
Setelah kepergian mertuanya Sindy, memutuskan untuk tidak memasak karena semua bahan masaknya sudah berpindah rumah.
Adam, tak mempermasalahkannya, karena hari ini hari libur Adam bekerja, dan dia memiliki bonus yang cukup banyak adam berencana akan mengajak istrinya makan di luar.
“sayang ayo siap siap kita pergi ke café yang dekat dengan rumah mamah” ajak Adam
“café yang dekat dengan rumah mamah?” Tanya Sindy
“iya, kata teman teman mas tempatnya asik” ucap Adam.
“Iya ayo mas aku siap siap dulu" balas Sindy
gegas Sindy bergantian pakaian dan tak lama Sindy sudah siap dengan pakaian yang lebih rapih.
memakan waktu 35 menit menuju ke cafe yang di maksud Adam. Sebenarnya cafe itu adalah usaha keluarga Sindy, yang sengaja tidak di beritahu kepada Adam.
Tak lama mereka berdua Samapi di depan cafe, beruntungnya Sindy semua karyawannya cafe belum ada yang mengenalinya, jadi dia bisa leluasa makan di tempat itu tanpa takut, di ketahui oleh suaminya. Jika cafe ini juga salah satu usaha orang tuanya.
...Flash back ...
__ADS_1
Sebelum membangun cafe dan usaha lainya yang sekarang sudah ramai Sindy, dan orang tuanya dulu hanya orang biasa.
Ayah Sindy berjualan besi tua, namun tak sesukses orang orang, Jualannya hanya cukup untuk sehari hari dan sekolah kedua anaknya, ibu Alma, hanya ibu rumah Tangga biasa.
Namun di saat usaha suaminya mengalami kegagalan.
berkat ketelitiannya membaca peluang usaha, Bu Alma nekad berjualan Nasi membuka rumah makan kecil kecilan.
berkat kegigihannya kehidupan keluarga Sindy bisa menjadi lebih baik, bisa mencukupi kebutuhan anak anaknya.
semakin hari warung nasi semakin ramai, Bu Alma juga wanita yang pandai bersyukur dan mengelola keuangannya. di saat Sindy mengatakan akan membuka usaha beliau dengan sigap memberi tempat dan modal bahan bangunan untuk membangun usahanya.
"kita pergunakan uang itu dengan bijak, nak kamu belikan tanah saja di sebrang warung makan Tanah itu akan di jual, pak haji Muis sedang membutuhkan uang. untuk sekolah anaknya di luar negri" balas Bu Alma
"iya mah, aku manut aja sama mamah, lagian uang ini jelas punyaku, tanpa menyatu dengan uang mas Adam" balas Sindy
"yaudah mamah mau lanjut masak dulu" ucap Bu Alma.
...Flash back OFF...
__ADS_1
Ruko yang berderet di sisi kanan rumah makan adalah miliknya, sedangkan ruko yang berderet di seberang jalan adalah milik Sindy, Sindy wanita cerdas seperti ibunya, semua uang yang ia hasilkan dari menulis ia belikan tanah, lalu membangun beberapa ruko untuk di kontrakkan. suaminya Adam tak mengetahui semua ini, bukan karena Sindy ingin membohongi suaminya sendiri, namun semua ia lakukan karena ia tau ibu mertua pasti akan mengambil semuanya.
Sekarang Sindy, benar benar menikmati hasilnya setelah perjuangan menulis yang ia lalui.
"gimana dek, kamu suka gx sama tempatnya" ucap Adam ketika mereka masuk dan duduk di dalam cafe.
"suka mas, tempatnya, nyaman bgt dan bersih" balas Sindy
setelah kedua pasang suami istri duduk tak lama Seorang Waiters menghampiri mereka membawakan buku menu memberikan kepada Adam.
gegas Adam memilih makanan kesukaannya yaitu nasi goreng seafood, sedangkan Sindy memilih ayam Rica Rica dan mereka kompak memilih air mineral
Di tempat lain
Bu Sela, dengan bangganya memamerkan beberapa perhiasan yang baru saja di belinya. Sedangkan Anggi hanya diam duduk sesekali mengecek karyawannya di kedai, melalui handphone, Boba miliknya setelah di tinggalkan Devan, Kini Anggi hidup lebih berkecukupan.
Bu Sela dengan teman teman arisannya begitu antusias membahas soal perhiasan dan Berlian.
tak jarang Bu Sela, dapat tawaran dari Anggi, untuk membelinya.
__ADS_1