Sukses Setelah Di Hina

Sukses Setelah Di Hina
murkanya Bimo


__ADS_3

"Ini tak bisa dibiarkan. Mas gak bisa terima perlakuan mereka. Mereka harus diberikan pelajaran," seru Mas Ilham saat ku ceritakan yang terjadi hari ini. Lihatlah, suamiku begitu marah jika menyangkut keselamatanku dan calon bayinya. Padahal, aku mengatakannya setelah perut kami kenyang. Bahkan kami sempat bercerita hal lain terlebih dahulu, seperti biasanya.


"Mas! Aku tak akan larang keputusanmu! Aku juga ingin aman dari tindakan kriminal mereka. Tapi, tenangkan dulu dirimu Mas! Perkataan buruk itu ibarat paku yang kita tancapkan pada sebuah papan. Kita bisa mencabutnya, tapi tidak dengan bekasnya." Mas Arga menghentikan langkahnya mendengar perkataanku.


"Hayuk ke kamar Mas! Kita bisa cerita tentang langkah kedepannya sambil rebahan. Dalam keadaan berdiri, emosi bisa lebih tinggi." Aku tak ingin suamiku sampai memutuskan silaturahmi dengan saudaranya.


Suamiku menuruti perkataanku saat melihat mataku yang berkaca-kaca. Aku terharu karena Mas Arga bersikap tegas demi kami. Tapi, aku juga tak mau kalau ia bertengkar dengan Mas Bimo, abangnya yang teramat menyayangi kami. Kalau Mas Arga langsung marah, atau bahkan menampar Mbak Lasmi, Mas Bimo bisa saja membela istrinya seperti suamiku membelaku. Adu jotos abang-adek akan jadi tontonan gratis bagi tetangga.


Begitu juga dengan Mbak Nadin. Suaminya bisa saja marah dan langsung memulangkan istrinya. Siapa yang akan malu? Kita juga kan? Kalau sampai terjadi hal buruk dengan rumah tangga mereka, Mbak Lasmi dan Mbak Nadin akan semakin membenciku.


***


Mas Arga meminta Mas Bimo untuk mengundang kedua biang keladi dan suami Mbak Nadin ke rumah kami. Ini masalah serius dan harus segera dibicarakan dengan cepat. Berkali-kali ku kerjai, mereka tak pernah jera. Sekarang mereka sudah melampaui batasan sebagai manusia normal. Apa mereka memang manusia harimau dan manusia singa?


Setelah semua berkumpul di rumahku, ku hidupkan kipas angin agar suasana tetap sejuk. Tak lupa ku suguhkan teh mandi, maksudnya teh manis dingin sebagai peredam emosi. Ini masalah yang menguras emosi.


"Mas Bimo, Mas Tio, istri adalah tanggung jawab kita masing-masing sebagai suami. Aku sangat menyayangi adik ipar kalian dan calon anakku." Mas Arga menjeda perkataanya, membuang sesak di dada dengan nafas teratur. Kedua kakak ipar duduk di samping suaminya masing-masing. Mas Bimo dan Mas Tio sepertinya belum mengerti duduk perkaranya.


"Aku tak tahu masalahnya, Mbak Nadin dan kakak ipar suka nyari masalah dengan Syasa. Tapi tadi pagi, sikap Mbak Lasmi dan Mbak Nadin sungguh sudah di luar batas yang bisa saya maklumi. Hari ini, mereka berniat membuat Syasa keguguran dengan memberikan nanas muda yang dicampur obat pencahar. Apa maksudnya, coba? Kalau kejadian ini terulang kembali, aku tak akan segan buat pengaduan ke polisi."


Mas Bimo kaget dan mendelik tajam pada istrinya mendengar ucapan suamiku. Mbak Nadin dan Mbak Lasmi berkali-kali meneguk teh manis, namun tak bisa menghilangkan kegugupan mereka. Kipas angin yang tepat di sebelah mereka juga tak bisa menyamarkan peluh yang mengucur deras di wajah keduanya.

__ADS_1


"Kurasa karena Syasa sering minjam duit, tapi gak dibalikin. Wajar dong kalau Nadin dan Mbak Lasmi bertindak. Makanya, istrinya jangan disuruh minjem-minjem," ujar Mas Tio yang membuatku meradang. Mbak Nadin mungkin sudah mengarang cerita yang tak masuk akal ini.


"Istriku itu sederhana Mas. Sejak aku bergaji kecil, semuanya cukup, bahkan berlebih. Apalagi sekarang? Bukan sombong, gajiku lebih besar dari Mas Tio," balas suamiku yang membuat Mas Tio membuang muka.


"Kurang aj@r kamu, Nadin. Kenapa gak bilang kalau adikmu naik pangkat? Cepat pulang! Kamu bikin ulah saja," bisik Mas Tio menarik tangan istrinya dengan kasar. Mereka bahkan tak meminta maaf. Tinggal kami berempat sekarang, dan Mas Mas Bimo belum bicara.


Suami istri itu seperti bicara dari mata ke mata, karena mereka masih terus berpandangan. Mas Bimo melotot, sedangkan Mbak Lasmi menatap dengan tatapan memohon. Beberapa menit kemudian, Mbak Lasmi akhirnya bersuara.


"Mbak minta maaf Sya, Arga! Sekarang aku sadar, aku khilaf Dek. Mbak sungguh minta maaf. Kami sudah dapat ganjarannya. Pil pencahar dan rujak pedas itu telah membuat kami sampe harus diinfus. Mbak kekurangan cairan. Mbak tak akan mengulangi lagi," ujar Mbak Lasmi terisak. Entah apa yang mereka bicarakan tadi melalui mata mereka. Sepertinya kami harus belajar komunikasi baru ini, agar orang lain tidak bisa menguping pembicaraan kami.


"Mbak juga menambahkan obat pencahar pada nanasnya?" tanyaku tak percaya. Aku tak bisa membayangkan apa yang terjadi padaku kalau sampai memakannya. Sungguh, mereka bagai singa dan harimau buas berwujud manusia.


"Keterlaluan kamu Lasmi. Mana otakmu, hah?" bentak Mas Bimo. Ia lalu menoleh pada kami lalu berujar, "Arga! Kalau Lasmi masih berusaha menyakiti Syasa. Penjarakan saja, aku tak keberatan," tandas Mas Bimo dengan rahang mengeras. Susah payah ia menarik bibirnya keatas, agar membuat senyuman, walau terpaksa.


***


"Syasa! Mbak dapat hadiah mobil mewah. Ini SMS nya," seru Mbak Lasmi yang ditemani Mbak Nadin yang langsung masuk saat melihat pintu sedikit terbuka. Wah, ternyata mereka sudah rindu lagi padaku. Satu bulan mereka tak usil, semoga sudah lupa caranya menjahiliku.


Aku membaca isi pesan murahan yang isinya persis sama dengan yang biasa masuk ke nomor hapeku. Dari nomor tak dikenal yang memberikan iming-iming mobil, tapi harus mengirim ongkos dan pajak terlebih dahulu.


"Arga sudah gajian kan? Mbak pinjam uangmu dulu ya. Ada dua puluh juta?" tanyany sambil menarik tas di depanku.

__ADS_1


"Itu hanya penipuan Mbak. Jangan percaya! Aku gak punya uang segitu. Lagian, Mbak punya uang lebih banyak daripada aku," kilahku.


"ATM disita Mas Bimo karena masalah yang waktu itu. Perhiasan yang ku pake juga disita surat-suratnya. Jadi gak bisa ku jual," jelasnya.


Aku akhirnya menuruti kemauan Mbak Lasmi yang ngotot minta dipinjami. Sebelum berangkat, Mbak Nadin memasukkan kalung dan gelangnya ke dalam dompetnya, karena pasar sangat rawan penjambretan.


Aku memilih ikut mereka ke bank BR* keliling yang sering datang di dekat pasar saat tanggal gajian. Kuterima nomor rekening penipu itu, lalu kuganti dengan nomor rekening Mas Arga. Ada sedikit kejanggalan, nomor rekening yang kulihat di hapenya dengan yang diberikannya berbeda. Tak peduli lah, toh uangnya juga kukirim ke rekening suamiku.


"Ini bukti transfernya ya Mbak. Aku akan menyimpannya. Aku harap, Mbak tidak terlambat membayarnya." Aku memperlihatkan nominal uangnya dengan menutupi nomor rekeningnya. Kalau ternyata ditipu, aku tak perlu susah payah menagih uangku. Kedua iparku langsung percaya lalu bicara ngehalu dapat mobil.


"Mbak, aku beli buah dulu yah," ucapku pada kedua iparku. Sengaja aku berhenti di belakang gerobak tukang sate. Benar dugaanku, mereka tak bodoh dengan langsung percaya isi SMS itu. Mereka sedang berkonspirasi lagi.


"Kamu liat kan Nadin! Syasa tak sepintar yang orang puji. Dia masuk ke perangkap kita. Nanti kita langsung belanja-belanja dengan uangnya itu," ucap Mbak Lasmi. Mereka tertawa cekikikan hingga orang yang lewat keheranan.


Hmm …! Sia-sia waktuku menemani mereka. Pantas saja penampilan mereka sudah sempurna. Baju cantik, make up'an dan lengkap dengan sepatu hak tinggi. Nya


Segera ku beli buah yang ku maksud dan menghampiri mereka. Ku Panggil ojek dan menungguku sebentar.


"Aku ambil ini sebagai jaminan ya Mbak! Aku duluan," ujarku setelah mengambil dompet Mbak Lasmi. Segera ku suruh ojek mengantarkan ku pulang.


Kasihan sekali. Kedua iparku pasti kebingungan mau pulang. Mbak Nadin tak bawa dompet, sedangkan dompet Mbak Lasmi sudah ada padaku.

__ADS_1


Kalian mau belanja-belanja kan Mbak? Selamat bersenang-senang! Selamat berjalan pulang dengan high heels, Mbak!


__ADS_2