
Bu Sela, dengan bangganya memamerkan beberapa perhiasan yang baru saja di belinya. Sedangkan Anggi hanya diam duduk sesekali mengecek karyawannya di kedai, melalui handphone, Boba miliknya setelah di tinggalkan Devan, Kini Anggi hidup lebih berkecukupan.
Bu Sela dengan teman teman arisannya begitu antusias membahas soal perhiasan dan Berlian.
tak jarang Bu Sela, dapat tawaran dari Anggi, untuk membelinya.
setelah puas berkumpul dan bercanda ria dengan beberapa sahabatnya, akhirnya Bu Sela dan Anggi memutuskan pulang.
"Anggi nanti ibu berhenti saja di depan rumah Sindy" ucap Bu Sela
"ok, baik Bu tapi aku ga bisa temenin ibu, kalo lama lama kedai di tinggalkan takutnya anak anak kerepotan Bu" balas Anggi
"iya Gpp" ucap Bu Sela
tak ada obrolan lainnya lagi, mereka berdua pokus dengan pikiran masing masing.
Di tempat lain.
Sindy dan Adam, sedang menikmati momen mereka berdua, tanpa Di ganggu oleh mertua dan kakak iparnya.
waktu yang jarang mereka dapatkan setelah menikah, Sungguh hal yang langka bagi mereka untuk pergi keluar berdua saja.
"dek kamu nyaman dengan suasana seperti ini" Tanya Adam
"nyaman bgt mas" Jawab Sindy dengan mata yang berbinar.
Setelah mereka berdua menikmati, waktu berdua saatnya mereka pulang di perjalanan Sindy dan Adam tak hentinya tertawa berdua membahas segala hal yang receh, namun hal itu yang membuat Sindy begitu bahagia.
Saat Tiba di rumah ternyata Ibu Sela sudah menunggunya di teras rumah Seraya melipat kedua tangan di atas perut.
Menandakan bahwa dia sudah lama menunggu, jelas saja sudah lama menunggu karena Sejak Saat pulang dari Mall. Bu sela langsung datang ke rumah Sindy.
Untuk memamerkan beberapa perhiasan terbarunya.
"Dari mana aja kalian baru pulang?" tanya Bu Sela
__ADS_1
"Aku habis dari rumah mertua Bu" ucap Adam
"Oh iya, yaudah cepetan buka pintu ibu sudah bosen duduk di luar" ucap Bu Sela dengan ketus
Sindy hanya manut saja dengan keingin ibu mertuanya.
Ceklek
Suara kunci di putar
Mereka bertiga, masuk dengan beringin ke dalam rumah.
"3 hari lagi, Ibu mau adakan Arisan di rumah, dan ibu mau Sindy membatu ibu untuk menyiapkan acaranya" Ucap Bu sela dengan tegas, tanpa mau di bantah
"Baik Bu, Sindy akan bantu Ibu" ucap Sindy dengan lembut
"Kalo masak pasti repot, biar Adam pesankan catering saja dan juga pesan beberapa kue ke pada Bu Minah" timpal Adam.
"oke mamah setuju, Ibu pulang dulu ya" ucap Bu Sela
"Hmm rupanya abis beli Emas baru" batin Sindy
Bu Sela melangkah keluar rumah dengan angkuhnya.
Semua persiapan Cetring dan kue dengan sigap Adam pesan.
Tak terasa waktu arisan sudah Tiba. semua pesanan sudah Siap mulai dari catering serta kue.
Pagi ini Bu Alma Sendiri, yang mengantarkan pesanan catering nya dengan menu Soto, kerupuk udang, perkedel Serta Sate. menu yang begitu menggugah Selera. bertepatan dengan kedatanganya Bu Minah yang mengantarkan beberapa kue basah dan kue kering buatannya serta beberapa pic bolu.
setelah kedua orang yang mengantarkan pesanan pulang, tak lama Sindy datang menata kue kue itu semua di dalam piring. sedangkan makanan yang di pesan dari mamah Alma, di hidangkan seperti prasmanan.
tak lama ibu mertua menghampiri Sindy
"Sindy, kamu di belakang aja, cuci piring sama nyiapin kie buat tamu yang datang. Yang di depan biar Anggi saja. Kamu belakang aja, takut bikin malu tamu ibu. Tapi ingat jangan dihabisin makanannya ya, yang lain masih belum kebagian soalnya!" seru Bu Sela, ibu mertuaku dari sekat ruang tengah menuju dapur dengan nada keras.
__ADS_1
Mendengar seruan itu, aku menghentikan gerakanku menata gelas bersih ke atas rak piring lalu menatapnya dengan dada bergemuruh.
Ini bukan kali pertama Ibu memperlakukanku dan seperti ini. Bahkan sudah menjadi makanan sehari-hari.
Ingin rasanya melawan, tapi kalau hanya dengan mulut saja aku pasti akan kalah. Mbak Anggi, Sungguh pintar membalikkan fakta
Jadi mungkin aku harus bersabar untuk beberapa waktu ke depan sampai usaha mengumpulkan uang yang diam-diam kulakukan saat ini membuahkan hasil. Dengan begitu aku dapat membuka mata mertuaku ini, kalau aku bukanlah menantunya yang miskin dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Saat ini boleh saja aku di Hina, tapi tunggu saja nanti jika usahaku telah berhasil, menjadi seorang penulis platform online yang sukses, aku pasti akan secepatnya membukam mulutnya dengan kesuksesanku
tak menjadikan membangun rumah sendiri menjadi prioritas dalam hidupnya.
.
Dengan mata tajamnya, Bu Sela melihat kepadaku.
Aku sendiri hanya bisa mematung diam meski hati bergolak kencang merasa tidak terima atas perlakuan beliau padaku.
Di mata beliau, aku memang bukan siapa-siapa jika dibandingkan dengan Mbak Anggi yang berprofesi sebagai pengusaha. Padahal dia tidak tau jika Almia setor milikku.
Aku hanya Sindy, seorang ibu rumah tangga biasa yang sehari-hari bekerja mengurus suami dan berjualan kecil kecilan lewat online
Hanya saja saat ini diam-diam aku bekerja menjadi seorang penulis platform online dan meskipun belum banyak mendapatkan uang dan tabungan, tetapi sudah cukup lumayan bagiku untuk diam-diam bisa memenuhi kebutuhan hidupku sendiri, dan Juga terkadang aku menggunakan uangku untuk membeli gula dan teh untuk kebutuhan di rumah ini. bahkan terkadang lauk nasi yang dia ambil atau dia minta bayarkan kepada tukang sayur keliling itu semua uang hasil dari kerja ku sebagai penulis
Sayang, semua itu tampaknya tak ada artinya di mata Ibu mertuaku ini. Dalam pandangan beliau aku tetaplah menantunya yang miskin dan tak punya apa-apa, sehingga pantas diperlakukan hina seperti ini.
.
Apalagi dengan pendapatan yang di dapat dari seorang pengusaha , Mbak Anggi membelikan ibu barang-barang kesukaan beliau dari pendapatnya sendiri, jadilah ibu merasa begitu bangga dan semakin mengecilkan ku, menantu yang beliau anggap tidak berguna ini.
Lalu tanpa menghiraukan reaksiku atas segala ucapannya, ibu mertua langsung membalikkan badannya kembali ke ruang tamu sementara aku hanya mampu mengelus dada menahan rasa perih dan terluka yang seketika menyelusup masuk ke dalam dada mendengar ucapan beliau.
Dan yang paling penting lagi, biarlah sementara waktu ini ibu mertua tak tahu jika saat ini diam-diam aku sudah punya pekerjaan sambilan yang meski baru tiga bulan ku tekuni, tetapi alhamdulilah sudah mulai menghasilkan walaupun belum begitu banyak. Namun, cukuplah untuk membiayai kebutuhan hidupku saat kepepet uang.
selalu seperti itu, jika ada acara atau apapun itu aku hanya di per boleh kan di belakang, membantu pekerjaan yang biasanya di kerjakan orang lain bukan menantu seperti ku.
__ADS_1