Sukses Setelah Di Hina

Sukses Setelah Di Hina
tetangga berulah


__ADS_3

"Kenapa ada uang masuk ke rekening mas, Dek?" tanya Mas Arga melalui seluler sesaat setelah aku tiba di rumah. Mas Arga mungkin sudah membaca sms banking berisi transfer masuk ke rekeningnya.


"Oh, itu tadi aku yang transfer, Mas. Aku gak jadi ke tukang mas hari ini. Simpan disitu aja dulu uangnya. Menyimpan uang di rumah, mulai gak aman lagi," ujarku.


"Apa ada maling, Dek?" Suara Mas Arga terdengar khawatir.


"Gak usah dipikirin Mas. Nanti aku ceritain ya! Semuanya sudah beres kok," sahutku menenangkan Mas Arga. Kalau diceritakan sekarang, aku takut Mas Arga kepikiran dan gak fokus bekerja. Lebih baik kusimpan dulu permasalahan ini sampai Mas Arga pulang.


Kampung kami aman dari maling luaran, tapi kakak iparku lebih berbahaya dari maling itu sendiri. Kukira mereka sudah taubat, eh rupanya sedang menyiapkan strategi untuk membalas ku.


"Apa jangan-jangan kakak iparmu berulah lagi? Mas percaya kok kalau kamu itu wanita cerdas. Tetap hati-hati di rumah dan kunci pintu," titah suamiku. Tuh kan, suamiku langsung tahu aja maksud perkataanku. Masalahku tak jauh-jauh dari urusan yang berkaitan dengan kedua iparku. Menyebalkan. Kami pun mengakhiri telepon setelah saling mengucapkan kata-kata cinta.


"Syasaaaaaa!" Suara yang dielakkan sudah terdengar lagi. Aku menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Aku tidak boleh emosi berlebihan kalau tak ingin berpengaruh pada janinku.

__ADS_1


"Jangan terlalu sering menyebut namaku Mbak! Efek sampingnya, Mbak akan rindu terus loh. Aku takut kalau Mbak Lasmi sampe terbawa mimpi," kekeh ku pada Mbak Lasmi, sementara kulihat Mbak Nadin masih jauh tertinggal di sana.


"Jangan banyak bacot kamu! Kamu akan ku adukan pada suamiku karena mencuri uang dan perhiasanku," bentak Mbak Lasmi.


"Yang ada, aku yang bakalan minta uangku yang dipake untuk transfer tadi," balasku tak mau kalah. Mana berani dia mengadu pada Mas Bimo.


Cepat juga sampenya mereka dari pasar. Ooh, rupanya sepatu high heel itu letaknya sudah di tangan, bukan di kaki. Jarak dari pasar ke kampung kami memang hanya sekitar satu kilometer lebih. Kami tadinya naik angkot kesana, eh pulangnya, mereka harus jalan kaki. Mau nipu, sih.


"Ngapain kamu ambil Dompet Mbak Lasmi, Syasa? Lihat! Kakiku jadi lecet gara-gara harus jalan kaki. Panas pulak," sungut Mbak Nadin setelah berhasil menyusul. Duh, kasihan sekali. Ia pasti kesusahan berjalan jauh dengan bobot tubuh diatas normal. Mbak Nadin yang masih ngos-ngosan lalu duduk bersandar di teras rumahku mengikuti Mbak Lasmi yang sudah duluan. Kangen lagi kah? Sampai-sampai masih mau main disini. Padahal, baru jumpa loh.


Aku kembali masuk dan duduk berselonjor di sofa. Kalau ikut nimbrung sama mereka, aku bisa masuk angin. Aku tak tahan duduk di lantai terlalu lama. Dan paling penting, aku malas duduk bertiga dengan iparku yang menyebalkan. Sungguh unfaedah.


Aku tak perlu menutup pintu sebelum mereka pergi, karena pintu yang tak berdosa itu akan mereka ketok lagi. Gara-gara aku, pintu pun ikut teraniaya. Biarlah kutunggu mereka menetralkan detak jantung mereka. Entah alasan apa yang Mbak Lasmi akan katakan demi mendapatkan dompet berisi kalung dan gelangnya yang sudah kusimpan.

__ADS_1


"Eh, Bu Lasmi! Disini toh? Dicariin dari tadi, rupanya disini," sapa Bu Sari. Aku bisa melihat wajahnya dengan jelas dari balik kaca jendela. Ia beringsut mendekati kedua iparku.


"Gini loh Bu Lasmi. Aku kan sudah dikeluarkan Bu RT dari geng kita. Aku perlu uang untuk bayar kredit motor dan suamiku belum gajian. Semua anggota geng sudah kumintai, tapi tak ada yang ngasih. Mereka takut sama Bu RT," jelas Bu Sari. Aku menggeleng-gelengkan kepala melihat gaya hidup orang kampung ini. riba bagaikan gaya hidup. Demi terlihat kaya, berlomba-lomba membeli ini, itu, walau harus kredit atau minjam ke rentenir.


Entah pada siapa mereka mau menyombongkan diri. Kalau di kampung ini, kami sama-sama tahu kalau hampir seluruh warga punya utang ataupun kredit. Gaya hidup hedonis sudah mulai mendarah daging. Untung saja aku tak ikut-ikutan trend mereka.


"Lalu kenapa nyari saya? Saya juga kan anggota geng. Makanya mulut disekolahin, jangan asal nyerocos aja nyindir Bu RT," jawab Mbak Lasmi sewot.


"Bu Lasmi kan gak takut sama Bu RT. Pinjamin dong, Bu! Janji deh, bakal dibalikin pas gajian," ucap Bu Sari memelas. Aku mulai merasa tak enak mendengar pembahasan pinjam meminjam itu. Aku curiga, sebentar lagi, Bu Sari mungkin akan menemuiku. Aku beranjak berdiri dan berjalan pelan untuk menutup pintu dengan perlahan, agar tak menimbulkan suara.


"Saya gak pegang uang, perhiasan juga disimpan di rumah. Lihat nih!" sahut Mbak Lasmi menunjukkan leher dan tangannya yang tak memakai perhiasan. Ia memberi kode pada Bu Sari agar masuk ke rumahku.


"Eh, Bu Syasa! Kok ditutup sih? Gak sopan deh, ada tamu malah nutup pintu," ujar Bu Sari menahan pintu yang hampir tertutup sempurna.Tuh kan, benar dugaanku. Ia senyam-senyum dan mendorong pintuku perlahan. Alhasil, Bu Sari nyelonong masuk dan langsung duduk di sofa.

__ADS_1


Melihat keadaan itu, Mbak Lasmi dan Mbak Nadin ikut masuk dan duduk mengikuti mantan anggota geng mereka. Mau gimana lagi? Aku tak bisa mengusir mereka.


"Ada apa sih Bu? Saya jadi gak enak hati, soalnya kalau tetangga bertamu, biasanya karena ada maunya," sindirku. Bu Sari menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia melirik kedua iparku yang memberi semangat lewat tatapan mata dan alis yang naik turun.


__ADS_2