
Zahra, memang tegas dan pintar adik sepupuku itu merekam obrolan mereka berdua.
.mereka sudah tak bisa berkutik apa pala lagi, sore harinya mamah Anggi dan yang lainnya pergi ke hotel, untuk menginap di sana.
Papah dan om Adam, menyusul ke sana
besok, mereka baru kembali ke kampung ku untuk kondangan ke Mbak Nadin.
Hari ini sungguh menyenangkan telah puas mengintrogasi kedua ipar ku, dan yang lebih menyenangkan lagi Rupanya baju yang aku jahit di mbak Nay, begitu memuaskan dan juga kembar dengan kedua adikku.
Hari yang di tunggu telah tiba, Acara hajatan lumayan bagus tenda begitu besar, makanan Aneka camilan tersedia mulai dari eskrim, somay bakso dan rujak. Serta makanan berat lainnya.
Luar biasa memang mbak iparku yang satu ini, untungnya aku datang memakai pakaian yang mewah, tas dan Hells Di*r terbaru serta berlian biru metalik, begitu cantik aku kenalan. Tante Sarah mamah Anggi kan kedua adikku memakai pakaian yang begitu mewah dan berkelas. papah dan Om Adam. Memakai kemeja yang bermerk serta jam tangan yang mahal, Membuat para tetangga julit terdiam.
Untungnya kehamilan pertama ku tak mengganggu ku untuk tampil cantik. Semua acara berjalan Dengan Lancar, kedua orang tuaku langsung pulang setelah acara selesai karena mereka memiliki usaha yang tak bisa di tinggalkan lama.
💞💞💞💞
"Mbak! Mbak Lasmi! Aku ada berita loh," seru Nadin, adik iparku dari balik pintu. Apa dia tak bisa menunggu besok untuk menyampaikan beritanya. Bukan karena tak penasaran, melainkan Mas Bimo sedang di rumah. Malam ini Mas Bimo tidak keluar rumah sehingga aku harus menemaninya.
"Apaan sih teriak-teriak Nad? Ini sudah malam dan kamu masih keluyuran," sungut papanya Meli setelah membukakan pintu. Aku mendelik kesal karena adik iparku itu tak bisa menjaga rahasia. Jangan sampai ia mengatakan segalanya yang bisa membahayakan keselamatan kami.
"Eng-enggak Mas. Nadin cuma mau bilang kalau Syasa hamil," jawab Nadin yang langsung nyelonong masuk dari bawah ketiak abangnya.
"Alhamdulillah. Sebentar lagi kita punya ponakan," sahut Mas Bimo sedangkan aku terpekik kaget sambil menutup mulut dengan telapak tangan. Ini berita buruk.
"Napa kaget gitu Ma? Syasa kan adik ipar kita, harusnya kita senang. Syasa juga punya suami, lalu kenapa harus kaget?" cecar suamiku. Aku menghembuskan napas perlahan demi mengurangi rasa syok dan panas yang menjalar di tubuhku.
"Kaget karena seneng kok Pa," jawabku berbohong. Aku begitu gelisah mendengar kabar buruk ini. Besok aku harus memastikan kalau semua itu tidak benar. Nadin pasti salah informasi. Ta-tapi ….
💞💞💞
Semua orang pasti heran melihatku sangat membenci Syasa. Aku adalah istri Mas Bimo yang merupakan anak tertua dari tiga bersaudara. Adik iparku nomor dua Nadin dan yang bungsu Arga. Di kampung ini akulah primadona. Semua orang memujiku karena bisa mendapatkan Mas Bimo dengan sejuta pesonanya.
__ADS_1
Karena aku mendapat suami yang teramat ganteng, orang tuaku membekaliku perhiasan yang cukup banyak demi menunjang penampilanku. Papi juga memberikanku kartu kredit untuk modal ke salon, demi tetap terlihat cantik di mata Mas Bimo. Hidupku begitu sempurna.
Mas Bimo sangat menyayangiku tapi aku tetap takut sayangnya makin berkurang. Secara kan, dia lebih banyak menghabiskan waktu di kantor. Ia tentu bertemu banyak wanita cantik. Selain itu, aku menggaet suamiku dulu dengan cara yang curang. Kalian tahulah, dengan menggunakan ehm-ehm.
Suamiku, Mas Bimo, pria paling tampan dan mapan di kampung kami, sehingga beberapa wanita mencoba mendekatinya. Daripada aku benar-benar kehilangan Mas Bimo, aku harus rajin merawat diri. Aku jarang mencuci baju maupun memasak demi tetap tampil cantik saat suamiku pulang kerja. Orang-orang yang sering mengejekku karena dinilai kurang cocok dengan suamiku pun bungkam, sejak aku rajin memberikan uang jajan pada mereka.
Semua pandangan masyarakat berubah sejak Arga menikahi seorang gadis miskin bernama Syasa. Wajahnya memang biasa saja dan kulitnya lebih gelap dari kulit wajahku. Tapi Tiara memiliki wajah yang bersih dari jerawat dan sangat ramah kepada semua orang. Ia juga pandai memasak dan sering membagikannya pada tetangga, Nadin dan juga padaku.
Dan satu Pakta yang membuat ku kaget, rupanya Syasa, bukan orang miskin namun orang punya bahkan suamiku bekerja di perusahaan milik keluarganya.
"Mas, Mbak, ini ada sayur tauco. Saya masak banyak tadi," katanya sok ramah. Mau ngasih kok cuma sayur tauco. Gak level banget. Aku sudah membeli makanan dari rumah makan yang jelas lebih enak. Ingin kubuang mangkok berisi sayur itu, namun kalah cepat dengan suamiku.
"Wuiih, ternyata kamu jago masak juga ya Sya. Mas suka nih. Ma, nanti belajar masak sama Syasa saja. Papa lebih suka masakan rumahan. Selain hemat dan sehat, kamu juga berpahala loh, Ma," ujar suamiku yang sudah melahap masakan kampungan itu. Hatiku memanas hingga menumbuhkan bibit-bibit kebencian pada Syasa. Mas Bimo telah memujinya dan malah menyuruhku belajar sama Syasa.
Perselingkuhan di zaman sekarang sungguh edan. Saling mengkhianati dan menyakiti. Aku tak ingin suamiku jatuh cinta pada adik iparnya. Tidak akan.
No way. Lebih baik aku memesan makanan atau kalau perlu bisa belajar dari kokinya langsung. Mas Bimo tidak boleh sering-sering memakan masakannya. Andai aku bisa masak karena Syasa, Mas Bimo akan tetap memuji Syasa karena berhasil mengajariku.
***
"Mbak Lasmi, ada makanan gak? Laper nih," ujar Nadin yang tanpa ku jawab langsung mencomot makananku. Aku memang sudah lama memanjakan dia dengan makanan dan sengaja membeli susu penambah berat badan serta vitamin penambah nafsu makan.
Untuk apa? Ya, agar dia terlihat jelek karena gemuk banget. Wajahnya cukup manis tapi aku tak suka itu. Akulah yang terbaik. Setelah nafsu makannya bertambah, timbangannya drastis ke sebelah kanan. Aku tambah senang jika suaminya sering memarahinya. Akulah sekarang yang paling bahagia.
Hop. Syasa bisa jadi sainganku. Arga dan Syasa sangat akur. Nadin juga menyukainya, tapi aku tak suka. Sebaiknya aku harus mengajak Nadin membuat Syasa stress dan capek berlebihan.
"Nadin! Biar kamu gak capek masak, ambil saja lauk si Syasa . Arga itu adekmu, kamu boleh menikmati hasil jerih payahnya. Ancam saja agar dia gak ngadu," ujarku memprovokasi Nadin. Nadin seperti keberatan tapi aku harus gigih meluluhkan hatinya.
"Kamu juga gak perlu capek ngurusin Zaki, kamu suruh si Syasa yang jagain. Kita bisa pergi arisan dengan tenang," ujarku lagi dan Nadin mulai manggut-manggut. Ia mulai hobi arisan dan shopping, tapi tetap aja terlihat kampungan.
Setelah Nadin menjalankan aksinya, bukannya strees, Syasa malah senang karena ia punya teman di rumah. Semua orang semakin memujinya karena penyayang dan sabar menghadapi Zaki yang sangat aktif.
Masalah makanan ia juga tak pelit karena masakannya tak jauh dari sayur-sayuran. Cuma makanan murahan. Ia sama sekali tak stress. Aku sungguh takut kalau ia hamil dan melahirkan. Bisa-bisa suamiku menyuruhku agar belajar mendidik anak pada Syasa. Ia hanya lulusan SMA dan mantan guru PAUD dengan gaji tak seberapa. Apanya yang harus dibanggakan? Pantas saja ia mau sama Arga yang kere.
__ADS_1
Namun Rupanya dia bukan lulusan SMA dan hanya guru paud rupanya dia pemilik salah satu perusahaan dan juga dia lulusan terbaik di kampus Dulu.
Pokoknya aku tak suka semua tentang Syasa. Jilbab lusuh dan pakaian tertutupnya yang selalu jelek membuatnya mirip pembantu. Gaji pas-pasan Arga pasti tak cukup untuk membeli baju yang lebih layak. Makanya aku heran sama Mas Bimo, ia malah menyuruhku meniru cara berpakaian gembel itu. Tak masuk akal.
Syasa tak boleh punya anak, agar ia bisa kucaci sepanjang usianya. Dia bukan wanita sempurna. Aku akhirnya bersekongkol dengan Nadin agar menaruh pil KB ke minumannya, setiap malam. Dasar iparku yang bodoh.
Awalnya semua lancar, tapi, sebulan lebih belakangan ini kami gagal menjalankan misi itu. Syasa mulai melawan dan sering mengerjai kami. Saat aku mengadu pada suamiku, malah Syasa yang dibela dan aku yang disalahkan.
Sekarang aku dapat kabar tak sedap ini. Tidak bisa dibiarkan. Wanita yang terlihat polos itu memang tidak bodoh, tapi akulah yang paling cerdas.
Ayolah Lasmi, kita akan beraksi. Semangat!
***
Pagi-pagi aku ke pasar, bukan untuk belanja kebutuhan dapur. Aku cuma mau beli nenas muda. Waktu hamil dulu, aku suka ngerujak. Syasa juga pasti suka dan ia bisa ngerujak nenas muda itu.
Aku tersenyum membayangkan apa yang akan terjadi padanya. Setelah puas makan, ia akan memegangi perutnya dan berteriak kesakitan. Ia baru kali ini hamil dan aku harus berpura-pura baik. Syasa tak boleh curiga kalau nenas muda itu bisa membahayakan janinnya.
Hahaha.
***
"Assalamualaikum Dek. Syasa! Buka pintunya Dek," panggilku dari luar. Cukup lama agar pintu terbuka dan aku harus bersabar.
"Kata Nadin, semalam kamu ke rumah bidan karena kamu hamil. Selamat ya, Sya," ucapku sambil menjabat tangannya yang diikuti Sania.
Syasa hanya terdiam dengan kening berkerut. Ia juga tak memperlihatkan wajahnya yang ramah.
"Tadi Mbak Lasmi sengaja beli nenas. Kamu suka yang asem-asem kan? Mbak juga dulu gitu. Karena Arga kerja, ia pasti tak bisa cariin rujak. Kita keluarga, dan aku tahu betul susahnya saat hamil," ungkap Lasmi meyakinkan. Syasa mulai ileran melihat nenas muda itu.
"Mbak kupasin ya!" kataku dan Syasa mengangguk. Yup, rencanaku akan berhasil kali ini. Tinggal selangkah lagi.
bersambung.
__ADS_1