali. Kalau selalu apes, semoga mereka kapok.
"Oke Mas. Aku akan mengingat pelajaran ini," jawabku sembari berjalan lalu duduk di sampingnya.
"Kamu jangan lemah Dek. Mas gak bisa nemenin kamu tiap hari. Mas kerja buat kamu dan masa depan kita. Dulu kamu hanya orang lain, sekarang kamu sumber kehidupanku," ucap suamiku sambil mengerling manja.
"Ish, sumber kehidupan itu air Mas. Memangnya aku bisa disamakan dengan air?" protesku. Mas Arga menjawil hidungku lalu berkata, "mas bisa minum tanpa makan tapi tak bisa makan tanpa minum."
"Artinya?" Pura-pura tak tahu sajalah. Wanita suka gombalan walau terkadang kita sadar jauh dari kenyataan.
"Hidup ini memang pemberian Allah dan kamu nikmat yang paling ku syukuri Dek. Istri saleha dan sabar menemani walau hidup kita susah. Jadi bagaimana bisa hatiku hidup tanpamu?" ucap Mas Arga sambil menopang dagunya dengan telapak tangannya.
Aku tersipu malu mendengar penuturan Mas Arga, jodoh pertama dan semoga juga yang terakhir. Andai saja ini malam, mungkin aku sudah mengajaknya ke peraduan. Sebelum hatiku semakin meleleh aku mengajak suami untuk mandi karena maghrib akan segera tiba.
***
"Tolong bayarin paket Mbak dong Sya. Arga baru gajian kan? Suami Mbak baru nanti gajian. Nanti sore diganti deh," ujar Mbak Nadin setelah membangunkan tidur siangku.
"Berapa?" tanyaku pada kurir langganannya Mbak Nadin.
"Dua ratus Bu," jawab Si Abang. Aku melengos mengambil dompetku di kamar. Mbak Nadin masih sempat belanja online berarti dia tak semiskin yang kusangka. Ia dan suaminya hanya terlalu besar pasak dari tiang. Pengeluaran jauh lebih banyak dari pendapatan.
__ADS_1
"Siniin Bang paketnya, saya terima ya. Ini uangnya," tutur ku sembari menyodorkan empat lembar uang bergambar pencipta lagu Indonesia Raya. Setelah serah terima dengan kurir aku melenggang masuk dan dihadang Mbak Nadin.
"Mana paketku Sya. Itu baju mau kupakai Hajatan lusa," ujarnya sembari meraih paket tanganku. Eitsss, Mbak Sania kalah cepat dari tanganku yang sudah berpindah ke belakang.
"Sorry ya Mbak. Saya tak tertarik dengan baju Mbak. Selera kita beda dan terutama ukuran badan kita berbeda. Saya gak minat baju ini tapi akan ku jual lagi kalau belum ditebus selama 2 x 24 jam. Lebih baik setelah Mas Rusdi pulang, tebus langsung ya Mbak."
Mbak Nadin menganga melihat triknya kali ini gagal. Aku kapok bayarin beberapa kali tapi masih terus dijahatin. Benar kata suamiku, aku harus tegas tapi tetap berkelas, no koar-koar.
"Aduh Syasa nan saleha, adik iparku yang baik hati, cantik, manis, rajin menabung dan …."
"Tuh tau. Pada hapal banget sih Mbak kelebihanku. Tapi kalau untuk merayuku, maaf gak mempan. Assalamualaikum Mbak yang selalu menepati janji," tandas ku sebelum Mbak Nadin menuntaskan kalimatnya. Aku mengunci pintu dari dalam dan melanjutkan tidur siangku.
"Sya! Syasa...!" Suara Mbak Nadin menggelegar lagi. Apa dia belum pulang. Aku baru saja rebahan tapi gedoran pintu semakin keras. Menyebalkan.
Dengan berat hati aku bangkit juga untuk menemui kakak iparku yang sudah merindukan adik iparnya ini padahal baru saja ketemuan. Susah juga kalau punya penggemar anarkis.
"Katanya belum gajian," sindir ku sembari menarik uang yang terjepit di antara jemari montoknya. Mbak Sania menyahut, "baru bayar arisan, leasing, bank, …."
"Curhat?" potongku. Mbak Nadin memelototi ku hingga aku pura-pura ketakutan.
"Ampun Mbak. Lain kali jangan suka boong deh. Di dunia sengsara di akhirat masuk neraka pulak. Nih aku kasih jajan untuk Zaki," ungkap ku sembari menyodorkan selembar uang yang diberikan Mbak Nadin.
Mata Mbak Nadin langsung berbinar setelah uang berpindah tangan. Padahal saat aku tekankan kata neraka tadi, dia semakin membeliakkan mata. Uang memang bisa mengubah mood seseorang menjadi baik. Tanpa mengucapkan terima kasih, ia ngeloyor pulang membawa paketnya.
Mbak Nadin sebenarnya terlalu mengikuti gaya hidup konsumtif Mbak Lasmi yang notabene keuangannya lebih berada. Tak ingin terlihat berbeda, ia jadinya terlilit utang.
__ADS_1
Bagaimana bisa mendapatkan kebahagiaan jika tolok ukur kebahagiaan kita jadikan milik orang lain? Membandingkan bentuk badan, suami, merek hape, luas rumah, merek bedak dan hal remeh lainnya hanya membuat kita lupa menyoroti kelebihan kita yang tertutupi. Sibuk iri dan dengki pada kelebihan orang lain sehingga nikmat yang kita punya berlalu tanpa rasa syukur.
***
"Kamu ada kunyit gak Sya?" sapa Mbak Lasmi saat aku mau masak untuk makan malam. Aku masak dua kali sehari, pada pagi hari dan sore. Lauk pagi sampai siang dan sore untuk makan malam. Setelah lelah bekerja, suamiku akan membahagiakan dengan masakan yang lezat di mulut dan sehat di badan.
Rumahku memang tak pernah sepi walaupun belum dikarunia anak. Sudah satu bulan semenjak aku menutup rapat pintu pada malam hari untuk kedua ipar buas itu, belum ada juga tanda-tanda aku berbadan dua. Memang aku sudah terlambat halangan, tapi bisa saja itu hanya pengaruh hormon. Aku tak merasakan mual seperti yang dikatakan para ibu muda.
Kedua iparku yang menyebalkan itu sering mengunjungi ku. Pada sore hari saat masak begini, mereka sering datang dari pintu dapur yang menghadap kebun sayur miniku. Aku memetik bayam untuk ku rebus setelah Mas Ilham datang nanti.
"Ada Mbak. Ambil saja tapi jangan ambil yang lain," ucapku memperingatkan.
"Iya, peliiiiit." Mbak Lasmi langsung masuk ke dapurku.
"Wah sayur kamu segar. Enak kayaknya. Aku ambil sedikit ya!" Aku hanya diam karena merasa janggal. Tak biasanya Mbak Lasmi minta izin, dia tak perlu izinku untuk mencomot sesuatu yang ia mau, apalagi cuma sayur. Saat aku sibuk menyiangi bayam, Mbak Lasmi ternyata memetiki cabe rawit yang belum sempat kulakukan. Rencananya habis ini aku akan memetiknya dan menaruhnya di kulkas.
Setelah cukup cabe rawitku berpindah ke kresek putihnya, aku tersenyum tipis dari pintu dapur.
"Mbak, kalau keracunan, aku gak tanggung jawab ya!" ucapku saat dia ingin melangkah pulang.
"Soalnya itu baru disemprot pestisida. Serangga aja mati, apalagi …?" Sengaja ku gantungkan kalimatku dan bergidik ngeri. Kebun miniku untuk konsumsi pribadi, tak mungkin ku berikan racun untukku dan keluargaku. Sepertinya Mbak Lasmi percaya, satu … dua … tiga ….
"Kenapa gak bilang dari tadi? Dasar! Bikin capek aja," sungutnya kesal lalu melemparkan kresek yang sudah terikat itu ke semak-semak. Aku langsung mengambilnya dan terbahak-bahak setelah Mbak Lasmi hilang dari pandangan.
Duh, makasih Mbak, sudah petikan cabe nya untukku. Jasamu akan ku kenang untuk hari ini.
__ADS_1
🌈🌈🌈🌈