
"Aduh kenapa Mbak?" tanyaku tanpa berusaha menarik tangan mereka. Bukan gak peduli, tapi tubuh kurus ku bisa ikut tersungkur menarik tangan Mbak Nadin yang tambun. Berat badannya saja sudah hampir satu kwintal. Dibawahnya, Mbak Lasmi yang memiliki berat badan lebih kecil dibanding Mbak Nadin meringis kesakitan. Malang sekali, dia ditindih gajah Thailand.
Aku mengulum senyum sementara Zaki sudah tertawa terpingkal-pingkal. Ia berlari mau ikut duduk di atas punggung ibunya. Mungkin Zaki mengira ibu sama budenya sedang main kuda-kudaan. Dengan sigap aku menahan Zaki untuk menghindari terjadinya patah tulang pada Mbak Lasmi. Aku tak berniat mencelakai mereka dengan serius. Hanya sedikit bermain-main agar tak keterlaluan pada iparnya.
"Kamu ini ya San, berat banget. Udah nindih aku malah keenakan gak mau geser. Lihat nih, lututku lecet dan bajuku kotor. Perutku juga sakit banget," sungut Mbak Lasmi setelah bisa bernapas lega. Berkali-kali ia meringis menahan sakit. Mbak Lasmi sudah mengepel lantai berminyak itu dengan baju mahalnya.
"Lain kali kalau ke rumahku pakai pakaian jelek aja Mbak." Aku bergumam sendiri. Setelah bersusah payah akhirnya Mbak Lasmi bebas juga. Zaki terus bersorak bagai melihat pertandingan gulat yang tidak seimbang. Anak ini sungguh polos sekali.
"Ya maaf Mbak. Aku udah mau geser kok tapi licin. Jadi aku kayak berenang di tempat," kekeh Mbak Nadin tanpa rasa bersalah. Ia harus memegang pintu agar bisa berdiri kembali.
"Duh siapa sih yang usil numpahin minyak depan pintu rumahku? Apa anak-anak ya Mbak?" ucapku polos tanpa dosa. Mata mereka melotot ke arahku sembari mengatupkan gigi menahan amarah. Aku yakin mereka curiga padaku, tapi karena sudah baikan, mereka enggan memarahiku. Syukurlah, telingaku mendapatkan haknya untuk hanya mendengar yang baik-baik saja. Setidaknya untuk pagi ini.
"Eh Zaki. Kita makan yuk kuenya. Kalian dari mana sih semalam?" ucapku mengalihkan pembicaraan sembari menyodorkan sepotong kue yang diberikan ibu dan budenya. Zaki dengan nafsu makan tinggi itu berbinar bahagia.
"Jangan …! Jangan dimakan ya Zaki. Itu untuk Tante Syasa sama Om Arga. Di rumah masih ada punya Zaki," larang ibunya ponakanku. Kelihatan sekali kalau ia khawatir anaknya makan kue pemberiannya sendiri.
"Gak apa-apa toh Mbak. Mas Arga juga gak terlalu suka kue. Anak-anak seusia ini enaknya makan aja, masa pertumbuhan Mbak." Melihat kami terus bicara, Zaki mengambil kue dari tanganku yang sukses membuat Mbak Nadin berlari menepuk tangan Zaki hingga kue itu terlempar. Aku begitu terkejut dengan reaksi Mbak Nadin yang menurutku berlebihan, kecuali ada sesuatu dengan kue ini. Mubazir sekali kuenya kalau akhirnya harus kubuang juga. Padahal dari tampilannya terlihat menggugah selera.
Aku memang curiga melihat gelagat mereka yang tiba-tiba langsung berubah baik. Kemarin kami baru saja berseteru. Rasanya mustahil manusia seperti mereka bisa berubah dalam sekejap. Aku memang akan membuangnya tapi karena takut su'udzon, aku kepikiran ngetesnya di depan mereka. Sekarang terbukti kalau hati mereka masih busuk. Untuk kedepannya aku tak akan makan apapun pemberian mereka kecuali makanan yang tersegel.
Mbak Nadin menarik tangan Zaki dan menyeretnya pulang walau balita itu menangis tak ingin ikut ibunya. Mbak Lasmi sendiri masih menggerutu karena harus mengganti bajunya yang terkena minyak bekas menggoreng ikan asin. Malang sekali.
__ADS_1
"Gak apa-apa Mbak kalau Zaki mau main disini. Dia lebih suka main denganku Mbak," sindir ku. Mata Mbak Nadin memelototiku yang membuatku membuang muka. Bukan takut, tapi karena aku tak ingin senyum tertahan ku terlihat olehnya.
"Dia ikut saja. Kami akan ke mall nanti. Zaki mau main di time zone gak?" rayunya pada putranya. Sontak saja Zaki langsung melompat kegirangan. Yes, mereka pergi membawa Zaki tanpa harus ku tolak untuk menjaganya. Ini yang aku harapkan. Sekarang aku bisa bernafas dengan lega.
Zaki sebenarnya menggemaskan tapi aktifnya luar biasa. Dia tahan berlari seharian dan membuang segala yang bisa dijangkaunya. Jadi, bila ia di rumahku, aku harus fokus mengurusnya. Bila lengah, aku harus mengeluarkan tenaga lebih banyak lagi untuk membereskan semuanya. Dan paling menyebalkan, dia sering berak di celananya. Menjijikkan.
Saat anak usia empat tahun itu di rumahku, aku sering memberikan pengertian kalau seharusnya ia bisa memberitahuku kalau mau ke toilet. Saat aku mengajarinya dan terkadang memberi hukuman, disaat yang sama ibunya datang dan memarahiku. Dia sih tahan karena memasangkan diapers ukuran paling besar untuk Zaki. Sedangkan saat di rumahku, anak itu sengaja tak memakai diapers. Diajari salah, mau pake diapers gak mau ngeluarin duit. Apa maksudnya kalau bukan ingin membuatku lelah? Menyebalkan.
***
'Hidup patut disyukuri walau punya ipar pemalas. Jagain anakku sebentar saja dia ogah. Kukutuk kau jadi agar-agar supaya bisa dimakan'
Caption kalimat pertama Mbak Nadin yang lagi berswa foto dengan Mbak Lasmi cukup bijak sekali, mengingatkanku untuk bersyukur. Aku hanya memikirkan kalimat pertama, tak peduli dengan kalimat berikutnya yang berisi racun dan hayalan.
Au ah.
***
"Sya! Lagi masak apa nih?" ucap Mbak Nadin yang masuk dari pintu dapur. Taktik Mbak Sania cukup bagus sekali. Ia membuatku lengah karena berpikir semua sudah normal. Beberapa hari ini mereka tak pernah menyusahkan ku walau tetap datang setiap malam mengunjungi ku dengan alasan-alasan yang tak masuk akal. Mungkin aku juga harus berbaik hati hari ini.
"Cuma telor balado Mbak. Mbak mau?" tawarku sambil mengambil sebuah piring kecil. Telor balado cukup disukai suamiku sehingga bagiannya harus dua biji sekali makan.
__ADS_1
"Gak usah repot-repot. Mbak aja yang ambil Dek. Kamu cuci aja piringmu itu," ucap Mbak Sania melarang ku. Ku Letakkan piring kecil itu lalu mencuci piringku. Tak lama kemudian saat aku menoleh, Mbak Sania telah pergi tanpa pamit. Saat aku memeriksa sambalku, aku kaget karena hanya menyisakan 2 biji telor balado. Padahal aku aku tadi memasak delapan biji untuk lauk sampai siang. Kebetulan hari ini minggu, aku dan Mas Arga belum sarapan. Gara-gara Mbak Nadin aku harus masak lagi untuk makan siang. Menyebalkan.
"Dek, masak telornya kok cuma dua. Kamu kan tahu mas suka telor," tanya suamiku heran. Ia tak tahu saat di kamar mandi tadi, kakaknya sudah menggondol masakanku. Padahal cuma telor.
"Maaf Mas! Aku tadi udah masak banyak. Nanti aku masak lagi ya."
"Sudahlah Dek. Nanti kita makan di luar aja," pungkas suamiku lalu menyantap lauk seadanya itu.
🌈🌈🌈
"Kamu jahat ya Sya. Gara-gara kamu Zaki jadi sakit perut. Sambalnya kamu pakai cabe rawit kan?" seru Mbak Nadin saat aku dan suamiku sedang bercengkerama.
"Iya Mbak. itu kan kesukaannya Mas Arga," jawabku sembari melirik suamiku yang keheranan. Kami berdua memang pecinta pedas.
"Udah tahu anak saya nggak suka pedas, kenapa kamu kasih cabe rawit. Kamu ingin anakku sakit agar sama kayak kamu tak punya anak?" hardik Mbak Nadin nyelekit hati. Apa dia tak pernah bersisir sebelum berkaca, berpikir sebelum berucap.
"Lho aku kan masak untukku sama suamiku bukan untuk Mbak dan keluarga," sahutku tak terima dituduh ingin mencelakai.
"Lihat istri kamu Arga. Dia makin kurang ajar sama Mbak. Harusnya kamu didik jangan cuma cari duit aja. Itu tanggung jawab kamu lho Arga." Mbak Nadin sok menasehati. Suamiku ingin menjawab hingga suara yang lain teriak.
"Ibuuuu! Katanya Zaki gak boleh keluar karena Ibu mau beli es krim. Kok malah ke rumah Tante?" Aku, Mbak Nadin dan Mas Arga sama-sama terkejut. Kebohongan terbukti tanpa harus ku buktikan.
__ADS_1
bersambung