Sukses Setelah Di Hina

Sukses Setelah Di Hina
naskah tanpa judul


__ADS_3

Rania sudah memakai baju berwarna maroon dan bandana yang senada. di gendong oleh Ranta, dengan pakaian yang senada dengan putri kita, aku tau pasti Ranta akan meminta ku mengantarkan mereka ke supermarket untuk membeli kebutuhan Rania.


walaupun aku merasa lelah, aku tak keberatan dengan permintaan Ratna, karena aku merasa di butuhkan dan aku merasa di hargai.


"mas aku mandi terus makan aku hari ini masak cah kangkung dan ikan mujair goreng" ucap Ratna seraya tersenyum manis


"ok sayang, setelah itu aku minta tolong temani ke supermarket ya" sengaja aku berkata meminta tolong di antar ke supermarket, karena aku kulihat Ranta seperti sungkan untuk mengatakan itu.


Pelajaran hidup sudah aku lalui 30 tahun hidup di bumi ini membuatku tahu manis pahitnya, kehidupan apa lagi sudah lama di tinggalkan orang tua membuatku. Mandiri sebelum waktunya ketika anak anak lain masih bermanja dengan kedua orang tuanya, aku sudah harus membantu bibi berjualan.


Melihat renata, tumbuh dengan baik membuatku bertekad untuk menyiapkan tabungan jika kelak dia sekolah nanti, aku ytak kelimpungan mencari uang lagi untuk biyaya sekolah, anak anakku kelak, agar dia tak merasakan apa yang aku rasakan dulu.


Diam diam sepulang kerja kadang aku menjadi driver ojek online, walau terkadang aku kadang berbohong kepada istirku Ratna.


Menjadi kepala keluaraga tidaklah mudah, di tuntut untuk bisa membingbing istriku.


‘’Sayang, aku sudah siap” panggilku kepada Ratna


“iy, ayo mas nanti keburu malam” ucap ratna


Gegas mereka berdua keluar rumah menuju motor yang sudah terparkir cantik di halaman rumah.


Memakan waktu 30 menit menuju super market.


Ratna dengan cekatan memilih barang yang Renata butuhkan, bahkan dia mengabaikan kebutuhnnya sendiri. Jangakankan skincare, sekedar camilan kesukaanya saja ia lebih memilih membuatnya sendiri ketimbang mebeli yang tinnggal makan setiap aku Tanya doa hanya akan menjawab “lebih higienis dan sehat membuat sendiri” jawabnya sungguh wanita idaman.


Setelah selesai memilih semuanya gegas membayar dan pulang, tak lupa sebelum pulang aku membeli sea food kesukaanku.


Benar kata orang membahagiakan istri pintu rejeki akan selalu terbuka.


Sejak aku menikah dengan Ratna, dia tak pernah lupa untuk mengingatkanku mengirim uang kepada bibi, walau jumlahnya tak banyak namun itu membuat bibi bahagia.


Tak lama pesanan siputku sudah selesai, sengaja aku memdan di bungkus saja karena aku perhatikan putri kecilku Rania, sepertinya sudah mengantuk wajar saja sekarang sudah pukul delapan lewat tiga puluh menit. Biasanya Rania sudah tetidur dengan pulas di rumah, sekarang masih di gendongan bundanya. Mungkin merasa tak nyaman untuk tidur.


Ku percepat laju kendaraanku cukup memakan waktu 30 menit sampai di rumah, Ratna, bergegas menidurkan Rania, aku membawa semua belanjaan menaruhnya di meja dapur.


Seraya mencari piring untuk makan seafood.


Tak lama Ratna, datang aku pikir dia akan ikut istirahat bersama Rania, namun justru dia melayaniku makan. Dan memberskan semua belanjaan dan memasukannya ke dalam kulkas.

__ADS_1


Selesa berberes semua dan aku selesai menikmati seafoodku, gegas kami mengambil wudhu untuk melaksanakan salat isya, dan tidur.


*****


Di tempat lain


Setelah bekerja Anggi semakin semangat untuk membangun usahanya, bahkan sekarang dia akan membuka cabang baru. Penghianataan yang di lakukan oeleh suaminya membuat Anggi bangkit menjadi wanita karir, bahkan terkadang di sela sela waktu kosong dia memdesain bebrapa gaun dan di jual teman teman sosialitanya.


Kehidupan Anggi benar benar berubah, bak cerita dongen.


Bu Sela, semakin membanggakan si Sulung Anggi, bahkan semakin menjadi merendahkan Adam dan Istrinya.


Pagi ini tepat hari libur dan hari gajian Adam, pagi sekali setelah subuh jam masih menujukan pukul lima lewat sepuluh menit, bu Sela datang ke rumah Adam hanya untuk meminta jatah bulannya.


Tok..


Tokk


Suara pintu di ketuk.


“ ya sebentar” jawab Sindy


Ceklek


Pintu di buka


“duh Sindy kamu lma sekali buka pintu untuk ibu, ibu sudah kedinginan” seraya masuk menyenggol bahu Sindy. Duduk di sofa dan menyilangkan kedua kakiknya, persis seperti nyonya di rumah menantunya.


Sindy, hanya diam dan mengembuskan nafas kasar.


“sudah pasti minta jatah bulaanan padahal masih pagi sekali” pikir Sindy


“eh Sindy, kok malahan bengon di situ, cepet bikini ibu minum dan sarapan pagi” ucap bu Sela dengan ketus.


“iya bu” gegas Sindy ke dapur


Menyiapakan nasi goreng sosis, dan teh manis hangat sengaja Sindy hanya menyiapkan nasi goreng sosis, karena pagi ini Sindy akan ke butik, melihat hasil kerja para karyawannya.


Karena tak ingin terjadi keributan di pagi hari perihal hanya sarapan dengan nasi goreng sosis, karena akan menghambat rejeki jika bertengkar di pagi hari, jadi Sindy memutuskan menggoreng beberapa ayam dan menumis capcay. Tak lupa juga Sindy memasak nasi di rice cooker.

__ADS_1


Selang dua puluh menit semua masakan Sindy, sudsh tersaji di meja makan tepat dengan Adam, yang baru pulang dari musolah.


“asalamualiku” ucap Adam


Ceklek suara pintu di buka


Adam melihat sang ibu sudah duduk manis di ruang tamu seraya menonton televisi,. Pemandaangan yang akan terjadi setiap tanggal gajian. Sang tamu istimewa sudah duduk cantik menunggunya pulang dari musolah.


“waalaikumsalam” balas bu Sela seraya terseyum ramah kepada Adam, tak melupakan baktinya kepada orang yang sudah melahirkan dan membesarkannya seoranng diri, di cium dengan takzim punggung tangan sang ibu.


“ibu sudah lama?” Tanya Adam


“ibu sudah sejak subuh di sini, ada yang ingin ibu bicaranya kepadamu dan juga istrimu” ucap bu Sela


“baik bu, tapi sebelum itu kita sarapan dulu” ajak Adam


Gegas mereka menghampiri Sindy, yang sedang membereskan alat masak.


“mas kamu sudah pulang,?” gegas Sindy mengelap tangannya yang basah dan mencium tazkim punggung tangan suaminya.


Melihat itu semua bu Sela hanya memutar bola malas, gegas bu sela duduk di salah satu kursi, di susl oleh Adam dan Sindy.


Melihat menu masakan yang cukup menggiurkan, gegas bu Sela menghambil nasi putih dengan ayam goreng serta capcay.


Sindy, ysng melihat itu hanya menggeleng kecil seraya terseyum.


“sering bilang ke orang orang masakkan ku kurang bumbu, tapi selalu paling semangat dan lahap memakannya” batin SIndy


“ibu tidak pernah berubah selalu berkata seenaknya, terhandap Sindy dan selalu membicaraknya kepada tetangga perihal makan yang kurang bumbu namun dia selalu paling lahap memakan, masakkan SIndy.” Batin Adam


“mas kamu mau makan nasi putih dengan ayam dan capcay atau nasi goreng sosis?” Tanya Sindy


“nasi goreng sosis saja dek” jawab Adam


Gegas Sindy menyiapkan makanan pilihan Adam, mengambil piring dan mengisinya dengn nasi goreng sosis.


Mereka bertiga makan dengan diam bahkan bu Sela, menambah dua kali tak lupa juga setelah makan Bu Sela membungkus capcay dan ayam goreng yang tersisa 3 potong lagi. Dan mengambil sayur mentah di kulkas.


Untungnya sekarang Sindy lebih cerdas, dia sengaja menyetok sayur tidak banyak dan sudah memotong sayur sayur itu dan di memasukkannya kedalam wadah kedap udara, jadi sayur dan lauk tidak mudah layu, dan ber bau.

__ADS_1


Selesai mengambil semuanya dan membungkusnya ke dalama plastik.


__ADS_2