Sukses Setelah Di Hina

Sukses Setelah Di Hina
lemari kaca baru


__ADS_3

"Syasa, Mama bilang beliau butuh uang," ucap Mas Arga saat aku baru saja selesai mandi dan hendak berganti baju.


"Uang? Uang buat apa, Mas?" tanyaku sambil beralih menatapnya yang duduk di sudut ranjang.


"Kata Mama, Mama ingin mengganti lemari kacanya dengan yang baru." jawab Mas Bima.


"Apa? Mengganti lemari kacanya? Bukannya yang itu juga masih baru, ya," ucapku.


"Iya sih. Tapi kata Mama itu sudah ketinggalan jaman, Sya. Teman-teman Mama juga sudah pada ganti dengan lemari kaca yang baru." ucap Mas Arga lagi.


"Terus?" ucapku lagi.


"Ya Mama minta uang sama kita untuk membeli yang baru." ujar Mas Arga.


"Terus, permintaan Mama itu kamu iyakan begitu, Mas?" tanyaku sambil menatapnya.


"Ya iya, enggak mungkin kan kalo aku harus nolak kemauan Mama." jawab Mas Arga dengan entengnya.


"Hadeeh. Terus, dari mana kamu akan dapat uangnya, Mas?" tanyaku.


"Kan gaji kamu gede, Syasa. Lagian Mama juga cuma minta empat juta aja," jawab Mas Arga tanpa beban.


"Sial, sejak mereka tau aku punya usaha sendiri mereka makin seenak minta ini itu, oke boleh akan aku belikan" batin Syasa


"Cuma empat juta kamu bilang, Mas? Kalo cuma empat juta saja, kenapa enggak kamu saja yang kasih." ucapku yang mulài kesal.

__ADS_1


"Ya enggak mungkin lah. Kan kamu tahu sendiri berapa gaji aku, mana aku juga banyak pengeluaran lagi bulan ini." ucap Mas arga.


"Terus kamu pikir aku enggak ada pengeluaran begitu? Kamu lupa, Mas? Semua pengeluaran di rumah ini aku yang tanggung. Sedangkan kamu apa? Kamu sama sekali tak pernah memikirkan semua itu." akhirnya emosi yang sejak tadi aku tahan-tahan meledak juga di hadapan Mas Arga.


"Ko kamu jadi perhitungan begitu sih, sya?" ucap Mas Arga dengan wajah tanpa dosa.


Mungkin jika saat ini Mas Arga bukanlah suamiku, rasanya aku ingin sekali mengacak-acak wajahnya sampai tak berbentuk lagi.


"Perhitungan kamu bilang, Mas? Apa kamu sudah amnes*a, Mas? Selama ini cuma aku yang selalu mengeluarkan uang untuk Mama kamu dan rumah ini. Apa kamu enggak sadar itu?" tanyaku pada Mas Arga.


"Kan emang gaji kamu yang lebih besar, sya." jawab Mas Arga.


"Aku tau. Memang gajiku lah yang paling besar. Tapi apa kamu ingat, Mas? Kamu itu kepala rumah tangga, harusnya kamu yang mengeluarkan uang buat menafkahi aku, bukan sebaliknya." terangku dengan air mata yang mulai turun membasahi pipi ini.


"Tapi kan kamu tau sendiri gajiku kecil, sya." ujar Mas Arga.


"Mama enggak mungkin minta sama kakaki, sya. Kamu juga tau sendiri bagaimana kehidupan mereka." ujar Mas Arga laagi.


"Terserah kamu saja, Mas. Intinya, mulai sekarang aku sudah tak mau lagi ngasih Mama kamu uang. Dan satu lagi, mulai sekarang kamu juga harus belanja buat kebutuhan rumah ini." ucapku seraya langsung keluar dari dalam kamar.


💙💙💙


"sya, syasa? Kenapa di meja makan tidak ada sarapan?" pagi-pagi Mas Arga sudah berteriak menanyakan sarapan.


Sementara aku masih sibuk berdandan di dalam kamar kami. Tak ada niatku sedikitpun untuk menjawab panggilan dari Mas Arga, aku lebih fokus menyelesaikan dandananku agar nanti tak terlambat ke kantor.

__ADS_1


"Sya! Kenapa meja makan kosong? Mana sarapan buatku." tanya Mas arga setelah membuka pintu kamar.


"Sarapan? Memangnya kamu sudah memberi aku uang belanja, Mas?" tanyaku sambil berbalik dan menatap dirinya.


"Ka-kan biasanya juga kamu belanja pakai uang kamu, Ren." jawab Mas Arga.


"Itu kan biasanya, Mas. Mulai sekarang dan seterusnya, kamu yang harus belanja untuk kebutuhan makan kita." ucapku dengan tegas.


"Ta-tapi..." ucap Mas Arga.


"Kalo mau ya sukur, enggak pun tidak jadi masalah, Mas." ucapku lagi segera memotong ucapan Mas Arga.


Setelah itu aku langsung meraih tasku dan berjalan meninggalkan Mas Arga yang masih berdiri di pintu kamar.


Sepanjang perjalanan menuju ke toko mas, ponselku terus saja bergetar. Nama Mama Ida terpampang jelas di layar ponselku.


Setibanya di parkiran kantor, kulihat lima belas kali panggilan tidak terjawab di ponselku dari Mama Ida. Aku yakin, pasti Mas Arga sudah mengatakan pada Mama Ida jika aku sudah menolak untuk memberinya uang lagi.


Selain lelah karena harus mengurus rumah dan juga bekerja, kini aku juga di buat makin lelah dengan sikap Mas Arga dan Juga Mama Ida yang semakin semena-mena terhadapku.


Mereka seakan menjadikan aku Atm berjalan mereka. Setiap mereka ada kebutuhan, pasti mereka akan langsung meminta padaku.


Tanpa memikirkan bahwa aku juga lelah dan susah dalam mencari uang tersebut.


Drtt... drtt...

__ADS_1


Mama Ida kembali menelpon diriku.


Bersambung...


__ADS_2